“2 hari. Janji itu kamu penuhi, Ota,” kalimat Rowan membuatku tersadar.
Saat membuka mata, aku tahu aku tidak sedang berada di rumah. Tidak pula ada di Gua Kelelawar tanpa cahaya. Melainkan Pohon Besar milik Peri Hujan yang sudah kulihat kemarin sore.
“Ota! Akhirnya kau bangun!” Almond muncul dari balik daun. Tempatku berada sekarang adalah daun Pohon Besar yang dijalin menyatu membentuk kepompong daun. Seharusnya aku terlalu berat untuk berada di sini.
“Memangnya sudah berapa lama aku tertidur? Ini pertama kalinya aku tertidur seumur hidupku. Rasanya menyenangkan, tapi mengerikan.”
“3 hari. Sulit membangunkanmu karena kau tak mudah menyerap air.”
“Apa??! 3 hari? Tunggu, aku harus kembali ke Kerajaan Kentang,” ucapku buru-buru.
“Tidak! Kau tetap di sini untuk sementara. Ada Peri yang sangat ingin bertemu denganmu. Mari kuantar,” katanya sambil menarikku keluar.
Kami terbang ringan menjauhi kepompong duan tempatku tertidur sebelumnya. Almond terbang begitu tinggi menelusuri batang Pohon Besar, hingga akhirnya kami sampai di bagian paling atas. Aku tercengang, tempat itu terlalu indah.
Dedaunan dijalin dengan indah namun tidak berlebihan. Tidak pula membuat Pohon Besar terlihat aneh. Sulur-sulur hidup tumbuh disana sini, membentuk lentera dengan kunang-kunang yang menempel senang, membentuk tangga, membentuk pintu, dan segala macam bentuk. Sulur itulah yang sebenarnya membuat tempat itu terlihat seperti istana. Sedangkan dedaunan dari Pohon Besar tetap bertengger apa adanya. Aku hanya bisa ternganga dan kagum.
“Ayo,” ajak Almond yang menunjuk ke arah tangga.
Saat aku melangkah di atasnya, aku bahkan tidak mengira jika sulur itu tetap bergeming, padahal aku jelas bukan jenis sayur yang ringan. Setelah beberapa saat kami berjalan, akhirnya kami sampai di semacam tempat luas yang menghadap ke selatan, ke tempat tadinya aku datang.
“Adikku amat sangat ingin bertemu denganmu. Kau tahu, alasan mengapa aku bisa menerimamu waktu itu, adalah karena aku merasa pernah mengenalmu. Dan ternyata kita memang pernah bertemu dan berteman saat kecil dulu.”
“Apa??” tanyaku bingung. Tapi ia hanya tersenyum dan berlalu pergi.
Dan dalam kebingungan itu aku melihatnya! Aku mengenal sosok itu. Entah bagaimana aku tahu jika itu Peri Hujan yang kucari. Dan tiba-tiba, ia menoleh padaku, dan matanya membulat seketika karena begitu gembira.
“OTA!!” katanya terbang menghambur memelukku. Aku masih diam tidak mengerti.
“Ka, kamu….”
“Edel, diambil dari nama Bunga Abadi paling indah, Edelweiss. Apakah kau lupa? Dulu kita sering pergi bersama-sama, menjelajah Hutan Besar di belakang Kerajaan Kentang. Dulu sekali, saat aku baru bisa meneteskan gerimis, saat belum ada daun di kepalamu, saat aku hanya Peri kecil yang sok tahu.”
Dan seakan ada tirai besar yang terangkat, segala ingatan itu kembali. Aku ingat! Aku ingat pertemuanku dengannya di musim kemarau itu, saat ia baru bisa meneteskan beberapa tetes air di atas kepalaku. Saat ia masih baru belajar sehingga tidak bisa menyembunyikan dirinya. Saat ia mengajariku tentang jejak hujan dan Bukit Hujan. Dan segala kejadian setelah pertemuan itu, hingga aku selalu yakin jika aku bisa bersama Peri Hujan. Karena memang itu pernah terjadi. Hanya saja aku melupakannya.
“Kau tidak bisa bersama Peri Hujan. Mereka Makhluk Mulia, sedangkan kita hanya Kentang. Apa yang kau pikirkan? Kita hidup di kasta paling bawah, Nak, sedang mereka yang mengatur segalanya di sini. Bangunlah, itu tidak akan pernah terjadi, jadi jangan bermimpi terlalu tinggi.”
