Catatan Libur Lebaran September 2008 (part 3)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Lebaran

Akhirnya sebulan sudah kami berpuasa menahan segala jenis hawa nafsu yang terus menggoda. Saatnya kami mengumandangkan takbir. Sejak sore pada hari terakhir puasa, aku dan adikku sudah bersiap untuk pergi ke masjid. Maklum, pada malam takbiran, desa kami sangat ramai oleh kumandang takbir yang membahana sepanjang malam.

Aku ingat, saat masih kecil, aku dan adikku selalu manantikan malam takbiran. Sejak beberapa hari sebelumnya kami sudah repot mencari bambu untuk membuat oncor. Tapi sekarang sudah tak ada lagi anak-anak yang mencari bambu, mengisinya dengan minyak tanah, dan menyumbat ujungnya dengan kain kumal. Sekarang banyak dari anak-anak itu lebih memilih membeli lampion-lampion yang bercahaya redup.

Sejak sore hari kami sudah bersemangat. Apalagi aku. Aku sangat menantikan suasana seperti itu. Begitu menyejukkan hati.

Pukul 19.00 kami berangkat menuju masjid yang hanya berjarak 200 meter dari rumahku. Kami yang masuk dalam organisasi keputrian desa kami segera menuju sebuah rumah. Di rumah itulah kami mempersiapkan segala keperluan takbiran. Tepat ketika kami selesai mengangkat semua makanan untuk pengajian itu, rombongan takbir keliling sudah bersiap. Kami hampir saja bergabung saat tiba-tiba seseorang menegurku dan memintaku untuk membantunya.

Akhirnya aku merelakan untuk tidak ikut takbir keliling dan membantu orang itu. Setelah lima menit kepergian robongan itu, barulah aku tahu bahwa terjadi kesalahpahaman. Ternyata segalanya sudah beres dan orang tersebut tak lagi membutuhkan bantuanku. Tanpa pikir panjang, aku menyambar salah satu lengan temanku dan berjalan dengan sangat cepat. Kami berdua bermaksud untuk menyusul rombongan itu. Aku semakin mempercepat langkah saat kutahu bahwa adikku juga ikut takbir keliling.

Ada beberapa orang yang juga bermaksud menyusul rombongan takbir itu. Tapi karena mereka berjalan dengan sangat perlahan, maka akhirnya aku dan temanku memutuskan untuk meninggalkan mereka. Beruntung, satu hari sebelumnya aku sudah melihat rute takbir yang dibuat kakakku, sehingga kami tidak kesulitan sama sekali untuk menemukan mereka. Benar saja, beberapa ratus meter dari masjid kami menemukan rombongan takbir yang sedang bergerak pelan.

Ketika kami sudah masuk ke dalam rombongan, kami langsung berjalan dengan pelan. Lalu bersikap seolah kami memang sudah sejak awal ikut dalam rombongan. Selama perjalanan yang lumayan panjang itu, aku benar-benar menikmatinya. Sambil terus mengumandangkan takbir aku menatap sekeliling kami yang gelap gulita. Mengingat kembali kenangan saat aku masih kanak-kanak. Sungguh menyenangkan masa kanak-kanakku dulu.

Malam itu berjalan dengan sungguh sangat menyenangkan bagiku yang sudah lama tidak pulang ke rumah.

***

Pagi harinya kami berangkat ke lapangan untuk mengikuti shalat Idul Fitri. Aku berangkat bersama adikku. Sayangnya kami berdua tidak dapat mengikuti shalat tersebut karena suatu alasan. Tapi, kami yang juga ikut dalam organisasi keputrian mendapat tugas untuk mengedarkan kotak infak. Maka langsung saja aku dan adikku mengambil kotak infak dan berjalan sepanjang saf sambil menunduk. Karena panjang lapangan lebih dari seratus meter, maka ketika sampai di ujung satunya, punggung kami sudah pegal-pegal.

