It is (Just) A Tree

by nuzuli ziadatun ni'mah


Selama sejarah hidup manusia yang sangat panjang dan tak diketahui siapapun, ada makhluk lain yang menopang segalanya, dan orang-orang memanggilnya dengan sebutan “pohon”.

Betapa semua makhluk di bumi ini sangat bergantung padanya, tapi tak banyak yang menyadari hal itu. Orang terkadang menganggap pohon hanyalah sebuah kata tak berarti yang juga ikut meramaikan dunia ini dengan warna hijaunya yang sudah sangat terkenal di seantero jagad raya. Tapi, tak banyak dari mereka yang berusaha memahami bahwa pohon adalah penopang hidup mereka.

Ingat! Jika tak ada pohon, dari mana datangnya oksigen yang sangat dipuja itu? Yang setiap detiknya diserap hemoglobin dalam darah dan mengalir dalam setiap pembuluh kita—menghidupi setiap sel dalam tubuh kita. Di mana kita akan berteduh jika dahan dan dedaunan itu tak ada? Dari apa makanan dapat dibuat? Jika tak ada tumbuhan, tak akan ada makhluk hidup lain yang hidup, dan tak akan ada sesuatupun yang dapat kita makan.

Perhatikanlah! Jika kalian ingin menyadari, tataplah dirinya yang selalu berdiri tegak di atas tanah, menghidupi sejuta kehidupan dan menjadi saksi atasnya.

Dedaunan mereka tak satupun yang tak berguna. Pada siang hari mereka memberi kita oksigen yang dapat menghidupi kita—terkadang hingga lebih dari seratus tahun. Pucuk-pucuk dedaunannya kita olah untuk kita makan. Dari sela-sela daun muda mereka, muncullah bunga-bunga mungil indah nan menawan yang wanginya dapat menarik setiap jenis serangga di sekitarnya—bahkan manusia yang selalu ingin segalanya, termasuk wangi setiap bunga. Maka para homo sapiens ini mengembangbiakkan mereka untuk diambil sari-sari bunganya—menjadikannya parfum. Beberapa lain yang tak beraroma mereka tinggalkan, dan akan ada lebih banyak yang datang kemudian dengan terbengong-bengong melihat buah yang terbentuk darinya. Mereka akan memetiknya dan dengan ragu-ragu melahapnya. Pastilah tak lama kemudian, secara berduyun-duyun mereka mengembangbiakkannya untuk diambil buah-buahnya, bagaikan serigala rakus yang mengambil anak ayam dari induknya.

Pada malam hari, dedaunan ini memiliki tugas lain. Mereka menjadi tempat tinggal para burung yang sedang mengerami telur mereka. Ia meneduhi mereka dan memberi mereka apapun yang mereka butuhkan. Makanan, tempat tinggal, air—dari cerukan di batang pohon, dan juga oksigen. Ada pula saat di mana pohon menjadi tempat berlindung dari terpaan badai dan angin yang semakin mengganas saat memasuki musim hujan. Adakah ia mengeluh? Tidak!

Ranting-rantingnya merupakan pembuluh yang menyalurkan segala yang dibutuhkan dedaunannya, dan begitu pula manfaatnya untuk makhluk hidup lainnya. Ranting-ranting itu merupakan tempat para burung dan serangga meletakkan kaki mereka dan berdiam diri. Tak lupa mereka akan meninggalkan kotoran dan luka pada ranting-ranting yang kecil dan kokoh itu. Membuatnya terlihat semakin kusam dan berceruk.

Dahannya yang lebih besar menghidupi para manusia yang bekerja sebagai buruh atau berpenghasilan rendahan. Para manusia seperti itu akan dengan sangat bersemangat mengumpulkan dahan-dahan mereka sebagai ganti minyak tanah yang harganya semakin tak terkendali. Tetap membuat dapur rumah mereka yang hitam dan kotor tetap mengepulkan asap.

Batang mereka merupakan bagian pokok kehidupan. Semua orang menggunakannya. Banyak orang yang dengan sengaja menumbangkan mereka untuk dibangun menjadi tempat tinggal yang mewah nan megah. Banyak pula yang menyulap mereka menjadi furniture-furniture dengan kerumitan yang hanya bisa dipahami mereka yang para ahli.

Akar-akar mereka yang kokoh menopang kehidupan di atas mereka dan di sekitarnya. Akar menahan batang kokoh dan rimbun dedaunan yang lebat di atasnya agar terus tegak menantang langit yang selalu tak terduga. Saat musim kemarau panjang, akar akan berusaha dengan sangat keras menerobos tanah hingga bagian yang paling bawah agar dapat menemukan air. Saat musim hujan tiba, mereka harus menahan batang di atasnya dari badai yang semakin menggenas. Tak pelak saat mereka harus memberikan perlindungan pada tikus-tikus tanah yang sangat giat menggerogoti mereka.

Lalu, apa salah mereka hingga harus dibantai??

Begitu banyak orang tak tahu yang dengan seenaknya membunuh mereka dan menjadikan tempat hidup mereka sebagai pemukiman. Membuat setiap makhluk yang selalu menemani mereka meninggalkan mereka dan kehilangan tempat tinggal. Memaksa batang-batang mereka untuk dijadikan bahan dagangan yang akan laku sangat mahal di pasaran. Membuat sang penjagal menjadi kaya raya.

Lalu apa salah mereka hingga tak banyak dari para penghuni planet ini yang menghargai mereka? Entah.

Mereka hanya dapat menjalani hidup mereka dengan kebisuan dan kepasrahan. Tuhan tak memberi mereka kemampuan untuk dapat mengungkapkan pandapat mereka. Yah, itu pasti ada alasannya. Tuhan tahu segalanya.

Kini tak banyak yang masih bertahan di bumi ini. Banyak dari makhluk bernama pohon itu yang telah tumbang dan tak ada yang menggantikan mereka. Maka, saat kini dunia mulai dilanda global warming—suatu istilah yang begitu popular di kalangan masyarakat dengan kepandaian rata-rata ke atas—orang mulai kembali memerhatikan mereka. Menyadarkan diri bahwa yang selama ini selalu menghidupi mereka telah mereka telantarkan.

Maka, hidupkanlah kembali hutan-hutan itu. Bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali? Jangan pernah mengeluh, layaknya sebuah pohon. Jadilah orang yang bermanfaat bagi makhluk lain, karena merekalah sebaik-baiknya manusia, seperti pohon menghidupi makhluk Tuhan lainnya.

Hidup yang penuh dengan perjuangan sangat berat ini, hadapilah dengan tabah dan pasrah, seperti pohon.

Hiduplah seperti pohon dan belajarlah dari mereka.

note: kyaa….. tulisan ini terlalu serius… ^^,