Sebuah Catatan untuk Pemerintah

by nuzuli ziadatun ni'mah


Pernah nggak kepikiran sesuatu sewaktu kita ngeliat sekitar kita?? Katakanlah sewaktu kita ngeliat tanah terbengkalai di sepanjang jalan.

Ya, beberapa hari yang lalu aku tanpa sengaja menyadari bahwa ternyata, di negara kita masih banyak tanah kosong milik pemerintah yang masih belum dimanfaatkan. Liat aja di kanan kiri jalan. Banyak banget tanah kosong yang terbengkalai dan gersang. Padahal di papannya tertulis DILARANG MASUK TANAH MILIK PEMERINTAH. Coba kita pikirkan lagi, pemerintah punya tanah kosong, sementara masih banyak orang yang tidak punya rumah di Indonesia.

Jadi aku perpikir, bagaimana kalau pemerintah menyewakan tanah untuk mereka. Pemerintah bisa membangun rumah penampungan di sana. Orang-orang yang tidak punya rumah itu bisa diberikan pinjaman tanah untuk diolah oleh mereka. Lagipula memberikan pengetahuan bertani juga tidak sulit. Dengan banyaknya pekerja dan tanah yang terbengkalai, kurasa banyak yang bisa mereka hasilkan. Siapa tahu jika hal itu diterapkan ke semua daerah, kebutuhan bahan pangan Indonesia akan sangat mencukupi dan mungkin bisa mengekspor. Selain itu, para gelandangan dan pengamen yang sering ditertibkan pasti akan melakukan pekerjaan mereka lagi jika sudah keluar dari tempat rehabilitasi. Maka daripada petugas penertib harus bekerja dua kali, lebih baik mereka di pekerjakan bukan?

Tanah yang sudah gersang dan tidak bisa diolah lagi juga bisa ditanami kembali, dihijaukan. Banyak program sebetulnya yang bisa diterapkan agar penghijauan bisa terus berlangsung. Satu bibit pohon tidaklah mahal. Katakanlah setiap siswa di seluruh sekolah di Indonesia diwajibkan menanam sebuah pohon, bukankah itu bisa sangat membantu? Meski terdengar mustahil, pada kenyataannya ada seorang bapak yang tinggal di tanah yang tandus dan berhasil menghijaukan desanya hingga akhirnya mendapat penghargaan kalpataru. Sayangnya, pemerintah tidak memperhatikan dan tidak mencoba untuk menerapkannya di berbagai tempat.

Suatu kali aku pernah bertemu dengan penjual mainan kayu di sebuah tempat wisata. Saat kami bertanya siapa yang membuatnya, bapak itu menjawab bahwa anak-anak yang sudah putus sekolah dan tidak punya keluarga-lah yang telah membuatnya. Bapak itu, meski usianya sudah 103 tahun, beliau tetap terlihat sehat dan bahkan kuat berpuasa. Beliau sudah pensiun berpuluh-puluh tahun yang lalu dan mulai merintis usaha itu dengan membiayai anak-anak jalanan dan anak-anak putus sekolah. Beliau membiayai biaya hidup mereka dan mereka membuat mainan yang berkualitas sebagai balasannya. Kini usaha itu sukses besar, bahkan hingga diekspor ke mancanegara.

Jadi, sudah terbukti bukan? Dengan pengajaran yang tepat, semua orang bisa berguna. Bahkan anak jalanan dan putus sekolah yang sering kali tidak dipandang bisa mengbuat barang yang belum tentu bisa dibuat lebih baik oleh orang yang lebih berpendidikan. Jika saja pemerintah mau berpikir untuk itu, mungkin industri kecil menengah di Indonesia punya banyak perkembangan.

Aku tahu kalo melakukan itu semua butuh banyak biaya dan tenaga, serta waktu yang tidak singkat. Tapi jika hal itu tidak dimulai dari sekarang, bagaimana Indonesia di masa yang akan datang?

Saat ini mahasiswa sering kali berdemo dan tidak pernah mendapat tanggapan pemerintah. Mungkin akan lebih baik jika mereka langsung bertindak tanpa memedulikan pemerintah. Tapi pemerintah juga harus sangat sadar, bahwa mereka adalah wakil rakyat. Bukankah sangat memalukan jika foto para wakil rakyat kita yang kita pilih terpampang di cover depan buku PKN saat ia sedang tidur dalam rapat kenegaraan?

Jika pemerintah mengeluhkan biaya, bukankah kita juga punya pertanyaan besar: jika pemerintah bisa memberikan tunjangan untuk wakil rakyat dengan mudah, kenapa mengeluarkan biaya untuk rakyat tidak mampu?