Catatan Libur Lebaran September 2008 (part 2)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Nekat!!

Selama beberapa hari setelah kepulanganku, aku hanya duduk di depan komputer setiap harinya, meneruskan novelku yang terlantar selama aku berada di sekolah. Setiap pagi, aku hanya sendirian karena seluruh keluargaku masih sekolah. Tapi dengan adanya komputer, aku merasa tertolong. Selain untuk menyalurkan bakat menulisku yang hanya sedikit, tapi aku juga bisa mendengarkan lagu ataupun main game untuk mengurangi kebosanan dan mencari inspirasi menulis. Begitulah yang kulakukan setiap harinya. Tak ada yang berubah setiap harinya.

Hingga pada suatu hari, setelah adikku libur, kami berdua berencana pergi ke Gramedia untuk membeli beberapa komik dan novel. Awal mulanya, aku meminta ibuku untuk mengantarku, tapi berhari-hari menunggu, ibuku tak kunjung mengajakku. Akhirnya aku menawarkan ajakan pada adikku yang memang ingin pergi ke sana berdua denganku. Sekalian untuk melepas rindu. Alasan lain adalah jika aku bersama ibuku, maka adikku tak mungkin diajak karena motor hanya boleh dinaiki dua orang, apalagi aku memang belum memiliki SIM. Maka, jika kami naik bus, selain menghemat biaya, kami juga bisa pergi ke manapun tanpa harus mengkhawatirkan motor yang dititipkan.

Jadilah kami berdua—aku dan adikku—pada hari Sabtu, tanggal 27 September 2008 pukul 9.00, pergi ke Gramedia dengan nekadnya. Dari rumah kami naik sepeda hingga Jl. Srandakan. Saat menitipkan sepeda pada tukang parkir, ia sempat menanyaiku tentang tujuan kami. Orang itu sudah sangat kami kenal. Apalagi dulu aku sering kali menitipkan sepeda di sana saat akan ke Bantul untuk menjalani pelatihan persiapan OSN. Kami berdua hanya tersenyum sekilas, malu untuk menjawab pertanyaannya karena aku merasa kami terlalu nekad.

Tak sampai satu menit kemudian, sebuah bus datang dari arah kiri dan berhenti di seberang jalan. Setelah membalas senyum sang tukang parkir, kami pun menyeberang jalan dan duduk di kursi paling belakang. Ada seorang laki-laki dewasa di sana yang sedang memalingkan muka ke jalan di sebelah kanannya. Setelah satu penumpang lain naik, bus pun berangkat. Meninggalkan asap bus yang berbau tak sedap.

Beberapa menit kemudian bus melewati pasar Mangiran yang saat itu sudah mulai dipenuhi oleh orang-orang yang akan mendirikan stan-stan mereka. Langit mendung saat itu, hingga kami ragu untuk tetap meneruskan perjalanan. Tapi, kami sudah membayar bus dan kami tak mau menyia-nyiakannya, apalagi menyerah pulang. Maka, aku meyakinkan adikku bahwa segalanya akan baik-baik saja. Untunglah ia setuju untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan yang membosankan itu, aku bercerita tentang sekolahku padanya. Tentang teman-temanku, dan apa yang kulakukan di sekolah selama satu setengah bulan sebelum liburan. Ia pun menceritakan bagaimana sekolahnya. Sesekali ia memberitahuku keadaan beberapa teman SMPku yang sudah mulai terlupakan. Maka, sejak hari itu, aku ingat kembali tentang mereka. Aku juga jadi ingat tentang teman sebangkuku yang bernama Anjar yang tinggal di belakang pasar. Hanya kami berdualah dari kelas 3D yang sudah mendapat sekolah, bahkan sebelum nilai UAN diumumkan. Ia sekolah di Sekolah Menengah Farmasi, dan aku di SMA Kharisma Bangsa. Bedanya hanyalah sekolahnya masih di Jogja, bahkan di jantung kota Jogja, sedangkan aku? Sekolahku bahkan belum pernah dilihat adikku.

