Wanita Perkasa

by nuzuli ziadatun ni'mah


Suatu malam, aku, adik, dan ibuku sedang asyik menonton TV sepulang tarawih di masjid. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku lahir di bulan Ramadhan. Jadi aku kepikiran bagaimana ibuku dulu menjalani bulan puasa saat kehamilanku. Akhirnya saking penasarannya, aku memberanikan diri untuk bertanya pada ibuku.

Aku        : Bu! Dulu pas hamil aku, ibu puasa nggak?

Ibu         : Kenapa tanya-tanya?

Aku        : Cuma pengen tau. Jadi, puasa nggak? Atau bayar fidyah?

Ibu         : Puasa lah!

Aku        : Ha?? Pas hari aku lahir juga?

Ibu         : Lha yo….

Aku        : Sekalipun nggak bolong?

Ibu         : He-eh….

Percakapan yang singkat. Tapi sudah cukup untuk membuatku mengagumi ibuku.

Nenekku pernah cerita, saat aku lahir, ibuku baru saja shalat tarawih di masjid. Lalu ibu segera dibawa ke puskesmas di kecamatanku. Saat itu bahkan bapakku sedang nggak ada di rumah. Aku lahir beberapa menit lewat tengah malam tanggal 17 Ramadhan. Karena itulah namaku Nuzuli. Ternyata, dua tahun sebelumnya, ibuku juga melahirkan kakakku di bulan Ramadhan. Saat itu pun ibuku tidak merelakan satu hari pun dengan tidak berpuasa sampai kakakku lahir. Bahkan ibuku harus membatalkan puasanya pukul 5 sore karena harus melahirkan kakakku.

Ternyata, tanpa kusadari, aku sudah melewatkan banyak hari selama hidupku dengan marah pada ibuku tanpa memikirkan perjuangannya selama mengandung diriku. Sekarang, aku menemukan sosok wanita yang menurutku paling perkasa. Ibu.