Hanya sekali itu ayah berkata tentang Peri Hujan. Tapi dengan kalimat panjang itu pula aku langsung tersadar jika aku terlalu berharap. Dan sejak itu pula aku tidak pernah lagi pergi ke Hutan Besar.
“Ka, kau Peri Hujan, dan aku Kentang,” gumamku tanpa sadar.
“Lalu kenapa? Peri Hujan pun pernah jatuh cinta pada Kentang. Dan bukan hanya kita yang pernah jatuh cinta pada bangsa yang berbeda,” ungkapnya.
Mau tak mau aku tersenyum. Sekarang aku tahu bagaimana perasaan kakak kala itu. Kentang dan Umbi, bersaudara tapi bermusuhan. Dan sekarang yang terjadi padaku jauh lebih menakjubkan. Peri Hujan dan Kentang, dua bangsa dengan rentang kasta terjauh.
“Dan Kentang juga pernah jatuh cinta pada Peri Hujan. Aku tanpa sadar selalu mengingatmu dan bahkan hafal jejak hujan yang kau tinggalkan.”
Ia tertawa. Tawa yang renyah dan indah. Maka hal berikutnya yang kusadari adalah aku telah terbang bersamanya, melayang-layang ringan mengelilingi Pohon Besar. Sungai Besar telah kembali mengalir, dan hujan sudah turun. Kami selamat. Seluruh Negeri Sayur Mayur selamat.
Dan maka, tidak ada lagi cercaan tentang Peri Hujan dan Kentang. Kini setelah bertahun-tahun sejak peristiwa itu, kau tidak akan menemukan Harman Si Pendongeng lagi. Ia telah tiada dengan perasaan bangga, digantikan oleh Rowan Si Penyampai Cerita yang tidak pernah ada hentinya menceritakan kisah Peri Hujan dan Kentang. Dan adikku Karen, selalu mendampingi kemana pun ia pergi.
*end of story*
Pesan dari penulis:
Cinta itu bukan mengenai kesamaan, tetapi perasaan
Itu juga bukan tentang pandangan, tetapi tatapan yang dalam
Bukan juga melulu tentang perhatian, tetapi pengertian
Pun bukan juga hanya rengekan, tetapi kepedulian
Dongeng ini tidak pernah bermaksud untuk saya cipta dengan sengaja. Itu mengalir begitu saja seperti setiap kali saya ingin membuat cerita. Saya hanya ingin bercerita, jika tiada kecuali di antara kita semua memiliki perasaan serupa, hanya kadang kita sengaja sadar atau malah lupa. Kadang perjuangan terasa biasa saja, tapi seringnya hati meronta karena merasa telah melakukan segalanya.
Ota dan Edel hanya contoh, sama seperti Wall-E dan Eva. Keduanya tidak sama, tidak pula mampu menyatu selayaknya manusia. Tapi hanya itu saja. Tidak ada yang mempermasalahkan jika mereka hanya bisa bersama, karena memang hanya itu yang dibutuhkan.
This fairy tale is dedicated to everyone who has a complicated love story around me. I just thought that you all just too far to think about it. You have known each other, so what else you are waiting for? Just go ahead.
Tapi,
Bersama tidak selalu berarti cinta
Tidak pula berarti harus selalu ada
Itu lebih pada rasa percaya, rasa setia,
Serta tanggungjawab
Pun demikian
Saat kalian selesai membaca
Saya tidak butuh kalian percaya
Karena hal yang saya butuh sederhana
Kalian membaca dan tersenyum saja
Terima kasih atas waktu yang kalian sempatkan untuk membaca dongeng ini. Ota dan Edel begitu berterimakasih pada kalian….

one word, daebak..
reading this story made me realize something..
nothing is impossible if we believe we could.. awww, I wanna be like Ota~! T.T
anyway, thank you for sharing, onnie ^^
indeed…
keep dreaming people!
so, keep our dreams, even if you think that sometimes its sound crazy
but when we believe, everything in this world will help us to reach that dream in someway we never know…
hai, aq eli yg sm2 nulis ttg peri hujan
wah,, endingnya bgs,, ide ceritanya rame loh,,~^^ klo d bkin novel jg keren nh
haaaaiii…
makasih banyak udah berkunjung.. padahal dulu aku cuma iseng nyari orang yang juga nulis tentang peri hujan…
makasih juga udah komen ya…
iya, pengennya mau dibikin lebih panjang, tapi takut nggak selesai kalo kepanjangan, seperti cerita sebelum-sebelumnya,,,, ehehehe…
:3