Jika di Jogja Turun Salju

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sejak dulu aku selalu mengimajinasikan sesuatu di tempat yang tidak seharusnya (baca: di Jogja turun salju). Tapi akhirnya hal-hal konyol seperti itu terwujud. Yah, bukan sepenuhnya turun salju, tapi aku hanya mengimajinasikan jika itu adalah salju. Tau kan yang kumaksud ’itu’ apa? Ya, abu Merapi yang baru saja menghujani seluruh Jogja akhir-akhir ini.

Sesuai postinganku sebelumnya, hari itu aku aku sedang di Sundak, jadi aku nggak tahu kejadian aslinya. Yang kutahu hanyalah saat bus yang kami tumpangi memasuki kota Jogja, seluruhnya berubah putih-abu-abu. Aku langsung teringat imajinasiku yang satu ini. Aku dulu nggak pernah benar-benar bisa membayangkan jika seluruh Jogja tertutup benda putih semacam salju. Tapi setelah melihat abu Merapi memenuhi Jogja, imajinasi itu menjadi sesuatu yang riil.

Hanya saja, ’keindahan’ yang kukagumi itu hanya sebuah sisi menariknya saja. Karena di balik itu, ada banyak orang yang dirugikan, banyak korban yang berjatuhan, dan banyak yang harus menanggung penderitaan. Aku bukannya tidak peduli pada hal itu, namun aku hanya ingin menyimpan hal-hal menarik di dalam pikiranku. Sehingga saat aku membutuhkannya aku masih tetap bisa mengingat semuanya dengan baik. Ingatan itu selalu didukung oleh sesuatu yang menarik. Saat kita tidak bisa menemukan hal menarik itu, niscaya ingatan kita akan sesuatu tidaklah mencapai sempurna.

Kita orang yang selalu belajar dari waktu ke waktu, menemukan hal baru, dan berimajinasi tentang hal yang belum pernah kita temui. Seseorang pernah bilang padaku, imajinasi itu harus lebay jadi kita akan menjadi orang yang bebas walau sedang dikekang oleh sesuatu.