Nah, karena hari sudah semakin siang, maka jamaah segera berdiri. Saat itu aku dan adikku masih berada di tengah-tengah para jamaah. Maka kami kelimpungan. Aku mempercepat langkah menuju ke ujung saf. Untunglah para jamaah sudah mempersiapkan uang untuk mengisi kotak infak sehingga tugasku pun selesai dengan cepat dan ketika shalat dimulai kami berdua sudah keluar saf.

Begitu shalat selesai, kami segera meneruskan tugas kami. Tak butuh banyak waktu bagi kami untuk menyelesaikannya. Begitu khotbah selesai, aku dan adikku membantu mengumpulkan semua kotak infak. Bapak dan ibuku juga masih berada di sana, sehingga kami ikut membantu mereka membersihkan lapangan yang penuh dengan koran.

Setelah semuanya selesai, kami pun pulang ke rumah. Sampai di rumah, aku dan adikku segera mendatangi kakek dan nenek kami. Meminta maaf  dan memohon doa restu kepada mereka yang sudah berusia lanjut. Setelah kami selesai, kami sama-sama mendatangi bapak kami. Baru setelahnya kami mendatangi ibu kami. Tak lupa, sebagai saudara, kami bersalaman dan saling meminta maaf. Memang mungkin pada akhirnya kami akan tetap bertengkar, tetapi, di hari lebaran, kami selalu berusaha akur.

Pukul 9.00 terdengar suara panggilan dari masjid. Setiap lebaran, masjid di desa kami selalu melaksanakan budaya syawalan sejak lama. Maka aku pun bergegas pergi ke masjid bersama keluargaku dengan hanya berjalan kaki. Ketika sampai di masjid, aku baru menyadari, ternyata tak banyak yang kukenal di desaku. Apalagi sekarang aku sudah sekolah di tempat yang jauh dari rumah. Sehingga, secara otomatis pergaulan sosialku dengan para tetangga terganggu. Bahkan macet.

Aku bertemu dengan teman satu SD dan TK. Tak ada teman SMPku yang tinggal di desaku. Jadi meskipun aku sangat berharap untuk bertemu dengan mereka, hal itu sangat mustahil. Kecuali aku dengan sengaja mengajak mereka ke sana. Acara berlangsung cepat. Bapakku lah yang membaca Al Quran, sementara malam sebelumnya kakakkulah yang diberi tugas untuk membaca Al Quran. Aku sangat menyukai suara bapakku saat melantunkan ayat-ayat Al Quran. Seperti kata sebuah buku, “Meskipun kita tidak tahu artinya, tapi membaca dan mendengarkan lantunan Al Quran dapat membersihkan dan menyejukkan hati kita.”

Syawalan selesai sebelum jam 11.00. Selama sesaat kami hanya duduk di dalam rumah dan menunggu tamu yang akan datang. Kami sendiri hanya tinggal memiliki sedikit sanak saudara karena beberapa di antaranya sudah berpulang ke sisi Allah. Maka kami pun memutuskan untuk berkunjung di hari ke2 dan menggunakan hari pertama untuk menerima tamu.

Maka hari itu, sejak pukul 13.00, kami sibuk menerima tamu.

Metik Cengkeh

Sudah 5 hari lebaran berlalu dan inilah saatnya bagi kami untuk mengunjungi nenek buyut kami yang berada di Salatiga, Jawa Tengah. Aku sudah menantikan hari itu sejak lama. Rumah nenekku berada di kaki gunung Merbabu yang dengan hawa yang sejuk. Di belakang rumah nenekku terbentang ladang pertanian yang akan membawa kita ke hutan jika kita menyebaranginya. Di sekitar rumah nenekku tumbuh bunga mawar dengan berbagai warna yang memukau. Tapi, jika aku menanamnya di rumah, pasti bunga yang dihasilkan tidak seindah di sana, habitat aslinya.

