Speak Up Our Mind

by nuzuli ziadatun ni'mah


Same as the title, what I want to talk here is ‘speak up our mind’ (that actually my tumblr’s title: here). But this just my thought, so don’t think about this further if you don’t like it.

listen first, talk later

 

Nggak semua orang punya keberanian yang cukup untuk bicara jujur di depan orang lain. Saya pun bukan orang yang dengan mudahnya bisa bicara jujur di depan orang lain tentang semua hal. Karena jelas banget ada banyak hal yang memang nggak ingin kita bicarakan di hadapan banyak orang. Dan untuk menjawab postingan dari kakak angkatan saya, Hendro Prasetyo tentang konteks ini, rasanya saya juga mau memberikan opini saya tentang hal itu.

1. Kita ga yakin banget sama apa yang kita mau.

Untuk yang ini saya no comment, karena memang itu juga yang sering terjadi pada saya.

2. Kita takut ucapan kita menyinggung pihak-pihak tertentu.

Dan ya, yang ini saya juga setuju. Tapi, sekarang saya udah punya pemecahannya sendiri. Saya orang yang butuh dikritik, dan saya sering bilang itu ke orang lain. Saya juga orang yang bisa dikatakan menerima ucapan orang lain, asal itu bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, karena menganut prinsip:

Saya tidak suka melakukan sesuatu yang tidak ingin orang lain lakukan pada saya.

– nuzulizn

Akhirnya saya pun berprinsip tentang sebaliknya juga, yang akhirnya membuat saya menganggap orang yang mengkritik saya mau dikritik juga. Sebetulnya ini hanya masalah kesepakatan. Asal kitanya mau menerima, orang lain akan dengan mudah menerima juga apa yang kita bicarakan. Singkatnya, balikin dulu ke kitanya, baru diungkapkan.

3. Kita mau lawan bicara kita tahu sendiri apa yang kita mau.

Saat membaca poin ini, saya jadi berpikir, is that so? Apa lagi di bawahnya ada tambahan, “terutama para wanita yang selalu ingin dimengerti.” (tiba-tiba teringat sama sebuah lagu)

sometimes it turn into one way conversation

picture source

Yah, kalau menurut saya pribadi, emang itu sifat bawaan kami, sama halnya dengan “para lelaki yang selalu ingin diterima.” Kita adalah orang yang berbeda, dan punya kebutuhan dasar yang berbeda, seperti yang sudah pernah saya post di sini. Jadi, memang harus ada timbal balik antar keduanya bukannya merubah kebutuhan itu, karena itu sesuatu yang memang sudah ada.

Apalagi mengingat sekarang ada blog yang bisa dipakai untuk menulis banyak hal, saya sudah menganggap itu sebagai ‘bicara’. Karena terkadang dengan menuliskan sesuatu itu akan lebih tersampaikan dibanding saat kita bicara langsung. Bukan karena nggak berani, tapi saat bicara langsung biasanya apa yang di otak dan apa yang keluar dari mulut itu berbeda, makanya malah jadinya salah paham kan.

Yah, ini hanya opini semata, yang awalnya karena saya nggak mau menerima poin ke 3 yang dibicarakan kakak angkatan saya ini. Jadi silahkan dikritik saja….