Catatan Libur Lebaran September 2008 (part 1)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Jogja… Tunggu Aku!!

Sudah lima hari kami, para siswi kelas sepuluh dan sebelas, menjalani camp OSIS di Bandung. Selama itu pula kami menahan keinginan kami yang sangat besar untuk pulang. Maka, begitu camp selesai, kegembiraan kami benar-benar tak terbendung lagi. Bahkan aku hampir-hampir tak menikmati keindahan alam Puncak saat sedang dalam perjalanan pulang. Lautan pohon teh yang memikatku pada awalnya, telah kulupakan sepenuhnya. Begitu juga deratan pohon pinus yang menghiasi pinggir jalan bagaikan para prajurit kerajaan yang sedang menyambut rajanya. Semua itu tak lagi menarik perhatianku. Pikiranku telah mengelana ke kampung halamanku, Yogyakarta.

Kami kembali menapakkan kaki kami di tanah setelah selama lebih dari tiga jam duduk diam sambil berkhayal di dalam bus yang terus melaju cepat menuju sekolah kami. Beberapa dari kami yang tinggal di asrama kembali ke asrama untuk mempersiapkan kepulangan kami yang sesungguhnya. Sementara anak-anak lain yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya langsung pulang ke rumah mereka masing-masing begitu camp selesai. Setelah kami selesai berpamitan, kamipun berpisah. Aku dan beberapa anak lain berjalan ke asrama dengan perasaan lelah dan bersemangat yang bercampur aduk karena kami akan segera pulang ke rumah setelah selama satu setengah bulan tak bertemu dengan keluarga kami.

Tanggal 21 September 2008 yang sangat kami—Anik, Dian, Vidiya, Icha, Runi, dan aku— tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Sejak pagi kami telah bersiap sekalipun kami berangkat pukul 1.00 siang. Belum juga tengah hari, semua barang di kamar telah selesai dibereskan. Tas kami juga sudah penuh dengan baju yang sekiranya akan kami gunakan saat di rumah nanti. Tiket bus pun telah dipesan jauh-jauh hari. Maka, dengan sangat berdebar-debar, kami melangkah keluar asrama setelah berpamitan kepada para penghuni asrama. Di hari yang terik itulah kami mamulai liburan lebaran kami.

Angkot jurusan lebak bulus yang kami naiki melaju cepat di antara kendaraan-kendaraan lain yang memenuhi jalan. Maklum saja, waktu itu lebaran tinggal sepuluh hari lagi, sehingga banyak orang yang sudah mulai mudik ke kampung halaman mereka, seperti kami. Apalagi, memang pada dasarnya jalanan di Jakarta tak pernah lengang, kecuali jika hari lebaran. Kami sempat terjebak macet kecil di lampu merah. Asap hasil pembakaran dari berbagai jenis kendaraan bercampur menjadi satu, menimbulkan bau menyengat yang membuat perut terasa mual, ditambah lagi dengan panas yang menyengat. Bahkan angin yang berhembus hanya membawa hawa panas yang semakin membuat kami merasa kepanasan di dalam angkot. Sesekali pengamen mendatangi angkot yang kami naiki. Sehingga mau tak mau kami menanggapi mereka. Setidaknya dapat mengalihkan perhatian kami dari hawa panas, meskipun hanya sesaat.

Setelah lolos dari kemacetan, sampailah kami di Terminal Lebak Bulus. Beruntung, sopir angkot yang kami naiki berbaik hati mengantarkan kami hingga bagian dalam terminal, sehingga kami tak perlu bersusah payah menghindar dari para calo yang memang cukup banyak berkeliaran di sana. Saat kami keluar dari angkot, hal pertama yang kuperhatikan adalah kerumunan orang yang sedang menunggu datangnya bus yang akan mengangkut mereka ke tempat yang mereka tuju. Tapi, ada satu hal lain yang menarik perhatianku. Saat kami meninggalkan angkot, ada seorang pria dewasa yang mendatangi sang sopir. Mereka melakukan diskusi singkat. Si pria berbicara dengan sedikit kasar dan tatapan matanya terlihat menantang. Sedangkan sang sopir hanya memandang dengan wajah pasrah. Entah apa yang terjadi pada keduanya. Aku tak sempat memerhatikan mereka karena hari sudah semakin siang dan kami harus buru-buru.