Maka, pada hari kelima yang aku tunggu-tunggu, aku bangun paling pagi dari semua orang di rumah. Segera saja aku bersiap dan membangunkan yang lainnya. Pukul 7.00 kami berangkat dari rumah dengan naik bus. Kami harus berganti bus sebanyak tiga kali untuk sampai ke sana. Bahkan kami juga harus naik angkot yang akan membawa kami tepat ke depan rumah nenek kami. Semua perjalanan melelahkan itu memakan waktu hampir lima jam.

Pukul 1 siang, setelah sempat mampir ke rumah makan untuk beristirahat, akhirnya kami sampai di rumah nenek buyut kami yang sudah selama setahun ini tidak kami temui. Umur beliau sudah hampir 100 tahun. Kedua matanya sudah tak dapat digunakan untuk melihat. Hal itu dikarenakan penyakit tuanya, juga karena kecelakaan yang pernah dialaminya saat aku masih SD.

Aku ingat, dulu saat aku datang, beliau selalu menyambut kami dengan senyum yang mengembang dan segera menggendong kami satu per satu. Mencium kami dan mengangkat kami tinggi-tinggi ke udara. Tapi, saat ini, saat kurasa aku bahkan sudah dapat menggendong beliau, beliau tak dapat lagi menyambut kami dengan senyumnya di depan rumah. Keadaan kedua matanya membuatnya tidak dapat keluar rumah. Selain itu, beliau tidak dapat turun dari tempat tidurnya. Beliau tak kuat bahkan untuk menopang tubuhnya. Hal paling berat yang mampu beliau lakukan hanya duduk.

Begitu sampai di rumah nenek buyut kami, kami segera menuju ke kamar beliau dan melakukan ‘sungkem’ secara bergantian, dimulai dari ibuku. Setelah itu, kami harus mengunjungi setiap rumah di sepanjang jalan utama desa, karena semua penduduk di desa itu adalah sanak saudara kami meski ada juga yang saudara jauh dan tak begitu kukenal—bahkan kadang tidak kukenal sama sekali.

Satu hal yang terkadang membuatku enggan untuk ikut berkunjung meskipun sangat menginginkannya. Hal itu dikarenakan orang-orang sana selalu mempersilakan tamunya untuk makan nasi. Meskipun mereka mengatakan hanya mempersilakan, tapi bagiku, mempersilakannya mereka sama dengan menyuruhku untuk makan. Berulang kali aku menyembunyikan diri di belakang ibuku agar mereka tak memaksaku untuk makan. Terkadang kalau sudah ketahuan aku hanya pura-pura makan, atau setidaknya mengambil tiga sendok makan nasi.

Sayangnya bapakku hanya mengizinkan kami untuk menginap selama sehari saja. Selebihnya kami tidak diperbolehkan. Karenanya aku berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan mengunjungi sepupu atau tante kami yang masih seumuran. Kami sudah mereka anggap sebagai keluarga sendiri, bukan hanya sekedar sanak saudara jauh. Bapak dan kakakku bahkan tidak tidur di rumah nenek buyut kami, mereka tidur di rumah sanak saudara kami yang lain.

Pagi harinya kami menyempatkan untuk masuk ke hutan. Dengan hanya berlandaskan kenekatan, kami—aku, adikku dan bapakku—melangkah menuju hutan dengan percaya diri. Kami sama sekali belum pernah melewati jalan yang kami ambil waktu itu. Jadi kalau tersesat kami hanya berharap dapat melewati kembali jalan awal.

Kami mendaki ke bukit yang lumayan tinggi dan membuat badan berkeringat. Kami memetik beberapa jenis bunga yang belum pernah kami lihat sebelumnya, meskipun bagi penduduk desa sana bunga-bunga tersebut hanya dianggap sebagai rumput biasa. Tapi tetap saja kami membawanya pulang. Sempai di puncak bukit, kami dapat melihat desa sepenuhnya. Desa yang bernama Tajuk itu hanya sepanjang 500m dengan rumah yang berdiri di kanan-kiri jalan. Jauh di bawahnya aku melihat pemandangan kota yang samar-samar. Di belakang kami berdiri gunung Merbabu yang menjulang tinggi.

