Another 14 Hours

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah menjadi kebiasaan bagiku menempuh perjalanan jauh sejak aku dengan sangat tidak terduga terjerembab masuk ke SMA yang sekarang aku tempati. Bahkan jika kuingat kembali, aku bahkan sudah melakukan perjalanan itu selama dua setengah tahun terakhir.

Padahal simple saja hal yang aku lakukan, duduk dengan tenang dan menunggu mesin besar itu merangkak menjauhi kampung halamanku yang sangat aku rindukan. Berada di rumah sendiri bagiku adalah kesenangan yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun juga. Menikmati hijaunya dedaunan di depan rumah yang sangat lebat—sampai-sampai hampir mirip hutan, mendengarkan candaan di antara kami, dan bermanja-manja dengan keluarga. Sesuatu yang tidak bisa aku dapatkan di asrama.

Selama perjalanan panjang itu, apa lagi kalo bukan duduk termenung, menunggu 14 jam itu berlalu dengan cepat dan akhirnya bisa berdiri di atas tanah lagi. Benar-benar tidak mengenakkan berada di bus sebetulnya—atau kendaraan apapun itu. Karena keadaan yang tidak stable, kalo turun dari bus, rasanya masih bergoyang-goyang kayak pas masih naik bus. Itu dia sensasi yang nggak pernah aku suka.

Meski dulu aku punya sindrom mabuk kendaraan kalo kemana-mana, tapi beruntung sekali, justru karena aku sekolah di SMAku yang sekarang, aku bisa menyembuhkan sindrom berkendara itu. Hehehe….