Saat mencari bus yang akan kami tumpangi, aku sempat tertinggal di sela-sela bus yang berjajar rapat, sehingga Anik harus mencari dan memberitahukan padaku posisi bus yang benar. Aku lega karena Anik dapat menemukanku dalam kerumunan bus-bus itu. Ternyata para penumpang sudah menempati tempat duduk mereka masing-masing saat kami masuk ke dalam bus. Namun, ada satu permasalahan di sana. Ada seorang perempuan setengah baya yang telah menempati salah satu tempat duduk yang sudah kami pesan. Maka terjadilah perdebatan kecil karena kami sama-sama yakin bahwa nomor kursi yang tercantum di tiket kami adalah nomor satu, yaitu kursi yang sedang diduduki oleh perempuan itu. Tak lama kemudian seorang kernet bus masuk dan kaamipun segera menanyakan tentang kesamaan nomor kursi tersebut.

Setelah dijelaskan, barulah kami paham, bahwa memang sejak awal perempuan itu salah paham. Ia mengira bahwa kursi miliknya adalah kursi paling depan yang seharusnya sudah kami pesan. Ternyata kursinya adalah kursi di sopir yang hanya memang hanya dirancang untuk satu orang. Masalahpun selesai dan kami segera menempati kursi masing-masing karena bus sudah bersiap-siap untuk meninggalkan terminal bus yang padat itu.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa arus kendaraan saat itu sudah mulai padat. Bahkan bus yang kami tumpangi pun mengalami kesulitan saat keluar dari terminal. Butuh waktu yang cukup lama hingga bus dapat keluar dari terminal. Bus kami segera meluncur ke jalan tol. Udara panas yang kami rasakan perlahan mulai tersingkap. Tapi, tak lama kemudian, tiba-tiba bus keluar dari jalan tol. Bus berbelok di beberapa tikungan dan akhirnya sampailah di suatu tempat yang menjadi tempat peristirahatan para sopir dan kernet bus, sementara mereka menunggu penumpang yang akan naik dari agen yang dekat dari tempat pemberhentian itu. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 13.30.

Lama kami menunggu, tapi bus kami tak juga beranjak dari sana. Para pedagang sudah berulang kali masuk ke bus kami. Bahkan ada seorang ibu yang menjual donat yang sudah lebih dari tiga kali masuk ke bus kami, dan ia masih dengan bersemangat menawarkan dagangannya. Hawa di dalam bus semakin panas. Kami mulai meneteskan peluh. Beberapa di antara kami mencoba mengurangi rasa gerah dengan membuat angin menggunakan secarik kertas atau buku. Tapi tetap saja tak berhasil. Angin yang berhembus pun terasa panas.

Aku memandang ke luar bus, dan kulihat di sana, tepat di hadapanku, beberapa pria dewasa sedang makan, padahal saat itu masih di bulan puasa. Ada yang sedang makan buah, dan ada pula yang sedang minum es campur. Bahkan mereka secara terang-terangan memperlihatkan bahwa mereka TIDAK PUASA. Meskipun aku memang tak tahu, mereka itu muslim atau bukan, sedang dalam perjalanan jauh atau bukan, tapi yang pasti, aku tahu bahwa mereka tidak menghargai orang lain yang sedang berpuasa dengan sikap yang mereka lakukan.

Setelah menahan gerah selama berjam-jam, akhirnya pukul empat lebih, seorang pria dengan wajah yang sedikit seram masuk ke bus kami dan duduk di belakang kemudi. Tak berapa lama setelahnya, mesin bus dinyalakan dan bus dengan perlahan mulai berjalan, meninggalkan tempat yang penuh dengan orang dan panas itu. Kelegaan menerpa kami semua.

Bus kami berbelok ke kiri dan masuk ke jalan tol. Aku memerhatikan pinggir jalan. Terlihat di sana, di luar jalan tol, kendaraan-kendaraan saling berhimpitan dan berjalan dengan lambat. Pasti mereka sangat kepanasan di dalam kendaraan mereka. Beruntunglah kami karena sudah kembali merasakan udara segar. Aku tersenyum sekilas, dan segera berpaling pada Vidiya yang duduk di sampingku. Kami mulai berbincang pelan.

