Sumbing

by nuzuli ziadatun ni'mah


Untuk orang-orang yang nggak tahu, rasanya kata di atas kata yang sangat nggak enak didengar dan sangat menyinggung. Tapi yang kumaksud sumbing di sini bukan ‘sumbing’ dalam arti yang sebenarnya. Sumbing adalah salah satu dari sekian ratus bahasa anak-anak ‘the only 12 IPA 1’ angkatan 2 Kharisma Bangsa (note: sebenarnya angkatanku memang hanya 1 kelas dengan 21 anak saja). Dan kata itu adalah kata paling famous dari sekian banyak kata yang populer di kelas kami. Sumbing itu sebutan untuk orang-orang yang salah pengucapan atau lidahnya ‘kepleset’ dalam mengucapkan sesuatu. Dan itu adalah lawakan paling seru dan paling ‘sophomore’. Lawakan yang selalu membuatku merindukan kelas kecil kami dengan 21 karakter yang berbeda.

Sayangnya di luar kelas kami nggak banyak orang atau bahkan mungkin nggak ada orang yang merasa ‘sumbing’ itu sesuatu yang lucu. Hanya kami yang selalu tertawa saat mendengar orang lain salah menyebut sesuatu atau salah ucap. Hanya kami yang sadar akan hal-hal paling kecil seperti itu. Hanya kami yang selalu tertawa tanpa sadar hanya dengan mengingat satu kata ‘sumbing’. Bahkan kami memiliki dewa sumbing, yang sudah menerima dengan ikhlas saat dipanggil ‘Mbing’.

Sebenarnya ‘sumbing’ itu sesuatu yang biasa dan mungkin setiap hari ada orang yang melakukannya. Seorang kakak angkatanku pernah salah mengucapkan butterfly sebagai waterfly. Ahahhaa…. Dan mungkin karena efek Merapi yang berkelanjutan kakakku salah nyebut abrasi sebagai erupsi. Padahal itu kata yang jauh berbeda, baik dari arti dan pengucapannya. Ahahahaha….

Jika diingat lagi, entah kapan aku bisa kembali ke kelas kami dan berkumpul bersama lagi seperti dulu saat masih SMA. Pasti akan sangat menyenangkan jika suatu hari nanti kami bisa bercanda seperti itu lagi. Mendengar tertawa khasnya Rayan yang akhirnya bisa menular dengan sempurna ke semua anak kelas. Mendengar Heidy yang benar-benar sering sumbing dan selalu jadi bahan tertawaan kelas.

Banyak orang yang mengatakan persahabatan itu akan dengan mudah hilang saat kita sudah tidak bertatap muka lagi dan saat sudah terpisah jauh entah kemana. Banyak juga yang mengatakan bahwa sahabat sejati itu nggak pernah ada dan yang ada hanyalah seorang teman. Tapi aku sendiri selalu mempercayai satu hal; asal kami bisa saling percaya satu sama lain, itu pun sudah cukup. Dengan kepercayaan itu, ikatan di antara kami tidak akan pernah hilang. Aku tidak membutuhkan sebuah janji ataupun kesepakatan, tapi hanya sebuah keyakinan bahwa kami akan terus menjadi orang yang dekat.

Dan untukku sendiri, aku selalu berusaha mengingat hal-hal menyenangkan yang pernah terjadi di antara kami (baca: sumbing). Hal yang dulu bisa membuat kami dekat untuk pertama kalinya. Jadi perasaan saling memiliki itu akan semakin bertambah setiap harinya meskipun kami terlampau jauh untuk saling bertemu.