Dan Tangan Kami pun Bersentuhan…

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mungkin ini hanyalah sebuah kisah biasa bagi kebanyakan orang, namun entah bagaimana ini menjadi sesuatu yang selalu kuingat.

Sore itu aku duduk di tengah sebuah ruangan bersama beberapa temanku untuk mengerjakan tugas kuliah kami yang sedang dikejar deadline. Bukan hal yang luar biasa sih, tapi bagi kami tugas menggambar itu adalah sesuatu yang harus dikerjakan dengan total. Aku nggak suka nggambar dengan setengah-setengah dan karenanya aku selalu ingin menggambar dengan baik—aku orang yang cukup perfeksionis.

Sebenarnya aku berharap orang itu ada di sana sore itu, namun aku tidak pernah terlalu mengharapkan kedatangannya. Ia tidak pernah mau menyapaku atau berjalan ke arahku sejak dulu, dan aku tidak tahu apa alasannya. Sayangnya aku juga jadi merasa nggak enak hati untuk menyapanya terlebih dulu. Aku orang yang canggung pada orang yang tidak begitu kukenal.

Lalu tiba-tiba aku melihatnya, tepat saat aku memalingkan muka ke arah pintu masuk ruangan. Ia berjalan tepat ke arahku, dengan mimik muka yang selalu kulihat sejak pertama kali kami bertemu. Entah apa yang kupikirkan saat itu, tapi akhirnya aku bisa tersenyum dengan normal padanya, bahkan menyapanya dengan nada yang biasa. Ia pun membalas dengan senyuman dan berhenti di belakangku—untunglah.

Aku selalu suka jika ada orang yang mengkritik gambarku, seperti yang selalu ia lakukan saat bertemu denganku. Aku selalu suka setiap kata-katanya yang selalu mambuatku berpikir tentang seni. Ia terus berkata-kata hingga akhirnya tangan kami tidak sengaja bersentuhan. Entah ia sadar atau tidak, tapi ia tetap terus berkomentar.

Aku nggak tahu apakah nantinya aku bisa membiarkan hal itu menjadi bergandeng tangan. Tidak bolehkah aku mengharapkannya?