Antara Kita dan Orangtua

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ini adalah ungkapan hati seorang mahasiswa yang tidak tahu apa-apa tentang dunia kerja.

Begitulah saya menggangapnya. Tapi sebagai mahasiswa pula, semakin lama saya semakin berpikir bahwa apa yang saya punya sekarang seharusnya lebih banyak dan jauh lebih besar dari apa yang saya punya dulu.

Saya sering mendengar dari teman-teman saya, bahwa dulu mereka memilih jalan hidup mereka karena didikte orangtua, sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang di-iya-kan. Tapi untuk saya sendiri, saya akan lebih memilih untuk berjalan sendiri, dan walau jatuh pun saya akan mencoba berdiri sendiri. Bukannya terus menggenggam tangan orangtua saya dan tidak pernah berada lebih dari semeter dari mereka.

Tapi kan kita harus membalas jasa orangtua

Itu yang juga sering menjadi alasan di antara kita yang pasrah dengan keputusan orangtua dan bukannya mencoba untuk lepas dari mereka.

Tapi menurut saya, orangtua itu bukannya harus selalu dianut, tapi ‘hanya’ sebagai sumber inspirasi dan motivasi.

Selama saya hidup hampir 19 tahun lamanya, entah sudah berapa lama saya selalu memandang kedua orangtua saya sebagai inspirator dalam hidup saya. Bukan hanya dari apa yang pernah mereka lakukan untuk sekitar mereka, tetapi juga tentang apa yang sudah mereka berikan kepada saya.

Saya sering sekali merasa malu pada diri saya sendiri, saat sadar ternyata saya sering lupa bahwa motivasi saya adalah mereka. Orang-orang yang rela memberikan apapun agar hidup saya nantinya lebih baik dari mereka. Agar saya bisa memberikan sesuatu yang lebih dari mereka untuk anak-anak saya kelak. Agar saya tahu bahwa masih banyak hal yang bisa saya lakukan dengan kemampuan saya sendiri.

Saya masih ingat saat dulu saya merasa orangtua saya mengekang saya saat saya masuk SMA. Tapi sekarang pandangan itu berubah.

Mungkin memang orangtua terlihat mengekang, tapi dibalik itu mereka sebenarnya memperhitungkan dengan sangat apa yang akan saya dapat dengan mengikuti nasihat mereka. Itu orangtua saya.

Sedangkan yang saya dengar dari teman-teman saya, orangtua mereka sering tidak memberikan kebebasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka pelajari.

ada orang tua yang hanya memandang sebelah mata

 

Mungkin saya terdengar menceramahi, tapi saya benar-benar tidak bermaksud demikian. Saya tahu rasanya tidak diperbolehkan ini dan itu. Tapi selalu ada cara agar apa yang kita inginkan (dalam artian baik) bisa kita wujudkan. Ada kalanya kita bisa menuntut orangtua kita untuk melihat kita lebih dekat, menerima alasan-alasan kita, dan menjadi orang yang mendengarkan pendapat-pendapat kita.

Kita wajib membalas jasa orangtua

nuzulizn

Itulah mengapa mereka adalah inspirator hidup saya. Karena saya merasa tanggungjawab saya adalah membalas jasa orangtua, yang kalau kata orangtua saya adalah dengan menjadi orang yang lebih baik dari mereka.

Well, hal lain yang kadang membuat kita segan untuk mendebat orangtua adalah karena pekerjaan, yang sayangnya juga sering membuat kita memilih untuk diam dibanding terus berusaha untuk mempertahankan pendapat kita.

“Sekarang nyari kerjaan kan susah.”

Itu yang sering dikatakan orangtua pada kita. Yang secara tidak langsung membuat kita tertuntut untuk mengikuti kata orangtua.

Padahal jika kita mau berusaha lebih keras, jalan untuk mendapat pekerjaan itu mudah kok. Banyak pintu terbuka di sekitar kita. Bahkan di kampus saya ada career center dengan begitu banyak lowongan kerja di sana. Yang perlu kita lakukan kan hanya membuka mata lebih lebar dan memandang lebih jeli setiap pintu yang terbuka itu.

Membahagiakan orangtua itu penting, tapi tidak harus dengan mengikuti kata-kata mereka. Ibu saya bahkan pernah bilang, jika saya bisa membuktikan pendapat saya, beliau akan lebih senang karenanya.

Ini antara kita dan orangtua.

Yang seharusnya ada saling pengertian di antara keduanya. Karena kita hidup bersama sebagai orang yang punya hubungan darah, yang menuntut kita untuk menyelesaikan setiap konflik yang ada.

Ini tentang kita dan orangtua.

Yang sebenarnya bisa saling pengertian, hanya saja butuh adanya pemahaman dan mengesampingkan egoisme bersama.

Dan ini tentang kita dan orangtua.

Yang kalau menurut saya sebenarnya bisa saling berjalan tanpa konflik. Di mana kita memandang mereka sebagai inspirasi dan motivasi, yang secara tidak langsung akan membuat mereka menerima kita sebagai ‘orang’ dan bukannya anak yang tidak tahu apa-apa.

an innocent family


Yah, mungkin itu hubungan yang sederhana, tapi berarti sangat banyak baik untuk kita sebagai anak, atau orangtua kita.

Dan apa salahnya menjadikan mereka motivasi dan inspirasi? Toh inspirasi itu bisa apa saja.🙂