Tanpa terasa, bus yang kami tumpangi sudah sampai di Pojok Beteng Barat dan itu berarti, sebentar lagi aku harus turun. Tepat di depan SMA 7 Yogyakarta aku dan adikku turun. Sebenarnya tujuan utama kami adalah halte bus trans yang ada di seberang jalan. Dari sana, kami akan menuju toko buku Gramedia yang sangat termasyur itu. Sebelum membeli tiket, aku dengan kerepotan mencari uang senilai Rp. 6.000.00 guna membayar tiket bus trans untuk dua orang. Jika ingin naik bus trans, kita harus membayar tiket dengan uang pas, seperti yang tertulis di kertas yang ditempel di kaca, berbunyi: bayar dengan uang pas. Tapi aku hanya dapat menemukan uang lima ribuan di dalam dompetku. Untunglah adikku membawa uang seribuan sehingga masalah kami pun beres sudah.

Setelah membeli tiket, kami masik ke ruang tunggu yang penuh dengan orang-orang yang entah akan pergi ke mana. Agar lebih jelas lagi, aku bertanya pada kakak penjaga loket tentang jalur bus yang harus kunaiki. Ternyata kami harus naik bus jalur 3B. Jika diingat kembali, aku jadi teringat kembali saat pertama kali aku naik bus trans. Saat itu aku naik bus jalur 3A. Karena di dalam bus tertulis “AREA BEBAS ROKOK DAN COPET” maka aku merasa aman di dalam bus. Tapi saat aku turun, aku baru menyadari bahwa handphoneku hilang. Aku yakin sebelum aku naik, aku masih menggenggamnya di tanganku. Lalu kumasukkan tas dan selama perjalanan, hanya satu orang yang duduk di sampingku. Sekalipun ini salah satu buruk sangka, tapi memang hanya itulah satu-satunya kemungkinan yang ada. Handphone itu tidak jatuh di dalam bus. Tidak pula terselip di dalam tas. Apalagi memang orang itu sempat pindah tempat duduk ke sampingku. jadi, aku berprasangka bahwa orang itulah yang mengambilnya dari tasku.

Lamunanku buyar saat ada bus yang datang dan pintu yang menghubungkan kami dengan bus terbuka. Setelah meyakinkan diri bahwa bus yang kami naiki benar, aku segera melangkahkan kaki sebelum pintu tertutup. Aku langsung menuju kursi kosong terdekat dan duduk di sana. Lalu langsung berbincang riang dengan adikku. Itu adalah pertama kali adikku naik bus trans. Jadi, aku menjelaskan kepadanya seluk beluk kota Jogja yang sedikit kukenal.

Setelah dua puluh menit berjalan, akhirnya bus berhenti di halte tempat kami akan berpindah bus karena bus jalur 3B tidak melewati toko buku Gramedia. Maka, kami pun turun bersama beberapa penumpang lain sehingga halte semakin sesak. Setelah lebih dari satu menit, aku baru sadar, ada sepasang suami istri yang keduanya tunanetra. Mereka duduk merapat satu sama lain—saling menjaga. Banyak para calon penumpang yang juga memerhatikan mereka. Aku merasa iba dengan keduanya karena sama-sama tunanetra. Tapi aku juga terkesan pada mereka karena kebersamaan mereka.

Bus yang kami tunggu akhirnya tiba juga. Kami segera melangkah naik, diikuti oleh banyak penumpang lain. Kedua orang itu juga naik ke bus yang sama. Selama lebih dari setengah jam kami duduk di dalam bus sambil mengobrol. Lalu halte bus pun terlihat dan kami bersiap untuk turun. Dari halte, kami masih harus berjalan sekitar seratus meter untuk mencapai toko buku Gramedia.

Aku memang sengaja meluangkan waktu untuk ke sana karena Granedia di Jogja berukuran lebih besar dan lebih lengkap dari pada Gramedia yang berada di sekitar sekolah. Maka dari itu, aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Langsung saja aku menyambar beberapa buku yang memang ingin kubeli sejak masih berada di sekolah. Sementara itu, adikku hanya melihat-lihat. Sesekali ia memperlihatkan buku yang menarik padaku. Namun sayang, aku belum mampu membelinya.

Pukul setengah dua belas, kami beranjak dari toko buku dan kembali menuju halte bus trans yang cukup jauh dari toko. Kurang dari satu jam kemudian kami sampai di Malioboro. Tapi tempat pertama yang kami kunjungi adalah ‘shopping’. Nama untuk tempat penjualan buku murah di Jogja. Di sana kita dapat memperoleh segala jenis buku. Dari buku yang paling baru dan bahkan paling tua sekalipun dengan harga yang terjangkau. Sering kali saat aku masih sekolah di Jogja, aku pergi ke sana bersama ibuku untuk membeli buku ataupun komik. Di sini kita dapat memperoleh buku yang bagus dengan harga yang murah jika kita pandai menawar.

