If Only….

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sebuah kalimat singkat yang sering kali kudegar dan kuucapkan, ‘if only…’

Mungkin kata itu sederhana, tapi banyak hal yang bisa diucapkan dengannya. Yah, sepertiku saat ini.

Aku sedang duduk sendirian di dalam kamar kosku yang kecil dan sepi. Sore ini Anis pulang dan aku nggak tau aku mesti ngapain. Hari ini pun aku berbohong pada seseorang, dan untungnya kakakku beneran datang sehingga kebohongan itu menjadi kenyataan.

Kadang di saat seperti ini aku merasa kalau prinsip yang selama ini kupegang salah. Jelas ada saat dimana memikirkan cowok bukan sesuatu yang salah, atau bahkan ada saat dimana aku hanya bisa memikirkan semua tugas-tugas kuliahku yang ‘menyenangkan’ dalam dua arti yang berlainan. Tapi di saat sendirian dan tidak ada sesuatu yang bisa kulakukan, rasanya pikiran untuk punya cowok itu wajar datang begitu saja.

Like all normal people out there, sometimes I want to have a boyfriend also, who will take care of me a lot, who will asked me to stay heath all the time and sometimes cheer me up when I seemed want to give up.

Tapi semua pemikiran itu hanyalah lanjutan dari dua kata singkat, ‘if only’. Bukannya aku nggak mau, tapi prinsip itu sudah ada di diriku dari dulu, sejak aku tau bagaimana menyenangkan dan tidak menyenangkannya having a boyfriend. Yah, bisa kukatakan kalau di saat sendirian, semua orang akan menjadi orang yang labil, seperti halnya aku ini. Aku hanya tidak mau menjadi orang yang terus bergantung pada orang lain, walau memang kita selalu butuh sebuah tangan untuk berpegangan saat kita akan jatuh.

Yah, bisa juga kukatakan kalau aku mengharapkan sesuatu yang sejak awal tidak kuinginkan. Ahahahahaha…. What a waste thought….