Lama kami berbincang, menceritakan beberapa cerita dan kehidupan kami di asrama yang terkadang terlewat aneh untuk diceritakan. Sesekali Anik dan Dian yang duduk di belakang kami menggangguku yang sedang bercerita dan cerita pun terputus di tengah jalan. Lalu kami bercanda bersama hingga para penumpang di sekeliling kami berpaling dan menatap kami dengan penasaran. Malah ada dua laki-laki yang duduk di sebelah kanan kami yang meme$rhatikan kami. Aku sedikit takut dengan mereka. Jika mereka menatap kami, kami akan berpura-pura tak melihat mereka. Jika mereka memanggil kami, kami akan pura-pura tak mendengar dan hanya berbincang dengan suara keras. Lalu mereka akan kembali diam dan tak lagi menatap kami.

Ada pula seorang pria setengah baya yang aneh. Ia duduk di sebelah kanan Runi, namun tepisahkan oleh jalan sempit di tengah bus. Runi bercerita, pria itu menanyainya sepanjang perjalanan. Bahkan pria itu menanyakan nomor handphone Runi. Tapi hal itu tak sampai terwujud karena pria itu tak membawa handphone ataupun pulpen. Padahal Runi sudah berencana akan memberikan nomor palsu padanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.50, tapi belum juga terdengar kumandang azan. Padahal langit sudah gelap dan lampu-lampu rumah sudah dinyalakan. Kami pun sudah bersiap sambil memegang botol air minum masing-masing. Lalu, tiba-tiba saja aku mendengar azan berkumandang. Aku, yang memang duduk di dekat jendela, melongok keluar. Kudapati sebuah masjid yang ramai dengan orang-orang yang akan menjalankan shalat di pinggir jalan. Maka, dengan segera aku membuka botol air minum yang kubawa dan meneguknya dengan perasaan lega. Tanpa ragu, kami membuka beberapa bungkus snack yang kami bawa dari asrama. Kami mulai makan dan meneruskan cerita kami.

Sekitar pukul 18.30, bus kami berhenti di sebuah rumah makan. Kami bergegas menuju mushola untuk mendirikan shalat magrib dan isya’. Karena kami hanya membawa tiga mukena, terpaksa kami harus bergantian shalat. Akibatnya, kami tak sempat membeli apapun di sana.

Tak lama kemudian kami kembali ke bus dan menyantap nasi yang kami bawa dari asrama. Nasi itu sudah dingin tentunya. Bahkan, lauk yang seharusnya renyah sudah berubah bentuk. Tapi, tak apalah, toh kami masih beruntung karena masih dapat berbuka puasa. Kubuka bungkusan nasi. Lalu aku mengambil sendok yang kami ambil tanpa izin bersama dari asrama. Aku tersenyum sekilas jika ingat bahwa sendok itu hasil ‘curian’ kami. Tapi, kami berenam sama-sama berjanji akan membawanya kembali saat pulang ke asrama nantinya.

Saat bus kembali berjalan, kami belum juga selesai menyantap makanan kami. Dalam kegelapan, kami terkadang malah mengambil sambal, bukannya lauk. Sesekali kami hampir tersedak karena bus tiba-tiba berhenti. Tapi tak apalah. Lagipula ada orang yang mengiringi acara makan kami dengan lagu dangdut. Ya, ia seorang pengamen. Saat aku selesai makan, pengamen itu mendekatiku, meminta uang. Tapi aku lupa, aku memberinya uang atau tidak. Yang pasti, ia segera turun setelah itu.

Selesai makan, tiba-tiba kantuk menyerangku. Aku merebahkan diri ke belakang, menempatkan kakiku di posisi yang nyaman dan memejamkan mata. Aku mencoba untuk tidur, tapi tak berhasil. Selain karena posisi tidur yang tidak nyaman, hal itu juga dikarenakan aku sering memiliki ketertarikkan tersendiri pada suasana jalanan. Teknik mengemudi sang sopir membuatku tak mau berpaling dari jalan di depan kami.

Berulang kali aku terbangun kembali setelah akhirnya dapat tertidur. Lalu aku membenarkan posisi dudukku dan memerhatikan jalanan. Tak berapa lama kemudian aku kembali tertidur dengan kepala jatuh ke samping dan saat terbangun, leherku akan terasa sakit.

Pukul 1.00 dini hari, kami sampai di daerah pegunungan dengan jalan berkelok-kelok. Di samping kiri jalan terdapat jurang sementara sebelah kanan terdapat tebing yang cukup tinggi dengan berbagai tumbuhan tumbuh di sana. Tak ada penerangan sama sekali. Tapi, sopir bus yang kami tumpangi ini sungguh sangat cakap. Dengan kecepatan yang bisa dibilang tinggi, ia mampu membelokkan tubuh bus yang panjang di banyak belokan tajam. Tiba-tiba, hutan dan jurang di kanan dan kiri kami berganti menjadi deretan rumah-rumah. Vidiya, Anik, dan Dian langsung bereaksi. Rumah mereka sudah dekat.

