Hujan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Di kejauhan aku melihatnya berdiri di bawah kanopi di depan sebuah toko kecil. Ia basah kuyup oleh air hujan; nggak jauh beda denganku. Aku masih ingat, aku pernah menyapanya dulu sekali saat aku baru masuk kuliah. Tapi rasanya dia nggak mungkin mengingatku yang pada saat itu masih seorang stranger di kampusku. Mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, tapi aku orang yang gampang ingat wajah orang yang baru kukenal walaupun tidak dengan namanya. Sedangkan kebanyakan orang akan dengan mudah melupakan orang yang baru dikenal.

Ah, kali ini dia kelihatan kebingungan sambil terus menerus memerhatikan handphone di tangannya. Sepertinya handphonenya terkena air hujan dan sekarang mati. Benar saja, karena detik berikutnya dia sibuk membongkar si handphone dan melepas baterainya. Nggak lama kemudian dia menggunakan ujung kaosnya yang sepertinya masih agak kering untuk mengeringkan si baterai. Aku pun tanpa sadar merogoh handphoneku yang kutaruh di sisi kanan tasku. Kering; untunglah. Kulihat di layarnya ada tulisan ‘1 message receive’ dan aku pun segera membukanya. Ternyata dari kakakku, dan dia bilang nggak bisa jemput. Sialnya….

Aku kembali memasukkan handphone ke tasku dan mendongakkan kepala memandang ke arah orang tadi berada.

“Ah, dia menghilang,” gumamku sambil menoleh ke sekelilingku. Sosoknya hilang entah kemana dan kini aku jadi merasa sendiri karena nggak ada lagi orang yang kukenal di tengah hujan deras itu.

“Permisi, kamu arsi 2010 kan?” seseorang bertanya dari samping kiriku. Aku langsung menoleh ke arah suara itu dan tentu saja langsung merasa kaget. Orang yang sebelumnya kuperhatikan dari jauh kini ada tepat di sebelahku.

“I, iya. Kenapa Kak?” tanyaku padanya. Aku cukup kaget karena ia mengenaliku sebagai anak arsi.

“Boleh pinjem handphone bentar nggak? Punyaku mati kehujanan.”

Ah, pasti tadi dia melihatku saat aku membuka sms. “Pake aja kak,” jawabku sambil mengangsurkan handphoneku ke arahnya.

“Wah, makasih ya,” ucapnya dan ia pun langsung mengetik sederet nomer. “Boleh telpon nggak?” Aku hanya mengangguk dan tersenyum sekilas.

Kemudian ia melangkah menjauhiku dan menelpon seseorang. Suaranya hilang ditelan derasnya hujan siang itu, dan aku hanya bisa mencuri pandang ke arahnya sekilas. Tak lama kemudian ia pun kembali. Ia terlihat kecewa, entah kenapa; aku tak berani menanyakan padanya.

“Makasih ya…,” hanya itu yang ia ucapkan padaku sebelum akhirnya ia menyeberang lagi ke kanopi tempatnya semula berada. Aku juga baru menyadari jika sebenarnya ia membawa maket yang ia bawa dengan plastik dan sepertinya ia lindungi dengan susah payah dari hujan deras yang memang sering mengguyur Jogja.

Say goodnight our first goodbye

I’ve only got forever and forever is fine

Handphoneku berbunyi.

Just take your time

Kulihat layarnya dan aku merasa nggak mengenali nomer itu.

We’ll stop the clock together

And know that the timing was right

Pada detik terakhir ringtonenya, akhirnya aku menjawab. “As—,”

“Nggak jadi telat. Jam pengumpulannya ditunda sampe ntar sore,” suara dari seberang langsung memotong salamku. Aku nggak tau itu siapa dan apa yang sedang ia bicarakan.

“Maaf, ini siapa ya?” tanyaku pelan.

“Ini Anda kan?!” dia balik bertanya. Ah, Kak Anda!

“Wah, bentar Kak, aku panggilin Kak Anda dulu.”

Aku langsung berlari ke arah toko kecil tempat Kak Anda yang sudah hampir pergi dari sana. Buru-buru aku memanggilnya sambil menyeberang jalan di tengah hujan. “Kak!!”

Untunglah ia dengar dan langsung berhenti dan menoleh ke arahku. Dalam 5 detik aku sampai di hadapannya dan langsung mengangsurkan si handphone. “Ini, buruan.”

Ia menerima handphone di tanganku dan langsung menempelkannya di telinga. Ia berbicara panjang lebar dengan si penelpon yang sepertinya orang yang sama yang ia telpon sebelumnya. Senyumnya terkembang dan sepertinya itu kabar yang sangat bagus untuknya. Nggak lama kemudian ia mengembalikan handphoneku dan kali ini dengan wajah senang dan lega.

“Makasih banyak ya,” ucapnya padaku yang kali ini dengan senyum yang tulus.

“Sama-sama,” aku menunduk sekilas dan membalik badan untuk kembali ke seberang jalan tempatku tadinya berada.

“Lho, mau kemana?”

“Mau ke sana,” jawabku sambil menunjuk ke seberang.

“Ini kan masih hujan. Bentar lagi temanku datang. Biar kami antar aja sekalian,” sahutnya sambil melirik jam tangannya.

“Nggak usah kak. Temenku juga mau ke sini kok,” jawabku berbohong yang kemudian langsung menyeberang jalan.

Begitu sampai di tempatku menunggu sebelumnya, kulihat temannya sudah datang. Ia memasukkan maketnya ke dalam mobil dan menatapku yang walaupun kaget aku hanya menanggapi dengan lambaian tangan. Maka ia pun pergi bersama temannya, sedangkan aku akhirnya berjalan perlahan sambil menerobos hujan; menuju halte terdekat yang masih 100 meter lagi.

***

Aku berjalan perlahan ke studio yang kini sudah ramai dengan anak-anak 2010. Tanpa buang waktu aku pun langsung menuju ke mejaku sendiri. Tapi di sana ada sebuah tempat pensil yang tergeletak dengan ‘indah’nya. Aku pun mengambilnya dan membolak-balik kalau-kalau ada nama di sana; tidak ada. Lalu aku membukanya dan menemukan beberapa pensil, sebuah drawing pen, dan 2 batang pensil warna; ochre dan hitam.

“Ah, warna dewa,” gumamku pada diriku sendiri. Aku menggambil sebatang, dan kutemukan nama di sana. Anda.

Aku melihat sekeliling dan karena tidak menemukan sosok dosenku di sana, aku pun keluar. Aku yakin ia masih ada di depan studio, tempat orang-orang sering berkerumun jika tidak sedang ada kerjaan. Benar saja, dengan mudah aku menemukannya di tengah banyak orang itu dan dengan cukup canggung, aku pun mendekati mereka.

“Ah, kamu!” tiba-tiba ia melihatku dan menunjuk ke arahku. Aku merasa sedang dituduh, ahahhaa…. Tapi aku hanya menanggapi dengan tersenyum.

“Ini kak, tempat pensilnya ketinggalan,” ucapku sambil menyerahkan tempat pensilnya.

“Oya? Ah, makasih Fa,” ucapnya yang membuatku kaget. Sejak kapan ia tau namaku?

“Kakak tau namaku?” tanpa sadar pertanyaan itu keluar.

“Affa kan?”

Aku bengong selama sedetik dan kemudian mengangguk. “Iya.”