Cewek Perkasa?

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kadang aku merasa aku terlalu narsis dan sok eksis untuk seorang cewek yang biasa aja. Coba pikir-pikir lagi, dengan kemampuan yang pas-pasan, nggak punya pengalaman, dan nggak tau peraturannya, aku mendaftarkan—atau lebih tepat kalau kubilang aku dipaksa daftar—ikut basket dengan alasan aku termasuk cewek yang tinggi. Padahal aku udah bilang berkali-kali kalau aku nggak pernah ikut tanding basket dan nggak tau satu pun istilah dalam basket. Tapi pada akhirnya aku tetap terdampar di lapangan yang luas itu untuk tanding dengan kakak angkatan.

Sebetulnya sih aku merasa sedikit memaksakan diri. Di saat aku masih sedikit batuk yang cukup menganggu ditambah lagi udah jarang olahraga, dan sore sebelumnya baru saja manjat dinding di AKPRI, rasanya memang aku udah gila. Yah sudahlah. Setidaknya aku belajar banyak dari pertandingan itu. Hanya saja, pada akhirnya badanku tetap shock di menit ke 5. Aku juga ikut shock atas reaksi tubuhku yang ternyata seperti itu. Ditambah lagi penglihatanku yang sebetulnya nggak bagitu beres karena mataku -1, rasanya semua hal hanya bagaikan sebuah film yang lewat depan mata begitu saja.

Terlebih lagi kekuatan tanganku berkurang cukup banyak akibat efek manjat dinding dan push up di sore sebelumnya, sehingga lemparan bolaku tidak bisa maksimal. =__= Bahkan di babak ke dua badanku mulai lebay dengan sedikit gemetaran karena kupaksakan. Alhasil di saat menerima bola, aku dengan tanpa sadar berjalan perlahan, padahal teman-temanku sudah mengatakan itu sebuah pelanggaran. Gila, aku malu berat…. *>_<*

Anehnya, begitu pertandingan selesai, badanku merasa ingin digerakkan lagi. Bisa dibilang shock itu sudah berakhir dan aku kembali punya power untuk main basket sekali lagi. Lebih aneh lagi, di pagi harinya kakiku sama sekali tidak sakit seperti yang kutakutkan akan terjadi. Hanya pundakku yang sedikit sakit akibat terlalu bekerja keras selama dua hari terakhir itu.

Jadi, bisakah aku narsis dengan mengatakan aku cewek yang cukup perkasa? Ahahahahha….

(no way, virus narsisku udah mencapai level ‘cukup parah’)