Siluet

by nuzuli ziadatun ni'mah


Lagi. Di hari yang mendung itu aku terjebak di antara dinding-dinding tinggi nan suram. Bau obat-obatan khas rumah sakit memenuhi lorong itu. Hanya saja, ada bau aneh lain yang menguar bersama dengannya. Sungguh bau yang nggak kusuka, lebih karena aku nggak suka sakit dibanding karena tempatnya. Namun tetap saja aku merasa heran pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku suka berada di sana dan belajar tentangnya.

“Aku mau masuk Kedokteran.”

Itulah yang diucapkan olehnya dulu, saat ia baru akan menghadapi ujian. Masih kuingat wajahnya yang penuh semangat saat mengatakan kalimat itu. Bayangan masa lalu yang selalu kuingat hingga saat ini, yang juga telah mengubah pandanganku tentang masa depan.

“Lalu aku?” tanyaku saat itu sebagai jawaban akan pernyataannya.

“Itu kan terserah kamu. Lagipula kamu masih punya waktu setahun lagi sebelum memutuskan, jadi dipikirin dulu aja.”

Bodoh. Aku benci senyum itu. Senyum yang seakan terus berusaha mengikatku agar mengikutinya. Padahal aku ingin berjalan beriringan bersama impianku sendiri, dan bukannya mengikuti jalan yang telah ia buat. Hanya saja, pada akhirnya aku di sana. Di tempat yang seharusnya tidak kumasuki; itu kata orang-orang. Padahal dulu aku berusaha keras untuk memutuskan, dan akhirnya keputusan itu yang menang.

Ah, kesunyian selalu membiusku. Membuatku melayang-layang ke masa lalu, saat yang selalu bisa membuatku tersenyum bahagia.

“Aina, Aina!” suara itu kembali diputar di ingatanku. “Aku diterima di Kedokteran. Bagus kan?!” ucapnya bahagia. Wajah yang membuatku ingin langsung memeluknya. Dan sayangnya, ia melakukannya lebih dulu.

“Pasti nanti jadi sibuk deh…,” gumamku lebih pada diriku sendiri dibanding kepadanya.

“Nggak kok. Kan aku masih bisa main ke sini Ai. Lagipula walaupun nggak bertemu bukan berarti nggak sayang kan?!” sahutnya; membuat senyum malu-maluku terkembang dengan sendirinya. Dan pikiranku pun kembali ke dunia nyata.

Huuh, aku menghela napas.

Entah sudah berapa lama aku berada di sana; aku tidak ingat. Aku menoleh ke sekeliling dan tidak mendapati siapapun di sana. Setahuku tempat itu harusnya nggak sesepi itu saat biasanya aku menunggunya selesai studi. Tapi entah sejak kapan tak ada lagi orang yang mau duduk di sana. Padahal aku suka berada di sana bersama dengannya. Deretan kursi tunggu warna putih mengkilat yang menyimpan banyak kenangan milik kami.

Jika saja dulu aku nggak mengikuti keinginan hatiku, mungkin aku nggak akan berakhir di sana. Mungkin. Tapi pada kenyataannya, hati dan pikiran tidak akan pernah bisa sinkron. Karena rasanya memang keduanya ditakdirkan untuk selalu kontradiksi.

“Ayah, aku mau masuk Keperawatan.”

Seperti yang kuduga, wajah ayahku mengeras saat aku mengucapkan kalimat itu. 17 tahun aku hidup di lingkungan arsitek. Dibesarkan di antara kertas-kertas rancangan, bermain-main dengan desain, dan menelan banyak ‘pil’ ke-arsitek-an. Namun tiba-tiba aku membangkang dengan memilih Keperawatan dan bukannya Arsitektur atau Kedokteran. Yah, aku tahu Ayah tidak akan mengizinkan, atau jika pun mengizinkan kurasa kami tidak akan bicara selama beberapa hari.

“Bukankah lebih baik masuk Arsitektur, atau Kedokteran sekalian?” tanya Ibu setelah hening beberapa saat. Sementara Ayah hanya memilih untuk tetap meneruskan acara membaca korannya meskipun kuyakin dengan tidak konsen.

“Aku mau Keperawatan.”

Singkat. Seperti yang pernah diajarkan olehnya, katakan keinginan kita dengan singkat dan jelas, maka orang lain akan sulit untuk membantahnya. Ya, itu juga lah yang selama ini aku pikirkan.

“Tapi kamu masih bisa lebih Nak. Kamu masih bisa masuk Kedokteran kalau mau,” Ibuku kembali membujuk.

“Aina mau Keperawatan,” aku kembali mengatakan kalimat itu. Menatap mata Ibu dalam-dalam. Meyakinkan jika aku memang menginginkannya dengan sangat. Reaksinya hanya membalas tatapanku dengan iba, sedangkan Ayah memilih untuk beranjak dari ruang keluarga tanpa menungguku mengatakan sesuatu padanya.

BRAKK!!

Suara itu membawaku kembali ke lorong. Sepertinya seseorang sedang berusaha merobohkan pintu di kejauhan sana. Mungkin siang itu memang ada renovasi di ujung lorong itu. Tapi pertanyaanku tetap sama; padahal itu rumah sakit yang cukup besar, tapi mengapa lorong itu begitu suram? Bukankah seharusnya lampu-lampu di sana menyala? Dan bukankah harusnya ada mahasiswa Keperawatan yang sedang praktek seperti biasanya?

Tapi… lorong itu sepi.

Tap tap tap.

