Just A Simple Sentence

by nuzuli ziadatun ni'mah


Dunia ini sering kali membuat orang lupa diri, dan itu telah terbukti hampir pada semua orang, bahkan aku pun demikian. Tapi entah mengapa aku selalu tidak bisa mengalahkannya. Berapa kali pun aku berjanji, berniat, dan berusaha, aku selalu terbelenggu di dalamnya.

Pernah suatu kali aku membaca buku dan di sana tertulis,
‘dunia ini hanyalah milik anak-anak’.

Itu adalah sebuah kalimat sederhana, tapi sudah sangat mengubah pikiranku. Meski aku tahu tidak sepenuhnya benar, tapi ada banyak hal masuk akal yang mendasari kalimat itu.

Saat aku masih kecil, berapa banyak pun pertanyaan yang ada di pikiranku, aku tetap merasa tenang. Tetap bisa bermain tanpa beban, tertawa, tanpa peduli pada hal yang tidak kita mengerti. Tapi semakin kita beranjak dewasa, pikiran kita akan terus berkembang, terus bertanya tentang banyak hal yang tidak kita ketahui, terus mengejar jawaban atasnya, dan terus memikirkan resiko dan langkah yang akan kita ambil ke depannya. Sebuah hal yang sederhana memang, tapi berarti sangat banyak.

Dulu kita mungkin bisa melanggar sesuatu karena kita tidak tahu, tapi saat kita beranjak dewasa—remaja—hal itu tidak akan berlaku lagi. Sejak memasuki masa remaja, pikiran kita akan terfokus pada beberapa hal, tentang hidup, masa depan, dan sesuatu yang kita jalani. Bahkan tak jarang kita harus menjaga orang yang lebih muda dari kita, memikirkan banyak kemungkinan, resiko, dan hasil yang mungkin akan kita capai. Kita mulai memasuki ‘dunia nyata’, dunia yang benar-benar bukan tempat untuk bersantai dan bermain.

Mulai mengenal banyak hal yang bahkan tidak pernah kusangka sebelumnya sering membuatku terbebani, meski harusnya tidak. Tak jarang orang yang sudah memikirkan tentang orangtua dan keluarganya. Tentang beban mereka atas kita, bagaimana kita bisa membuat mereka senang, bagaimana bisa membalas mereka, bagaimana bisa menahan diri untuk tidak bersikap keterlaluan pada mereka, dan bagaimana cara menghargai mereka sebagai orangtua kita.

Mungkin ini terdengar terlalu berlebihan, karena sebetulnya kita masih bisa bersikap layaknya anak kecil—tertawa dan bermain. Tapi itu akan sangat berbeda. Bahkan jika itu masih sama, bukan berarti kita sebebas anak-anak. Banyak sekali hal yang membedakan kita dengan mereka, dan itu sangat jelas.

Tidak salah jika kita menjalani ini semua dengan santai, tapi resiko dan masa depan, serta orangtua juga harus kita perhatikan. Kita bukan anak kecil lagi yang hanya bisa merengek untuk mendapatkan sesuatu. Tidak seharusnya kita tetap melakukannya setelah banyaknya pelajaran hidup yang sudah kita terima. Jadi, mulailah sedikit berpikir maju, jangan berpikir ke belakang, ke masa lalu kita, karena jelas kita tidak mungkin akan kembali ke sana lagi.