Ayahku yang Aneh (part 1)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sering kali aku mendengar cerita ayahku tentang masa kecilnya dulu. Kata ayahku, sewaktu SMA dulu, ayah menjabat sebagai ketua OSIS. Meski jadi ketos, bukan berarti ayahku anak yang super taat sama peraturan. Dari cerita yang sering kudengar dari ayah langsung, ternyata ayahku pernah bubarin satu sekolah cuma karena salah paham doang!

Seperti anak SMA umumnya, ayah juga punya teman-teman dekat yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Maklumlah, ayahku anak tunggal. Jadi, ayah sudah benar-benar menganggap teman—semacam geng—nya sebagai saudara. Nah, di sekolah ayahku ada seorang guru yang nggak disukai oleh ayahku dan teman-temannya. Dia adalah guru sejarah. Akhirnya ayahku dan temannya memutuskan untuk kabur dari kelas saat jam pelajaran sang guru sejarah.

Temen 1 : Waduh, sejarah lagi. Gimana kalo kita kabur aja?

Temen 2 : Boleh juga.

Ayahku  : Ke pasar yo!

Temen 1&2        : Yo!!

Akhirnya ketiganya beneran keluar kelas dan berniat ke pasar. Semua teman sekelasnya yang juga setuju akhirnya ikutan kabur. Jadilah ruang kelas mereka kosong. Nah, adek-adek kelas ayahku yang pada ngeliat ngira kalo emang udah jam pulang. Padahal masih satu jam pelajaran lagi. Setelah ayahku dan kawan-kawannya kabur, semua anak juga ikutan kabur. Guru-guru pun jadi heran. Yang lebih kaget lagi adalah ayah yang beberapa jam kemudian kembali ke sekolah untuk mengambil tas yang ditinggal dan mendapati sekolah telah kosong.

Paginya ayahku dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Kepsek    : Nung, kamu itu mbok jangan ngajarin kabur dari sekolah.

Ayahku  : Lho? Yang ngajarin itu siapa to, Pak. Saya cuma mau ke pasar. Mereka yang ikutan kok.

Kepsek    : Lha yo, Ayah tahu. Hah, sebenere kamu tu kudu dihukum. Tapi kamu nggak bakal Ayah apa-apain kok. Jangan bilang-bilang temenmu yo tapinya.

Akhirnya Kepala Sekolah dan ayahku hanya berbincang santai sambil minum teh dan bahkan ayahku nggak dapet poin satu pun. Cukup menggelikan juga.

Guru sejarah yang nggak disukai pun akhirnya diceritai oleh Kepala Sekolah. Saat masuk kelas beberapa hari kemudian, dia hanya tersenyum-senyum. Temannya ayahku yang duduk tepat di depannya dengan iseng mengambil buku sejarah milik sang guru. Sang guru bahkan tidak menyadari hingga saat beliau akan memulai pelajaran. Mungkin buku itu sampai sekarang masih ada di tangan temennya ayahku….

Note: ini kisah nyata. Tapi dialog sebetulnya dalam bahasa jawa dan ada beberapa yang nggak sama persis.🙂🙂