Dunia Itu Milik Anak-Anak

by nuzuli ziadatun ni'mah


Rasanya sudah terlalu sering aku membahas kalimat di atas. Sebuah kalimat sederhana yang selalu kuingat sejak pertama kali aku membacanya. Kemarin, 09 November 2010 tanpa sengaja aku melihat beberapa foto anak-anak di pengungsian yang sedang diajak bermain oleh beberapa orang. Jujur saja, aku bukan orang yang bisa dengan mudah membuat anak-anak senang ataupun dapat merawat seorang anak kecil dengan baik—aku orang yang nggak terlalu sabaran. Tapi tetap saja saat melihatnya aku merasa sangat iri. Di saat orang lain bisa melakukannya dengan baik, aku bahkan tidak punya keberanian untuk mencoba. Yang karenanya pula aku selalu merasa jika aku masih nggak berguna untuk orang lain.

Nah, alasan utama aku menulis ini karena tanpa sengaja hari ini akhirnya aku ’terikutkan’ untuk main bersama anak-anak pengungsian itu juga. Memang niat awalnya bukan untuk itu, tapi berhubung yang menjadi tanggungjawabku akhirnya dibatalkan, aku pun ikut mengurus—atau lebih tepatnya mencoba ikut mengurusi—anak-anak di pengungsian itu. Saat itu aku bersama beberapa temanku dari Fakultas Psikologi yang tentu saja memang berkecimpung dengan anak-anak, dan semuanya suka anak-anak. Makanya, sebagai orang yang jarang ketemu anak kecil dan main-main dengan anak kecil, aku langsung merasa sangat minder dan iri yang berlebihan. Aku bahkan merasa kaku—atau bisa kukatakan tidak tahu—meskipun hanya untuk menanyakan nama mereka. Hingga pada akhirnya aku harus memerhatikan temanku dengan seksama dan sembunyi-sembunyi tentang bagaimana cara mendekati anak kecil.

Masalahnya, sekarang aku tidak mengerti, apakah aku harus menyukai anak kecil untuk bisa berbaur dan menghibur mereka dengan baik? Memang untuk bisa melakukan sesuatu dengan baik kita harus menyukainya dengan sepenuh hati. Tapi untuk anak kecil, aku masih belum bisa sangat sabar menghadapi mereka. Aku tidak tahu bagaimana cara mengajak anak yang pendiam dan pemalu, karena dulunya aku bukan anak yang seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana caranya membuat seorang anak kecil bisa menjadi anak yang penurut karena dulunya aku juga bukan anak yang seperti itu. Dan kadang aku merasa mereka terlalu keras kepala sehingga untuk memarahi atau hanya membiarkannya saja akan menjadi hal yang salah, mana pun yang dipilih. (note: aku selalu mengaplikasikan analisa ke diriku sendiri)

Bagiku sendiri, aku benar-benar mempercayai kalimat; dunia ini milik anak-anak. Yang secara tidak langsung mengatakan bahwa mereka adalah bagian terpenting dunia, yang akan menjadi penerus selanjutnya. Dan karenanya, agar nantinya mereka melakukan hal yang sama pada anak-anak yang selanjutnya, kita sebagai orang yang sudah bukan anak-anak lagi harus membuat dunia mereka menjadi dunia yang paling membahagiakan. Kejadian sekali dalam hidup yang akan terus mereka kenang.

Menurutku juga, pikiran anak-anak itu memiliki tingkat kesederhanaan dan kerumitan yang berbanding lurus terhadap satu sama lain. Sesuatu yang sulit dipahami kecuali kita juga menjadi anak kecil itu sendiri. Tentunya jika disuruh memilih aku juga nggak mau terlalu melebih-lebihkan masalah ini. Tapi aku sungguh-sungguh mengalami kesulitan untuk bisa mendekati anak kecil dengan cara dan langkah yang benar. Ironisnya, aku selalu hanya bisa tersenyum di kejauhan saat melihat orang lain berhasil membuat mereka tertawa bahagia. Aku hanya bisa membayangkan seandainya aku bisa melakukan hal yang sama pula pada mereka.

Yang masih menjadi pertanyaan besar; kapankah itu??