Beberapa saat setelahnya, SMP 1 Parakan terlihat. Tak lebih dari lima detik setelah itu Dian berteriak kepada sang sopir untuk berhenti. Ternyata, rumah Dian hanya berselisih empat rumah dari SMP 1 Parakan, sekolahnya dulu. Bahkan menurut ceritanya, bel sekolahnya pun terdengar dari rumahnya. Dian, Anik, dan Vidiya dengan segera menurunkan barang-barang mereka dari tempat barang di atas kursi. Tak lupa mereka berpamitan pada kami yang masih akan meneruskan perjalanan ke Jogja.

Bus kembali berjalan, dan sekarang aku duduk sendirian. Tanpa pikir panjang aku pindah ke belakang, ke kursi yang baru saja ditinggalkan Dian dan Anik. Setelah itu berbincang dengan Runi dan Icha yang duduk di belakangku. Sesekali aku memejamkan mata, mencoba tidur kembali. Tapi selalu saja terbangun. Tak lama kemudian, kami telah melewati terminal Magelang yang sangat kukenal. Aku jadi teringat rumah nenek buyutku yang hanya berjarak satu setengah jam dari sana.

Pukul 3.00 kami memasuki daerah Jogja. Pada awalnya aku berencana turun di terminal Giwangan, Jogja. Tapi ternyata aku salah perhitungan. Bus yang kami tumpangi ternyata langsung menuju ke Wonosari, Gunungkidul. Terpaksalah aku ikut turun bersama Runi. Icha pun demikian. Kami berdua akan ke rumah Runi dahulu sebelum akhirnya pulang ke rumah kami masing-masing.

Sampai di rumah Runi kami masih sempat sahur. Orang tua Runi lah yang menyiapkannya untuk kami. Beliau sungguh sangat baik hati, dan aku begitu berterimakasih pada mereka. Selesai sahur, kami shalat subuh berjamaah bersama. Saat itu belum juga pukul 5.00, jadi Runi menyarankan pada kami untuk tidur terlebih dahulu. Maka, aku pun mengikuti perkataan Runi, apalagi memang aku kurang tidur saat di bus. Begitu lelapnya kami tidur, hingga tak ada yang menyadari bahwa hari telah siang.

Pukul 11 kami bertiga terbangun. Ternyata Icha telah dijemput oleh ayahnya dengan sepeda motor. Tak lama setelahnya, ibuku mengirimkan pesan ke handphoneku dan mengatakan bahwa beliau tak bisa menjemputku. Maka, dengan sangat terpaksa aku meminta tolong kepada ayah Runi untuk mengantarkanku ke halte bus trans Jogja terdekat yang jaraknya sekitar 2 km dari rumah Runi. Meskipun aku merasa tak enak pada ayah Runi, tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang aku punya.

Setelah mengucapkan terima kasih pada beliau, aku segera membeli tiket dan memasuki halte. Aku melirik sekilas ke luar untuk melihat ayah Runi berbelok dan pergi meninggalkan halte. Saat menoleh kembali ke dalam halte, aku baru sadar hanya ada dua orang yang sedang duduk di sana. Keduanya wanita dewasa. Aku tetap berdiri dengan menenteng tas sekolahku yang berat, karena tak ada lagi kursi yang kosong. Sekitar lima belas menit kemudian datanglah bus trans yang kutunggu-tunggu. Begitu pintu terbuka dan beberapa penumpang turun, aku segera melangkahkan kaki masuk. Kusapukan pandangan ke seluruh tempat duduk, dan tak kudapati satupun tempat duduk yang kosong. Maka, sekali lagi, aku berdiri masih dengan menenteng tasku yang berat.

Hingga sampai ke bandar udara, belum ada satu kursi pun yang kosong. Untunglah, di halte berikutnya, banyak orang yang turun sehingga aku bisa merebahkan punggungku yang sudah mulai terasa pegal. Semakin lama, penumpang di dalam bus semakin berkurang. Hanya tinggal sebelas orang di dalam bus saat bus mendekati terminal, dan tujuh dari mereka, termasuk aku, turun di terminal. Setelah turun, aku memerhatikan suasana terminal. Ada dua bagian di dalam terminal. Satu bagian untuk bus yang beroperasi di dalam kota dan bus-bus antar kota antar propinsi, sedangkan bagian lainnya untuk bus-bus yang beroperasi di kabupaten seluruh Jogja. Kedua bagian ini terpisahkan oleh ruang tunggu dan jika ingin melewatinya kita harus membayar Rp. 200,00.