Selama beberapa saat kami tetap terpaku di sana dan menikmati pemandangan. Aku memerhatikan puncak gunung. Aku ingin ke sana. Banyak sanak saudaraku yang sudah pernah ke sana. Ada juga yang mengatakan bahwa di puncak sana terhampar bunga edelweiss yang kecil dan putih itu. Bunga keringnya dapat bertahan hingga 7 tahun asalkan tidak tersentuh air sama sekali selama itu. Itu adalah bunga yang indah dan sangat sederhana.

Setelah matahari mulai meninggi, kami turun dari bukit yang lumayan terjal dan pulang ke rumah nenek. Setelah semua persiapan pulang selesai, dan badan juga sudah bersih, kami tinggal menunggu hari mulai siang. Pukul 10.00 aku menyempatkan diri mengunjungi sanak saudaraku yang paling dekat denganku. Tapi sayangnya tak ada orang di rumah.

Maka akupun dengan senang hati menyusul nenekku yang lain itu ke ladang setelah sepupuku memberitahu. Aku sangat tertarik saat ia mengatakan nenekku yang lain itu sedang memetik cengkeh yang memiliki andil besar dalam pembuatan rokok. Tak jauh ternyata ladang nenekku yang ditanami cengkeh. Ia menyambut kami dengan senang hati. Selama ini tak ada yang membantunya memetik cengkeh. Suaminya pergi ke Kalimantan dan bekerja di sana. Sementara anak-anaknya sekolah dan ada pula yang harus menjaga rumah.

Aku dan adikku segera saja memanjat pohon dan mulai memetik cengkeh setelah bertanya banyak hal tentang cengkeh padanya. Ternyata memetik cengkeh itu membutuhkan keberanian yang besar. Jika tidak, tak akan ada cengkeh yang bisa kita dapat. Aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berani menapak di dahan yang kecil. Sementara nenekku dengan santainya menapak ke ujung-ujung dahan sambil terus sibuk memetik cengkeh.

Pada akhirnya aku sudah sangat menikmati memetik cengkeh tanpa merasa takut lagi. Tapi sayang, saat menjelang tengah hari, ayahku datang dan menyuruh kami untuk bersiap-siap. Maka dengan berat hati aku dan adikku turun dari pohon dan setelah berpamitan kami pun pulang ke rumah nenek buyut kami. Pukul 1.30, setelah shalat zuhur kami pun pulang ke rumah kami yang sesungguhnya.

Dan Libur pun Telah Usai

Sudah hampir tiga minggu aku di rumah. Sudah saatnya lah aku kembali ke sekolah. Aku memutuskan untuk pulang hari Sabtu agar saat sampai di asrama, aku masih memiliki waktu untuk berbenah. Aku dan ayahku membeli tiket hanya dua hari sebelum berangkat. Menurut perhitungan kami, saat itu orang yang membeli tiket tidaklah banyak. Ternyata memang benar dugaan kami, begitu ditanyakan pada penjual tiket.

Maka, selama dua hari setelahnya aku sibuk mempersiapkan kepulanganku ke asrama. Apalagi banyak orang yang meminta untuk membawakan buah tangan dari Jogja. Aku pun tidak kesulitan untuk mencari tahu buah tangan apa yang mereka minta. Karena semua orang sudah mengecap bahwa Jogja=bakpia. Jadi, aku meminta ibuku untuk bersusah payah membelikannya khusus untuk anak asrama.

Hingga hari keberangkatanku, aku hanya di rumah dan meneruskan kegiatan mengetikku yang menyenangkan. Liburanku pun akhirnya selesai.

***