Saat Kita Bermimpi

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada banyak orang yang sudah pernah mengatakan banyak hal tentang impian. Di blog ini pun ada banyak postingan yang membahas tentang impian dan ini satu lagi yang membahas tentang impian-impian mengerikanku yang ternyata benar-benar menjadi kenyataan.

Di postingan jaman dulu, aku pernah menceritakan tentang cerita sederhana yang hampir merenggut nyawa (lihat di sini). Nah, hal itu pula yang pernah kubayangkan terjadi padaku yang sudah nggak anak-anak lagi ini. Aku pernah membayangkan bagaimana rasanya tenggelam dan menelan air kolam, yang akhirnya tanpa sengaja aku benar-benar mengalaminya.

Waktu itu aku sedang tour ke Jogja bersama teman-teman SMAku. Beruntungnya kami bisa menginap di tempat yang ada kolam renang di halaman belakangnya. Setelah basah kuyup dari pantai, kami pun nyebur ke kolam renang itu. Bodohnya, aku nggak menyadari berapa kedalaman airnya dan langsung ikutan nyebur. Tentu saja dengan sukses aku bisa mempraktekkan gaya batu yang terkenal itu dan ’impian’ku pun terwujud. Rasanya aku menelan beberapa teguk air sampai akhirnya aku bisa minggir dengan usaha keras bagai perjuangan ’45. Lebih ironis lagi, nggak ada satu pun temanku yang sadar jika saat itu aku sedang tenggelam. -­­__-

Lalu, aku juga pernah membayangkan seandainya kepalaku terbentur sesuatu, lalu darahnya mengalir dengan deras hingga kerudung putihku berubah merah. Sesuatu yang kedengaran mengerikan, dan pada kenyataannya memang seperti itu. Mungkin kedengarannya nggak rasional, tapi aku benar-benar mengalaminya. Bahkan tidak hanya sekali karena saat masih SD dulu aku juga mengalaminya.

Aku masih ingat, waktu itu hari Sabtu di bulan Februari saat aku kelas 1 SMA. Aku sedang main basket bersama beberapa temanku di hall sekolah. Berhubung itu hari Sabtu, hallnya bisa dibuka sampai malam dan kami bebas olahraga di sana. Kami pun memilih main badminton, karena aku memang sangat menyukainya. Bahkan kami memasang net di tengah lapangan badminton dekat ring basket. Setelah cukup lama kami bermain, tiba-tiba shuttlecocknya nyangkut di ring basket, dan saat itu nggak ada shuttlecock yang lain—maklum anak asrama. Alhasil aku naik ke atas pemberat tiang net dan mencoba menggapai si shuttlecock dengan raket. Entah kecerobohan atau memang sudah takdir, aku berdiri terlalu mundur dan akhirnya pemberatnya miring ke belakang. Dengan entengnya pula si tiang net dengan ujungnya yang tajam berhasil mengiris pelipisku dan darah pun mengucur dengan deras. Apalagi saat itu aku habis olahraga, sehingga aliran darahnya makin cepat. Dalam beberapa detik saja hampir seluruh bagian kiri kerudungku berubah merah. Darahnya terasa hangat dan menetes dalam bulatan besar ke punggung tanganku. Sungguh sama persis seperti yang pernah kubayangkan. Tidak begitu sakit sih, tapi selama seminggu aku harus menahan pusing yang luar biasa saat menundukkan kepala melebihi dada.

Ada lagi masa dimana aku sangat parno pada jalan raya. Salahku juga karena pernah membayangkan diriku terlibat dalam kecelakaan motor, yang akhirnya benar-benar kualami. Ironisnya juga, itu pertama kali aku naik motor di kota Jogja dan langsung nabrak hanya 100 meter dari ’garis start’ di sebuah rumah makan. Untungnya hanya memar-memar dan bengkak di beberapa tempat yang baru bisa hilang dalam 2 minggu. Waktu yang sangat banyak untuk membuatku memikirkan banyak hal.

Nah, setelah mengingat kembali hal-hal mengerikan itu, aku jadi berusaha membayangkan hal lain lagi yang walaupun sama mengerikannya tapi membuatku sangat penasaran. Bukannya aku ingin membahayakan diri sendiri, tapi itu sesuatu yang bisa mengembangkan imajinasi—aku bukan sedang berdalih lho. Hanya saja, sekarang aku merasa nggak sebebas dulu, karena alam bawah sadarku sedikit meyakini jika hal itu terus kubayangkan, semuanya akan benar-benar terjadi. Atau mungkin sebenarnya Tuhan merasa kasihan padaku yang terlalu penasaran ini hingga akhirnya menjadikan ’impian’ itu sebagai kenyataan.

Oh GOD, sorry for have ever been thinking about those kind of creepy and dangerous things.