Manusia

by nuzuli ziadatun ni'mah


Pesawat diciptakan untuk mempermudah manusia.

–physics book

Saya yakin banget semua orang yang pernah sekolah tahu kalimat itu. Kalimat biasa yang ada di buku fisika saya dari jaman SD sampai SMA. Tapi saya sendiri baru mulai memikirkan kalimat itu saat saya sudah mau lulus SMA. Bukan sesuatu yang luar biasa memang, tapi jika diaplikasikan ke dunia nyata, akan ada jutaan pertanyaan yang saling berkaitan, hingga akhirnya kita akan berpikir tentang penciptaan dunia ini, dan kenapa semua yang kita lihat sekarang ada.

Saya masih ingat, pertama kali saya mempertanyakan itu saya sedang berada di atas motor yang melaju di jalanan Jogja yang panas. Dan pertanyaan pertama saya pun keluar:

Kenapa saya harus jauh-jauh naik motor di bawah terik matahari hanya untuk membeli sebuah buku?

Itu adalah pertanyaan yang bagaimanapun jawabannya saya tetap merasa itu hal yang salah. (aaaakh saya bingung menjelaskannya)

Maksudnya begini; menurut saya, hal itu seharusnya nggak perlu. Seharusnya kita nggak perlu jauh-jauh naik motor hanya untuk membeli sebuah buku.

Hingga setelah sekian lama berlalu, sekian lama saya bertanya-tanya dan mencari jawabannya, sekian lama berdebat di dalam pikiran saya sendiri, akhirnya saya mulai mencoba untuk meyakinkan diri bahwa sebenarnya semua itu rasional. Bahwa semua hal yang saya anggap nggak perlu itu sebenarnya masuk akal.

Mungkin, semuanya memiliki awal.

Sama seperti planet dan bintang-bintang yang tadinya hanyalah kumpulan debu

 

Mungkin dulu saat manusia tidak memiliki sesuatu untuk membantu mereka, mereka menggunakan diri mereka sendiri. Mendapatkan makanan mereka hanya dengan menggunakan tangan kosong.

Mungkin setelah itu mereka menemukan pecahan batu dan menggunakannya untuk membunuh mangsa. Atau mungkin mereka nggak sengaja melemparnya ke binatang dan ternyata bisa membantu mereka mendapatkan makanan.

Mungkin saat mereka mulai kedinginan mereka akan mencari tempat berteduh di balik bebatuan. Atau membuat gua dengan batu-batu yang mereka dapatkan. Lalu menjadikan tempat itu sedikit tertutup untuk menghalangi angin.

Mungkin setelahnya mereka mengganggap perlu untuk pindah karena ada bencana atau bahaya. Dan mungkin sebagian yang lainnya merasa hal itu biasa dan memutuskan untuk menetap.

Mungkin karena hidup berpindah mereka merasa butuh ‘rumah’ yang bisa berpindah juga, hingga akhirnya rumah perkemahan pun ada. Jalur perpindahan pun ada. Management packing yang paling sederhana pun ada.

Mungkin setelahnya mereka merasa nyaman dengan suatu tempat hingga memutuskan untuk menetap. Dan dari individu tanpa sadar mereka pun membentuk komunitas. Membuat peraturan untuk masing-masing orang, membagi kekuasaan, dan mencari pemimpin di antaranya.

Mungkin saat manusia itu semakin banyak, si pemimpin merasa perlu untuk memperluas pemukiman mereka. Tapi komunitas lain juga menginginkan hal yang sama, dan akhirnya perang. Peraturan itu menjadi lebih ketat dan mengekang. Membuat semua orang merasa ada perbedaan di antara masing-masing. Membuat munculnya sebuah perpecahan dan pengelompokan dalam komunitas yang harusnya merupakan sebuah keluarga.

Mungkin kemudian mereka merasa membutuhkan orang lain juga. Dan mulailah cara diplomatis. Berpindah ke komunitas lain untuk mencari bantuan pada manusia lain dengan kemampuan yang berbeda.

Mungkin setelah sekian lama melakukan hal yang sama mereka mulai menghafal jalur yang aman dan bisa mereka lewati, hingga muncullah sebuah jalan. Yang semakin lama semakin banyak dilewati oleh manusia lain.

Mungkin saat mereka merasa lelah untuk berjalan mereka mulai mengeksploitasi makhluk lain, yaitu hewan. Manusia mengubah makanan-makanan itu menjadi alat. Seperti yang saya bilang di atas; menjadikan mereka sebuah pesawat sederhana.

Mungkin setelah sekian lama orang semakin malas dan mulai menyempurnakan semuanya. Membuat sepeda, motor, mobil, pesawat terbang, kapal, dan sebagainya. Mulai merasa bahwa rumah mereka terlalu rentan terhadap alam, sehingga mulai membuat rumah yang lebih layak.

Mungkin saat semuanya mulai terasa mudah manusia pun mulai merasa semua hal kurang indah dipandang mata. Membuat semua orang mulai memikirkan estetika, selera, dan solusi atasnya.

Dan seperti yang saya katakan juga, semuanya mulai terlihat jelas. Bahwa semua ada karena memiliki awal. Semua ada untuk menyempurnakan hal yang dianggap masih belum sempurna. Padahal pada awalnya semuanya sudah sempurna, tapi mengapa menyempurnakan lagi?

Jadi bukankah kesempurnaan itu menjadi tidak ada?

Karena manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka punya. Karena saat kepuasan itu datang itu hanya terasa seperti hiasan. Layaknya saat kita merasa sangat lapar dan bisa memakan apa saja. Tapi saat kita melihat masakan yang lebih menawan semua yang sudah tertelan akan terasa seperti hal yang tidak layak.

Think about the problem, and find the answer

 

Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Pertanyaan itu tetap terus ada di kepala saya, dan dengan apa yang saya lihat saya masih berusaha untuk mendapatkan jawabannya. Walau saya masih nggak yakin pikiran saya sendiri akan menerima jawaban-jawaban itu; hanya mungkin saja saya akan menerimanya. Seperti halnya yang sudah-sudah. Yah, itulah realita.

Sampai sekarang pun saya masih terus mengamati bagaimana dunia ini berjalan. Bagaimana saya tetap merasa bahwa semakin lama orang semakin melupakan dari mana kita berasal.

Dan harapan saya sederhana saja;

Semoga dengan membaca tulisan saya kalian juga memikirkan hal yang sama. Jadi waktu yang saya buang untuk menulis ini tidak menjadi hal yang sia-sia buat saya.