Dan Ia Pergi Entah Kemana….

by nuzuli ziadatun ni'mah


Teman-teman MVP, masih ingatkah kalian pada hari ini??

Mungkin ini hari yang terlalu bersejarah buat kita, hari dimana bulletin kita tiba-tiba berubah jadi majalah untuk pertama dan terakhir kalinya.

Aku masih ingat saat dulu pertama kali aku melihat pengumuman OPREC redaktur MVP dan aku hanya terus melihat kertas itu tanpa ada niatan untuk masuk. Lalu aku juga ingat saat Kak Afu bertanya padaku untuk ikut MVP dan dengan baiknya bahkan mengikutkanku yang tidak tahu apapun ke ‘markas’ MVP untuk membantu ‘ngejilid’. Aku bahkan ingat Kak Emir tiba-tiba menerimaku dan Heidy sebagai redaktur tanpa ditanya sepatah pertanyaan pun.

Ada beberapa alasan kenapa tiba-tiba aku ingin menulis tentang bulletin kita yang seharusnya masih bisa hidup tetapi terpaksa harus mati. Pertamanya aku mau minta maaf sama kakak-kakak mCrew. Maaf ya kakak-kakakku semua yang udah merintis MVP dari nol dan terpaksanya harus berakhir juga saat kepengurusan kakak-kakak semua selesai.

Beberapa saat yang lalu aku mendaftarkan diri jadi pengurus bulletin jurusan, yang meski berbeda dengan MVP dulu, tapi langsung mengingatkanku pada bulletin kita. Sampai sekarang pun aku masih terus membaca MVP berulang kali dan menganguminya. Sejujurnya aku lebih suka MVP tetap menjadi bulletin sejak awal, bukannya berubah jadi majalah yang terlalu susah untuk dihandle 15-an orang seperti kita. Aku juga lebih suka merelakan dua jariku untuk menempel 3cm tali plastik menjadi sebuah lingkaran untuk menjilid tiap lembar MVP. Aku juga lebih suka saat-saat rusuh kehabisan tinta untuk ngeprint setiap halaman MVP. Dan aku juga lebih suka dengan keasyikan membaca MVP yang penuh dan tipis itu.

Kami—sophomore—memang pernah berencana untuk menghidupkan kembali MVP sebelum kami lulus, tapi itu pun tidak bisa kami lakukan….