Anak Hilang

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudut pandangku dan adekku….

Aku         : Yan, sms Icha dong, dah sampe mana?

Fian         : Ok!

Adekku pun segera sms Icha. Dia bermaksud menjemput kalau saja Icha lupa jalan menuju rumahku yang nyempil dan agak susah dicapai. Tapi ternyata Icha nggak membalas sms. Kami pun dengan tenang melanjutkan perbincangan sambil menunggu kedatangan Icha. 20 menit kemudian adekku menerima sms dari Icha:

Wah aku nyasar total. Nggak tau jalan ni!

Kami cukup panik sewaktu membaca sms Icha. Fian pun bertanya di manakah posisinya berada. Tapi ternyata Icha juga nggak tahu arah! Kami saling pandang dan geleng-geleng nggak percaya. Masa di daerah yang hanya berjarak 3 km dari rumahnya, Icha bisa nggak tahu arah?! Meski kedengaran nggak mungkin, tapi nyatanya emang dia nggak tahu arah. Ternyata setelah pencarian selama 30 menit lebih, adekku menemukan Icha, 1 km lebih jaraknya dari rumahku. Icha yang berangkat dari rumahnya pukul 3 sore, sampai di rumahku jam 5. Dia nyasarnya jauh banget!

Sudut pandang Icha….

Ketika menerima sms dari adekku, Icha sebetulnya sudah setengah jalan menuju rumahku. Tapi ia memang sengaja tidak membalas karena merasa masih ingat jalan. Tapi ketika sudah masuk desa tetangga, Icha jadi bingung. Ia yang seharusnya belok di belokan ke tiga, malah belok di belokan kedua. Ia hanya mengingat-ingat ucapanku, “kalo udah masuk ke desa, tinggal belok kiri-kanan-kiri-kanan, trus sampai ke sawah, tinggal ngikutin jalan trus sampe.” Tapi karena emang sudah salah belok, makanya Icha jadi keterusan dan mengikuti jalan yang salah.

Alhasil, dia nyasar lebih dari 1 km dan benar-benar nggak tahu arah dan tempatnya berada. Gara-gara sotoy juga sih, akhirnya jadi anak hilang betulan….

“Aduh, Cha, kamu itu ya…!”