Impian itu Seperti Mixfruit

by nuzuli ziadatun ni'mah


Selama ini, entah mengapa nasihat dari semua orang yang masuk ke pikiranku selalu kuanggap kontradiksi antara satu sama lain. Bahkan pernah di satu forum yang sama, ada dua orang yang memberikan pandangan berbeda. Pada akhirnya kalimat-kalimat dari mereka hanya saling bertubrukan di dalam pikiranku dan meledak menjadi sesuatu yang disebut ketidakmengertian dan kekeraskepalaan. Lalu aku pun mulai berpikir lagi. Bukankah setiap orang memiliki perspektif mereka sendiri akan suatu hal? Setiap orang juga punya hal yang selalu membuat masing-masing tetap ingin mencapai hal yang diinginkan. Dan begitu pula lah denganku.

Sebelumnya, aku ingin mengatakan pada kalian, bahwa apa yang kutulis ini adalah sesuatu yang kupikirkan. Kalian tidak perlu mencernanya di dalam pikiran kalian jika ini bukan sesuatu yang kalian sukai. Justru saat nantinya kalian menemukannya sendiri, pertahankan itu dan buatlah orang lain menemukan milik mereka sendiri dengan caramu sendiri pula.

Hanya beberapa jam yang lalu, seseorang bertanya pada kami, apa yang menjadi impian kami, motivasi kami, dan hal-hal yang bisa kami lakukan untuk mencapainya. Bagaimanapun, aku bukan orang yang bisa dengan mudah mendeskripsikan sesuatu lewat ucapan—walau sekarang aku sedang berusaha untuk itu, karena yang akan keluar justru kalimat-kalimat panjang nggak jelas yang pasti akan membuat orang mengernyit tidak mengerti. Terlebih lagi dalam keadaan yang santai tapi rada formal(?).

Karenanya, di sini aku ingin mengatakan sesuatu tentang impianku, yang juga dianggap orang lain sebagai cita-cita. Ada yang pernah bilang, cita-cita itu hanya milik anak-anak, sedangkan yang kita miliki sekarang adalah sebuah impian. Jujur saja, aku juga tidak tahu apa perbedaan keduanya. Yang kutahu hanyalah kedua hal itu adalah tujuan hidupku yang membuatku selalu ingin melakukan semua hal yang bisa kulakukan untuk menggapainya.

Impianku sederhana, namun sebenarnya sesuatu yang sangat besar dan tidak mudah untuk mewujudkannya; menjadi orang yang bisa melakukan apapun untuk siapapun. Mungkin banyak orang yang mengatakan bahwa impian mereka adalah membahagiakan orangtua dan menjadi sukses. Tapi dengan apa? Untukku sendiri, hal-hal semacam itu bukanlah sebuah impian, tapi itu sudah ada di urat nadi kita sejak kita masih belum mengenal apapun. Sesuatu yang bukan merupakan sebuah pilihan, namun kewajiban. Menjadi sukses pun bukan berarti hanya pada satu hal saja. Sukses itu adalah saat kita bisa melakukan hal-hal yang kita inginkan, bisa membuat orang lain ikut merasakan apa yang kita rasakan, membuat mereka mendapat manfaat dari apa yang kita lakukan, dan menjadi orang yang tidak berdiri untuk dirinya sendiri, namun juga lingkungannya. Dan untuk mencapainya, aku memilih untuk bisa melakukan semua hal yang ada di dunia ini—tentu saja dalam artian baik—dan belajar menghargai semua itu.

Saat menjadi arsitek kelak, aku tidak hanya ingin menjadi orang yang hanya tahu bagaimana cara merancang bangunan, bagaimana menggambarnya di atas kertas, dan bagaimana membuat itu bisa menjadi nyata. Namun aku ingin menjadi orang yang bisa memenuhi tuntutan semua orang. Menjadi arsitek bukan hanya di bangunan, tapi juga di semua hal. Walau mungkin terdengar terlalu besar, tapi aku sudah berusaha untuk mencapainya sedikit demi sedikit, sejak seseorang berkata padaku, mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal kecil, dan mulailah dari sekarang.

Makanya, aku menganalogikan impian itu sebagai mixfruit. Sebuah kombinasi yang aneh dan nggak rasional kadang-kadang, namun saat dirasakan akan terasa enak dan nggak biasa. Seperti halnya kehidupanku saat ini, aku ingin menjadikannya sebuah kehidupan yang tidak biasa dengan impian mixfruit-ku.

Selamat bermimpi juga teman! ^^

30 Oktober 2010