Damn it!

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sedih, marah, merasa bersalah. KESAL. Itulah mungkin yang bisa mendeskripsikan perasaan saya saat ini. Bayangkan, baru 2 minggu yang lalu akhirnya saya punya hp baru, yang bisa dibilang nggak murah dan perlu cukup perjuangan untuk memintanya pada ibu saya. Walhasil, hari Jumat 2 minggu lalu saya berhasil mendapatkannya, tepat seminggu setelah hp lama saya wafat (baca di Death End). Tapi sayang sekali, saya harus kehilangan hp lagi. Cih! Saya merasa seperti orang bodoh yang jatuh di lubang yang sama berkali-kali.

Berawal dari rencana saya menggambar di Malioboro untuk memenuhi tanggungan saya, akhirnya saya mengajak adik saya ke sana sekalian belanja, mengingat Minggu ini adalah hari libur terakhir untuk adik saya. Awalnya saya berencana membawa tas sekalian untuk tempat hp saya yang memang mungil dan rawan jatuh. Tapi berhubung adik saya udah bawa, akhirnya saya hanya menitipkannya pada adik saya itu. Selama kami jalan-jalan, saya nggak sekalipun menanyakan si hp mengingat memang lagi nggak bisa buat sms—nggak tau kenapa.

Setelah 2 jam jalan-jalan, barulah adik saya menyadari bahwa si hp putih mungil yang sangat saya sukai desainnya itu hilang dari tempatnya. Jelas saja kami panik, mengingat sebelum berangkat memang bapak saya sudah mewanti-wanti untuk hati-hati. Bagaimanapun yang kali ini rasa bersalah dan kesal saya bukan karena seberapa berharganya hp itu buat saya atau seberapa penting nomor yang ada di dalamnya, tapi lebih ke harga hp yang sesungguhnya. Itu bukan sesuatu yang bisa kubeli dengan uang yang kumiliki sendiri. Dan saya merasa bersalah karena merasa menyepelkan pemberian orangtua saya.

Damn it!!

Mungkin itu kata yang cocok untuk apapun itu yang merampasnya dari saya. 2 kali saya mengalaminya, dan rasanya saya nggak ingin lagi punya hp, jadi nggak perlu kehilangan dan merasa kesal lagi. Jika hp pertama saya hilang karena kecerobohan saya, orang tua saya masih merasa maklum, karena itu hp pertama saya dan memang saya sudah berhati-hati. Tapi untuk yang sekarang, saya sendiri masih nggak tau mau mengatakan apa walau setelah orangtua saya memberikan kuliah kehati-hatian sebanyak 3 SKS.

Jika saja membunuh orang itu nggak dosa dan nggak akan masuk penjara, maka list ‘most wanted’ saya pasti sudah dicentang semua.

–nuzulizn

And still, damn it!!