Setelah selesai berkeliling di sana, kami segera melangkahkan kaki menuju jalan Malioboro yang penuh sesak di kedua sisi jalannya. Kami melihat-lihat pakaian dan benda-benda menarik yang dijual di sepanjang sisi jalan Malioboro yang penuh sesak oleh orang-orang yang juga seperti kami. Begitu sesaknya hingga terkadang kami tak bisa bergerak maju ataupun mundur.

Pukul tiga sore sudah menjelang. Inilah saatnya kami untuk pulang. Kami segera menuju halte bus trans yang terdekat dan membeli tiket. Cukup lama kami menunggu datangnya bus. Begitu bus terlihat di ujung jalan, semua orang segera berdiri dan mendekati pintu yang akan menghubungkan halte dengan bus. Beberapa orang telah keluar dari bus, maka giliran kami untuk masuk.

Sesudah berada di dalam bus, aku langsung mengambil tempat duduk yang menghadap ke samping, lalu membuka bungkusan buku yang baru saja kubeli. Sementara itu adikku duduk di sampingku dan mulai terlelap karena kelelahan. Apalagi saat itu masih bulan puasa. Beberapa kali kernet bus meneriakkan nama-nama halte yang akan dilewati bus kami, tapi aku sama sekali tak menghiraukan.

Satu jam kemudian, kernet bus meneriakkan nama terminal Giwangan. Aku tersentak kaget karena sepertinya halte dimana kami seharusnya turun telah terlewat. Tapi aku masih berprasangka bahwa aku hanya khawatir. Setengah jam kemudian kami semakin menjauh dari halte tempat pertama kali kami naik. Aku semakin khawatir. Tapi aku masih mencoba meyakinkan diri bahwa kami memang benar.

Lalu, kekhawatiran itu mencapai puncaknya ketika jam menunjukkan pukul 17.00 dan jalan yang kami lewati semekin dekat dengan tempat awal kami naik bus, Jl. Malioboro. Seketika aku berdiri dan menyadari bahwa memang halte tempat kami seharusnya turun sudah terlampau sangat lama. Bus kembali berhenti di halte yang dua jam lalu kami singgahi. Aku menatap kernet, menyalahkan dirinya yang tak menanyakan tujuan kami. Meskipun itu tak sepenuhnya salah kernet, malah sebenarnya kami yang lebih salah.

Maka selama perjalanan setelahnya aku dan adikku berdiri agar dapat melihat jalan sepenuhnya dan kami tidak melewatkan halte yang kami maksud. Pukul 17.15, halte tempat kami turun sudah terlihat. Maka aku dan adikku pun segera mendekati pintu bus. Begitu pintu terbuka, kami langsung menghambur keluar dan berlari menuju bus jurusan Srandakan terakhir yang sedang menunggu penumpang di pertigaan. Aku berteriak pada kernet bus untuk menunggu kami, untunglah kami masih sempat.

Seperti yang sudah aku khawatirkan, kami memang tak dapat berbuka puasa di rumah. Bus terakhir selalu setia menunggu penumpang yang mungkin kemalaman, sehingga bus selalu terlambat, bahkan lebih dari setengah jam, untuk sampai ke tempat tujuan. Bus semakin sesak setiap kali bus berhenti untuk mengambil penumpang. Hari juga semakin malam dan lampu-lampu jalanan sudah sepenuhnya menyala.

Tepat ketika bus melintas di depan Masjid Agung Manunggal Bantul, terdengar kumandang azan yang membahana. Aku dan adikku saling pandang. Kami tak memiliki makanan apapun untuk membatalkan puasa. Lalu, pandanganku tiba-tiba terpaku pada sosok yang sudah kukenal sejak kecil. Ternyata di samping kami berdua duduk tetangga kami yang juga masih memiliki hubungan saudara dengan kami. Ia yang juga melihat kami, kemudian menawarkan air minum untuk membatalkan puasa kami.

Alhamdulillah…

Setengah jam kemudian, sampailah kami di tempat penitipan sepeda. Kami segera membayar dan menaiki sepeda dengan mengerahkan segenap tenaga kami yang masih tersisa. Tapi karena kami sudah sangat kelelahan, maka kecepatan sepeda kami pun hanya pelan—tak bertenaga. Sampai rumah jam sudah menunjukkan pukul 18.30. Untunglah kedua orang tua kami mau memahami, sehingga kami pun tidak dimarahi.