The Three Idiots

by nuzuli ziadatun ni'mah


Beberapa malam yang lalu, aku dan Anis—teman sekontrakan—berencana untuk mengerjakan tugas kewarganegaraan di rumah teman kami, Riani. Awal rencananya kami hanya mau ngeprint di sana, biasalah anak kosan maunya yang gratisan. Alhasil sehabis isya’ kami pergi ke rumah Riani hanya berbekal kertas kecil dengan peta acak-acakan di atasnya. Di jalan, terjadilah percakapan sebagai berikut:

Aku        : Eh kita di rumah Riani sampai kapan? Cuma ngerjain KWN kan?

Anis        : Iya. Tinggal edit bentar terus ngeprint kok.

Aku        : Ok deh. Oya, ntar pulangnya mampir toko merah ya. Aku mau beli pensil warna sama kertas.

Anis        : Oh, ok. Tapi… kok aku yakinnya kita bakal lama di rumah Riani ya?!

Aku        : Semoga aja nggak. *diucapkan dengan tidak yakin*

Nah, di sepanjang perjalanan itu kami sibuk memerhatikan jalan agar tidak nyasar. Maklum, kami baru pertama kali pergi ke rumah Riani yang ternyata nyempil banget menurut peta yang ia buat.

Lalu, entah karena kami tidak memerhatikan jalanan yang nggak rata, atau memang udah takdirnya begitu, motor yang kami tumpangi nggak sengaja melewati lekukan nggak wajar di tengah jalan. Awalnya kami merasa biasa aja, tapi nggak taunya, hanya dalam waktu semenit motor udah terasa nggak beres. Dan benar saja, ban motornya ternyata bocor, hanya beberapa puluh meter dari rumah Riani.

Akhirnya kami menuntun motor sampai di sana dan disambut Riani dengan sebuah pertanyaan.

Riani      : Motornya kenapa?

Anis        : Bocor. Kamu tau bengkel yang paling deket nggak.

Riani      : Ada sih, tapi lumayan jauh.

Setelah berdebat sejenak gimana cara bawa motor ke sana sementara di rumah nggak ada orang dan kami nggak tau dimana bengkelnya, akhirnya Riani memutuskan buat ikut sambil nuntun sepeda sementara aku ngedorong motor. Penampilan kami sudah terlanjur aneh. Aku dengan jaket abu-abu tebal dan tas isi laptop yang membuatku benar-benar mirip kura-kura ninja. Sementara anis dengan slayer+jaket dan potongan rambut cowok yang udah kayak ninja juga. Lalu Riani dengan baju biasa-biasa aja dan wajah cukup dewasa.

Sambil ngobrol akhirnya kami sampai di bengkel yang dimaksud. Buru-buru kami ngasih motornya ke tukang tambal ban sementara kami hanya duduk-duduk di depan bengkel sambil melepas lelah.

Aku        : Aku laper, ngantuk, sama haus. Cari makan yuk.

Riani      : Jangan, ayahku udah beli kayaknya. Makan di rumah aja.

Aku        : Tapi laper Ri…. (diam semua) …. Gimana kalo kita beli kopi aja di depan. (di depan bengkel ada warung kopi)

Riani      : Boleh. Ke sana aja?

Aku        : Iya.

Dengan bersemangat aku berdiri dan kami pun pergi ke warung kopi itu. Dengan penampilan yang aneh dan barang bawaan yang nggak wajar, kami merasa seperti ‘three idiots’ beneran yang salah tempat dan bernasib sial.

Aku        : Kayaknya yang kita omongin tadi jadi kenyataan deh Nis.

Anis        : Apa?

Aku        : Kita beneran bakal lama di rumah Riani gara-gara ban bocor. Ini aja udaah jam 9 dan kita belum mulai ngapa-ngapain.

Dan benar saja, akhirnya setelah sampai di rumah Riani kami memutuskan untuk menginap, dan pulang esok harinya. Ahahahhaa….