Kini kudengar suara langkah kaki di kejauhan. Tapi tak ada sosok yang muncul dari ujung lorong itu. Hanya suara langkah yang semakin lama semakin kedengaran seperti tempo sebuah lagu. Lagu yang sering kami nyanyikan bersama—atau lebih tepatnya ia nyanyikan untukku. Ia memang mahasiswa Kedokteran, tapi dia urakan. Membuatku selalu tidak bisa memalingkan wajahku darinya walau di saat kami sedang bertengkar.

“Ai, kamu mau lagu apa?” tanyanya hari itu, di saat dia melupakan tanggal 17 kami yang penting.

“Iih, Aina marah. Aku marah juga ah,” ucapnya saat aku tak kunjung menjawab. Hal yang sering ia lakukan saat aku tak mau bicara padanya. Hingga akhirnya ia menyanyikan lagu untukku dengan gitar merahnya yang sangat kusukai. Mungkin itu lagu yang sederhana, tapi kami sama-sama menyukainya.

Ah, sekarang aku ingat mengapa aku datang ke sana. Hari itu adalah tanggal 17. Tepat 2 tahun sejak ia membuatku ingin terus bersamanya dan bersamaan pula dengan ulang tahunku.

Tap tap tap.

Suara itu masih tetap terdengar, meski sosoknya belum juga terlihat dari tempatku duduk. Membuatku ingin beranjak dari sana dan melihat siapa yang datang. Tapi aku mengurungkan niatku, karena aku harus menunggunya di tempat itu, seperti yang ia katakan, “Tunggu ya di tempat duduk kita.”

Huuh, aku kembali menghela napas. Ia tak kunjung datang, dan aku sendirian di sana. Maka aku pun beranjak ke tempat duduk di sebelahku, tempat biasanya ia duduk dalam setelan jas lab. Ia selalu terlihat bagus dengan pakaian putih itu. Dan aku selalu senang saat ia mengatakan hal yang sama padaku saat aku memakai setelan putih baju perawat.

Karena sejujurnya kata-katanya telah membuatku ingin terus bertahan di lingkungan itu.

“Wah, hari ini Aina cantik,” komentarnya saat melihatku beberapa hari yang lalu; tapi aku lupa kapan itu tepatnya.

“Kamu lupa ya aku udah cantik dari lahir?”

Dan ia hanya menanggapi dengan mengacak rambutku yang baru saja kupotong sebahu. Kami hanya terus bercengkerama selama seharian itu. Bernyanyi bersama dan mengobrol hingga rasanya tidak ada lagi yang bisa diceritakan. Lalu memutuskan untuk mengulang cerita yang sama berkali-kali, yang entah bagaimana rasanya tetap tidak membosankan.

Seharusnya masih ada lagi hal yang menyenangkan.

Aku berusaha mengingat lebih banyak. Namun aku tak mengerti, rasanya ingatanku putus sampai di sana. Aku tak ingat hal menyenangkan apa lagi yang kami lalui setelah hari itu. Padahal seharusnya masih ada.

Tap tap tap.

Suara langkah kaki itu semakin keras. Aku menoleh ke ujung lorong di sebelah kiri, dan akhirnya kulihat sebuah siluet di kejauhan. Wajahnya tidak terlihat sama sekali; terhalang oleh terangnya cahaya di baliknya. Ia terus melangkah ke arahku, dan aku pun terus mengamatinya.

Ah, aku mengenali caranya berjalan. Aku juga mengenali postur tubuh itu.

Aku tersenyum. Dengan tempo yang masih sama, siluet itu terus berjalan ke arahku. Ukurannya semakin lama semakin besar seiring semakin dekat pula ia denganku. Sesekali saat angin berhembus pelan dari ujung lorong aku dapat mencium wangi parfum yang kukenal sejak dulu. Wangi yang tidak dimiliki oleh orang lain selain olehnya, walau samar-samar wangi itu bercampur dengan bau lain yang aneh.

Aku menoleh ke atas. Bahkan sekarang pun lampu lorong ini tidak menyala, entah mengapa. Lalu aku memalingkan kembali wajahku ke arah siluet itu datang, dan dalam sekejap ia sudah terasa sangat dekat.

“Akhirnya kamu datang,” ucapku sambil tersenyum padanya. Entah ia melihat senyumku atau tidak mengingat lorong itu tidak cukup terang.

Tap tap tap.

Siluet itu tidak menjawab, terus mendekat, dan berhenti tepat di depanku. Apa dia tidak mengenalku?

“Ervan?” gumamku pelan. Yakin bahwa memang orang itu yang datang.

Keheningan tetap bertahan selama beberapa detik, dan aku tidak mengerti mengapa ia tetap diam.

Ah, mungkin ia menungguku pindah ke kursi sebelah.

See, aku udah pindah,” ucapku lagi setelah duduk kembali di kursiku.

Bukannya duduk, sosok itu malah mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Mawar putih; bunga kesukaanku.

“Aina, Selamat Ulang Tahun sayangku….” Suaranya terdengar sedih. Membuatku ingin memeluknya saat itu juga.

Dan pada saat yang sama, cahaya matahari akhirnya berhasil menghindar dari mendung di langit dan menerobos masuk ke dalam lorong—jatuh di kursiku yang sudah berwarna hitam.

Cahaya itu semakin terang.

Memperlihatkan wajah sayang Ervan yang terlihat sedih. Lalu kulihat butiran-butiran air mata jatuh di kursi kami yang bentuknya juga sudah aneh.

Cahaya itu semakin lama semakin terang.

Dan sayangnya Ervan masih tetap tidak mengenaliku.

Kenapa? Aku melihat sekeliling, mencoba mencari kejelasan.

Dan akhirnya aku paham, ternyata waktuku sudah habis….

——–

||HEADLINE NEWS: Kebakaran telah Terjadi di Sebuah Rumah Sakit Umum pada….