Maka, aku dengan segera melangkah ke ruang tunggu dan membayar dengan sebuah uang logam senilai Rp. 200,00 yang kemudian dikembalikan seorang petugas dalam bentuk selembar kertas berwarna hijau kebiruan berukuran 5×5 cm. Aku terdiam sejenak dan segera memasukkannya ke saku celanaku sebelum orang di belakangku mendesakku untuk beranjak dari sana. Kupercepat langkahku karena sepertinya bus yang akan kunaiki akan segera berangkat. Beruntunglah bus itu mau menungguku yang sedang berlari dengan tergopoh-gopoh sambil menenteng tas sekolah di punggung.

Sang kernet tertawa pelan saat aku naik ke bus dengan berkeringat. Aku sudah tak memikirkan bagaimana bau tubuhku saat itu. Pasti benar-benar tak enak. Tapi apa boleh buat. Aku segera mengambil tempat duduk yang paling dekat dengan pintu. Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan keluargaku. Bus jurusan Srandakan-Jogja itu segera meninggalkan terminal bahkan sebelum aku duduk. Di dalam bus hanya ada lima orang—aku, sopir, seorang kernet, seorang anak perempuan seumurku, dan wanita dewasa. Dengan kecepatan tinggi bus melaju di jalanan yang lumayan sepi. Lalu tba-tiba bus membelok ke kanan, ke Jl. Parangtritis. Bus kembali berbelok ke kiri di Pojok Beteng Timur. Tapi kemudian berhenti di sana. Tentu saja untung menunggu penumpang yang akan naik.

Tak lama setelahnya seorang anak kecil masuk ke dalam bus dengan membawa sebuah gitar kecil. Wajahnya terbakar matahari dan peluh membasahi keningnya. Pakaiannya kotor dan ia tak memakai alas kaki. Aku memerhatikan dirinya selama beberapa saat sebelum akhirnya ia mulai mendendangkan sebuah lagu dengan suara sumbang. Aku mencoba untuk mendengarkan dengan nyaman, lalu setelah ia selesai, aku memberikan padanya beberapa uang logam, dan ia pun pergi.

Setelah anak itu menghilang dari pandangan, tak ada lagi satu pengamen pun yang masuk ke bus yang kutumpangi. Keadaan menjadi hening kembali. Yang terdengar hanya deru mesin yang meraung-raung tak berirama yang malah merusak telinga. Kuperhatikan sang sopir dari kaca penumpang yang terpampang di bagian tengah depan. Wajahnya terlihat menakutkan, sehingga aku tak berani melirik padanya lagi.

Hampir satu jam hingga akhirnya bus berjalan kembali. Beberapa kilo meter kemudian bus berbelok ke kiri, ke Jl. Bantul yang sudah sangat kukenal. Lebih dari setengah jam bus melaju di jalan ini. Hingga tiba-tiba bus berbelok ke kanan. Itulah Jl. Srandakan. Jalan yang akan membawaku ke rumah. Selama lebih dari setengah jam kemudian bus melewati sebuah pasar yang kukenal dengan nama pasar Mangiran. Di sinilah akan di adakan pasar malam selama tiga hari tiga malam setelah lebaran. Beberapa menit setelahnya rumah-rumah di kanan kiri jalan berubah menjadi rumah yang lebih kukenal. Di sanalah, ada sebuah jalan masuk yang akan mengantarkanku ke rumah yang sangat kurindukan.

Aku segera berdiri dan beberapa meter sebelum sampai di belokan aku berseru pada sopir bus untuk berhenti. Saat turun, aku kembali menghirup udara segar daerahku. Sungguh berbeda dengan suasana Jakarta yang panas dan pengap. Saat kupalingkan wajahku ke pinggir jalan, kudapati ada seorang wanita dewasa yang sedang duduk di atas motor. Tak perlu waktu lama bagiku untuk menyadari siapa wanita itu. Benar saja dugaanku, setelah kudekati, ia memang ibuku. Ternyata beliau sudah menungguku selama dua jam. Karena merasa bersalah, aku kemudian menjelaskan semua hal yang terjadi selama perjalanan. Beliau pun memahami.