Friendometer

by nuzuli ziadatun ni'mah


Suatu hari saya pernah terpikirkan akan sesuatu; haruskah teman dan sahabat dibedakan? Entah. Hanya itu jawaban yang saya temukan.

Selama ini saya selalu menganggap bahwa saya nggak punya sahabat, yang ada hanya teman dan saudara. Yang saya anggap sebagai sahabat adalah peralihan antara teman dan saudara. Mungkin kedengarannya aneh, tapi itulah yang selama ini saya pegang. Teman yang dekat adalah adik atau kakak, sedangkan teman yang hanya sekedar teman adalah ‘tetangga’. Entah bagaimana saya membedakan keduanya, tapi tubuh saya selalu bergerak sendiri sesuai dengan siapa saya melakukan sesuatu.

Sedangkan friendometer, rasanya saya nggak akan tahu apa itu, dan bagaimana mendeskripsikannya. Itu sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, lebih karena saya tidak tahu apa itu sebenarnya. Karena seperti yang saya bilang, persahabatan itu tidak bisa diukur, tapi dirasakan dengan hati.

Kadang kala walau merasa dekat, tapi sebenarnya jauh. Atau kita sangat dekat, tapi terlihat jauh.

–nuzulizn

Setelah saya pikirkan, saya merasa tahu mengapa kadang kita merasakan hal itu. GENGSI. EGO. Itulah alasan-alasan kenapa kita terasa jauh, padahal sebenarnya kita bisa dekat.

Saya sendiri bukan orang yang akan dengan pe-denya menyapa orang yang baru saya kenal, apalagi orang yang lebih tua. Yah, seperti yang sudah pernah saya katakan, hanya senyum yang bisa saya berikan. Dan walaupun saya yakin itu bisa mendekatkan saya dengan orang lain, tapi pada kenyataannya banyak yang menganggap senyum itu sebagai sok kenal dan sok ramah.

Ironis. Di saat apa yang kita lakukan benar-benar tulus, orang lain malah menganggapnya sebagai sesuatu yang mengganggu. Fine, I know not everybody enjoy with that. Fine. Terserahlah. Tapi tetap saja terasa sedih.

Dan ya, seandainya saya menemukan apa itu friendometer, mungkin saat itu juga saya akan kehilangan orang-orang yang saya anggap sebagai saudara. Lebih karena ukuran membuat seseorang terlihat tidak sempurna. Jadi rasanya memang lebih baik saya nggak pernah memikirkannya, jadi saya tidak akan menemukan jawabannya.