Bolang (part 2)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Aku udah lupa kapan aku nulis part 1-nya (silahkan lihat postingan sebelumnya di sini), tapi rasanya nggak asik kalau aku nggak ngepost part lanjutan dari cerita masa kecilku yang kelewatan menyenangkan dan terlalu ‘indah’ dalam semua arti yang berbeda.

Di part 1 aku sudah cerita bukan kalau aku orang yang terlalu aktif untuk ukuran bocah biasa. Aku juga sudah cerita bukan kalau aku termasuk bocah dengan kemampuan manjat pohon yang bisa dibilang setara dengan anak cowok masa kecilku. Bahkan dengan sifat ke-cowok-anku yang kelewat batas, aku sampai pernah membuat cowok paling ditakuti di kelasku nangis. Hasilnya; dicegat kakak-kakak kelas dalam perjalanan pulang ke rumah. Aku bahkan sudah lupa bagaimana hal itu dapat berakhir dengan baik dan aku bisa selamat. Entahlah.

Aku bingung mengatakannya, tapi bisa dibilang aku orang yang gemar berpikir dan berkhayal sejak kecil. Kenapa aku bisa bilang begitu? Beginilah kejadiannya….

Suatu hari aku, kakakku, dan adikku sedang berjalan bersama menuju TK kami yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah. TK dengan fasilitas bermain yang pas-pasan itu telah menjadi favoritku dan kakakku sejak dulu banget, dan saat itu di umurku yang baru 4 tahun aku menganggap bermain di TK adalah suatu yang yang paling menyenangkan yang bisa kulakukan.

Sayangnya, dalam perjalanan kami menuju TK, kami keburu mendapat bahan ‘riset’ yang kelihatannya lebih menyenangkan dibandingkan datang dan bermain di TK. Kami menemukan sebuah pipa dari semen dengan diameter sekitar 30cm. Pipa itu ada di bawah aspal yang fungsi sebenarnya adalah untuk menyalurkan air hujan dari sisi jalan yang satu ke sisi yang lain. Terjadilah percakapan pendek.

Aku                    : Mas, gimana kalau kita masuk terowongan ini. Ntar kita sampai di sana. (note: lebar jalan/panjang terowongan sekitar 3 m)

Kakakku            : Boleh juga. *mata berbinar.

Aku                    : Ayo, Mas aja yang duluan. *menunjuk terowongan yang kering.

Akhirnya kami memutuskan untuk masuk beneran, membuktikan teoriku yang mengatakan kalau kami bakal bisa selamat sampai ke seberang dan mungkin menemukan hal yang menyenangkan di dalam terowongan. Adik kami yang memang baru 2,5 tahun kami biarkan diam menunggu kami.

Begitulah, kakakku masuk duluan dan aku hanya berjarak sekitar 30 cm di belakangnya. Walaupun terowongan itu terhitung sempit, tapi untuk ukuran anak kecil diameter terowongan/pipa itu sudah cukup besar. Hanya dalam 2 menit saja kakakku sudah hampir menempuh 1 m. Tiba-tiba….

Aku                    : Mas di sini pengap. Mau buang air. *menghentikan langkah

Kakakku            : Yaudah, mundur aja. Nggak jauh kan.

Aku                    : He-eh.

Akhirnya aku memutuskan untuk mundur. Tapi di sana lah masalahnya muncul, kakiku nggak bisa ditekuk. Bisa dibayangkan bukan, dengan diameter hanya 30 cm rasanya susah banget untuk bergerak mundur. Kami pun panik, dan akhirnya menyuruh adik kami yang baru 2,5 tahun itu untuk berlari pulang ke rumah dan memanggil orang tua kami. Nggak taunya bukan cuma orang tua kami yang datang ke sana, tapi juga orang sedesa yang ikutan panik.

Bahkan di umurku yang baru 4 tahun, aku telah berhasil membuat gempar orang sedesaku dengan tindakanku yang sok tahu.