Heart

by nuzuli ziadatun ni'mah


Beberapa saat yang lalu saya membaca sebuah postingan dari kakak angkatan saya, Addina Faizati, tentang konteks broken heart. Sesuatu yang juga telah mengganggu pikiran saya belum lama ini.

Broken heart.

Mungkin sebenarnya saya sendiri juga nggak tahu apa definisi sebenarnya. Tapi seperti yang juga Mbak Andin bilang, rasanya mungkin seperti kekecewaan anak-anak yang nggak jadi pergi ke kebun binatang setelah lama menantikannya. Atau untuk kita biasanya karena ekspektasi kita yang terlalu berlebihan tidak menjadi kenyataan. Saat apa yang kita harapan justru menjadi kebalikannya, atau melenceng dari jalur harapan kita.

Tapi bagi saya, bukan seberapa banyak luka yang kita tanggung, tapi bagaimana kita mengantisipasinya.

With tears we throw away our sadness and pain

–nuzulizn

Mungkin itu fungsinya menangis.

Saya mungkin pernah terluka beberapa kali, tapi entah mengapa saya tidak pernah berpikir untuk mengganti hati saya dengan hati yang baru; hati yang tanpa luka sedikit pun.

Bukankah luka membuat seseorang lebih kuat? Bukankah luka menjadi sebuah guru yang berharga bernama pengalaman? Bukankah di dalam luka ada memori yang walaupun kadang menyakitkan tetapi sering membuat kita tersenyum?

Seperti halnya luka di permukaan tubuh kita, ada luka yang sebenarnya bisa hilang. Dan entah mengapa kadang saya berusaha mencari luka itu, meyakinkan diri saya bahwa saya pernah memilikinya. Memang, terkadang kita merasa sakit saat melihat bekasnya kembali, tapi jauh di dalam hati, saya akan merasa bersyukur, merasa puas bahwa nyatanya saya masih tetap bisa melewati dan melupakan luka itu walaupun tidak mudah.

And in dissapointment we will understand everything that we didnโ€™t realise it before

–nuzulizn

Dan biasanya, dalam rasa frustasi itu kita akan memahami segala hal. Kadang orang menganggap itu sebagai stress, tapi untuk saya itu adalah luapan pemahaman yang terlalu menyakitkan, makanya diluapkan dengan tangis. Di saat menangis itu rasa kecewa akan bercampur aduk dan tanpa sadar semuanya terbawa pergi bersama dengan tetesannya.

Ah, tiba-tiba saya ingat.

Mungkin broken heart itu saat kita merasa sangat ingin menangis, dan saking ingin menangisnya sampai sesak nafas.

Tapi itu sudah berlalu. Dan hati saya sudah sehat kembali walau ada banyak bekas luka di sana. Saya mungkin sedikit nggak normal, tapi saya suka beberapa luka saya, karena kata seseorang luka itu adalah seni. Dan bagi saya, jika hati dianalogikan sebagai bangunan mungkin luka adalah perkuatannya. Bukankah perkuatan berasal dari elemen-elemen yang tadinya terpisah?

Yah, masalah hati memang bukan soal mudah karena kita membicarakan tentang perasaan dan pendapat banyak orang, tidak seperti soal matematika yang bisa dipecahkan dengan rumusnya yang segambreng itu.

Dan, ini hanyalah pendapat saya yang ingin saya sampaikan setelah membaca postingan Mbak Andin. Hanya ingin berbagi tentang hal yang sama-sama pernah kita rasakan.

hiduplah karena orang lain, maka luka itu tak akan terasa sakit

Selama kita berjalan kita belajar dan terus berusaha memahami hidup. Karena kehidupan kita akan bernilai saat kita tahu tujuan dan arti hidup kita masing-masing.