Catatan Perjalanan Kota Tua, 2 Mei 2009

by nuzuli ziadatun ni'mah


Percayalah, orang kalau mendengar kata ‘sejarah’ atau ‘museum’, pasti mereka langsung memalingkan muka. Ketidakpedulian itu terus ada hingga sekarang. Begitulah, sejarah menjadi hal yang tidak pernah dipandang sama sekali. Orang menganggap sejarah sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah yang nggak disukai oleh lebih dari 90% siswa. Padahal teman, kalo kita mau nyoba mendalami sedikit aja, kita akan dengan cepat menemukan bagaimana menyenangkannya sejarah.

Ini adalah sebuah catatan perjalanan Kota Tua Jakarta, sebuah kompleks bangunan tua yang belum dipugar sama sekali sejak zaman kemerdekaan sebagai bukti sejarah. Tempat pertama yang disarankan untuk dikunjungi adalah bank Mandiri. Menurut sejarah, bank ini merupakan gabungan dari 4 bank yang lebih kecil untuk memperkuat posisi mereka di masa itu. Bangunan bank ini sendiri dibangun selama lebih dari 3 tahun sejak tahun 1929-1933. Bank ini merupakan salah satu bukti masuknya ilmu perbankan di Indonesia. Bahkan, di bank yang sekarang udah jadi museum ini, ada buku besar asli yang memuat semua transaksi keuangan bank dalam kurun waktu tertentu. Kita juga bisa lihat semua mata uang yang pernah beredar di Indonesia hingga saat ini.

Di samping bank Mandiri, berdiri dengan megah Bank Indoneia yang sudah direnovasi untuk dijadiin museum. Buat orang yang nggak tahunya cukup keterlaluan, pasti nggak tahu bedanya bank Indonesia sama bank Mandiri. Nah, untuk yang belum tahu, disarankan buat bertanya ke orang ekonomi atau datang langsung saja ke museum bank Indonesia terus tanya sama kakak yang jadi pemandu di sana. Biar nggak malu kalo suatu hari nanti ditanya, masa nggak tahu bedanya bank Indonesia sama bank Mandiri???

Ada juga bangunan yang membuatku kagum dengan apa yang pernah terjadi di sana dan ketahanan konstruksi bangunan yang bahkan setelah berabad-abad pun tidak mengalami kerusakan berarti. Itulah kantor gubernur Batavia. Kantor itu mulai dibangun pada tahun 1707 dan baru selesai tiga tahun kemudian, tahun 1710. Yang menarik, saat pertama kali menginjakkan kaki di bangunan itu, kakak pemandu langsung melontarkan sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik, apa arti Batavia? Batavia sendiri berasal dari bahasa Belanda yang berarti kota perdagangan, karena pada masa pendudukan Belanda, Jakarta berfungsi sebagai pusat perdagangan di seluruh Indonesia.

Menelusuri lebih jauh lagi, kami sampai di halaman belakang di mana terdapat sebuah meriam super besar. Setelah dijelaskan, barulah kami tahu bahwa ternyata meriam itu merupakan penggabungan dari 12 meriam kecil yang dilebur dan dijadikan meriam baru dengan kekuatan berpuluh-puluh kali lipat. ‘Aku lahir dari diriku sendiri’, begitulah kalimat yang tertulis di bagian meriam itu.

Selanjutnya kami dibawa ke bekas penjara yang masih berada dalam bangunan kantor. Penjara itu merupakan penjara kecil dengan terali baja yang hingga sekarang belum pernah sekalipun diganti. Di dalam penjara terdapat seratus bola besi seberat 50 kg yang dulunya diikatkan pada pergelangan kaki setiap tahanan agar tidak kabur. Penjara itu gelap dan pengap. Berbentuk setengah tabung dengan tinggi bagian tertingginya hanya 1,68m dengan panjang 10m dan lebar 3m. Itu adalah penjara yang sempat digunakan oleh pangeran Diponegoro sebelum beliau diasingkan. Banyak juga nyawa yang telah melayang di dalam penjara itu, bahkan sebelum mereka sempat dihukum. Lebih kejam lagi, hukuman buat mereka yang udah masuk ke penjara hanya 2, mati atau diasingkan.

Setiap harinya di halaman kantor dilakukan hukuman mati kepada para tahanan yang sudah waktunya mendapat hukuman mati dari pemerintah kolonial. Tak terbayang bagaimana kejamnya Belanda kepada penduduk pribumi pada masa-masa awal penjajahan. Kerja paksa, siksaan, hukuman, perang, itu adalah makanan sehari-hari mereka. Mereka yang pada saat itu memikirkan masa depan anak cucunya. Mempertahankan tanah air mereka dengan tetes darah penghabisan. Merekalah pahlawan.

Tapi, teman, apa kalian juga berpikir hal yang sama seperti mereka? Bukan berarti karena kita hidup di masa kemerdekaan, kita jadi melupakan orang-orang yang rela mati demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jangan cuma bicara, tapi tidak bergerak dari tempatnya. Kita adalah generasi muda, yang akan mewarisi bangsa ini, dan meneruskannya kepada anak cucu kita. Kita adalah bagian dari sejarah masa depan, kalau kita mau berjuang sekarang.