4 Jam yang Sia-sia

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ternyata, punya rumah di pelosok beneran bikin susah. Gimana nggak?! Buat sampe ke kota aja butuh waktu 2 jam kalo naik bus. Terlebih setelah insiden tabrakan, aku nggak berani naik motor jauh-jauh…. Trauma. Makanya, pas Anik mau ke rumahku, aku harus menjemputnya naik bus.

Sebetulnya aku berencana berangkat pukul 10.20. Tapi temennya adikku datang ke rumah nyari adikku. Berhubung rumah lagi nggak ada orang sama sekali, akhirnya aku mencari adikku beberapa saat. Tapi akhirnya nggak ketemu, dan temennya pun pulang. Sudah pukul 10.40. Aku sudah membuang waktuku cuma buat muter-muter nyari adikku. Lalu aku segera bergegas karena sepertinya udah lumayan telat buat jemput Anik di terminal.

Maka aku langsung bersepeda sejauh 1 km untuk mencapai jalan raya. Mungkin emang hari itu bukan hari yang menguntungkan untukku karena butuh waktu 15 menit buat nunggu bus. Udah gitu, hp ku nggak bisa nyala lebih dari 10 detik. Sepanjang jalan aku mencoba menyalakan hp ku berulang-ulang, tapi tetap saja nggak beres. Akhirnya aku pasrah, berharap Anik nggak menunggu terlalu lama dan bus yang kutumpangi segera sampai ke terminal.

Setelah satu jam lebih naik bus, akhirnya aku sampai di terminal. Kami memang berencana bertemu di luar terminal, tapi aku memutuskan untuk masuk ke terminal karena nggak yakin. Aku berkeliling mencari Anik di bagian bawah terminal. Lalu aku memutuskan untuk ke ruang tunggu.

Ternyata susah juga menemukan sosok Anik yang mungil (ampun Nik!). Akhirnya aku memutuskan untuk menyalakan hp ku lagi dan mengingat nomer hp Anik. Butuh beberapa menit untuk mengingat nomer hp Anik dengan benar.

Trus aku melenggang mencari wartel di dalam terminal. Pas mau nelpon, aku lupa nomernya lagi. ^^, Aku bahkan bermeditasi sebentar di dalam bilik wartel sambil mengingat-ingat. Sebetulnya aku juga agak nggak ngerti cara nelponnya. Maklum, itu pertama kali aku nelpon di wartel (sumpah ya, aku norak banget!). Setelah mengetik nomernya, aku bingung, gimana cara nyambungnya ya? Ternyata nggak perlu dipencet apa-apanya, langsung bisa nyambung! Hohoho…

Ternyata Anik memang berada di luar terminal. Lalu aku merasa mendengar ada seseorang yang berbicara di sampingnya, yang kucurigai sebagai ibuku. Setelah kutanya, ternyata emang iya. Jadi karena hpku nggak bisa dihubungi, Anik telpon ibuku. Trus akhirnya dijemput ibuku di luar terminal. Saat kutelpon, keduanya sudah naik bus. Akhirnya aku memutuskan naik bus jurusan Tempel yang memotong jalur bus Srandakan. Sewaktu ganti bus, aku naik ke bus yang sama seperti saat berangkat. Bahkan sopirnya melambaikan tangan saat melihatku di tepi jalan. Hhahaha….

Sopir yang ramah.

Sesampainya di tempat aku nitipin sepeda, aku tidak menemukan keberadaan Anik. Mereka sampai beberapa menit setelah kedatanganku. Sungguh siang yang melelahkan. Aku telah menghabiskan waktu 4 jam hanya untuk menjelajahi jalur bus Srandakan-Jogja!!