Relativity Beauty in Ugly

by nuzuli ziadatun ni'mah


self potrait

“Cakep itu kan relatif.”

Begitulah. Pendapat yang selalu saya gembar-gemborkan kepada orang-orang yang pernah berdebat dengan saya tentang konteks cakep; cantik dan ganteng. Setelah berpikir kembali, saya tiba-tiba teringat dengan obrolan saya dengan Noya, Mas Gery, dan Mas Reza pada pagi buta beberapa minggu yang lalu.

Begini ceritanya….

Waktu itu saya dan Noya sedang menginap di kampus untuk menyelesaikan tugas kami yang belum selesai—entah tugas apa. Sebenarnya saya sedang tidur nyenyak saat mereka mulai membicarakan topik yang endless ini, hingga akhirnya mimpi indah saya terganggu oleh obrolan mereka yang sebenarnya menarik perhatian saya.

Nggak bisa Ja, jelek tu nggak bakalan bisa jadi cantik atau ganteng.

Nggak lah Ger. Bisa kok!

Nggak mungkin Ja, yang ada tu cuma jadi keren. Kalo misalnya orang jelek macam kita ini satu-satunya cara biar dilihat tu adalah jadi keren. Ni coba, kurang mulus apa muka gue? Kan, tetep aja gue nggak ganteng. Tapi gue keren, makanya ada cewek yang mau.

Oke, itu awal bagian saya nimbrung dalam obrolan random tapi real pagi itu.

Sebenarnya jika ditanya secara pribadi saya setuju-setuju aja sama pendapat Mas Gery. Karena seperti kata temen-temen saya, saya sendiri nggak pernah menyukai orang yang masuk golongan ganteng. Malah kadang temen-temen saya nanya: apa sih yang kamu lihat dari dia, padahal nggak ganteng.

Well, walau kata orang cinta nggak butuh alasan, tapi kan selalu ada sesuatu yang membuat kita tertarik pada awalnya.

Dan herannya saya sendiri masih bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang sebenarnya saya lihat dari dia. Padahal saya nggak tahu apa-apa tentang dia pada awalnya, tapi setiap saya tahu sedikit lebih banyak tentangnya saya baru sadar jika ternyata apa yang menurut saya hebat benar-benar ada padanya semua. (kaget :o)

Ah maaf, kembali ke topik awal.

Jadi seperti apa kata Mas Gery, satu-satunya cara agar ‘dilihat’ itu adalah menjadi keren, karena keren bukan sesuatu yang menyangkut tentang kegantengan. Jadi compared to that, I concluded that hal pertama yang harus kamu lakukan agar ‘dilihat’ adalah jadi keren, bukannya ganteng. Karena saat kita bisa memberikan apa yang bisa kita lakukan orang akan lebih menghargainya dibandingkan hanya berdiam diri dan menunggu.

Terus kalau cewek?

Nggak mungkin juga cewek bisa jadi cantik.

Bisa lah Ger…

Nggak lah. Apa ya, cewek tu kalo bisa merawat diri baru bakalan keliatan cantik.

Oke, rasanya apa yang Mas Gery bilang waktu itu membuat saya berpikir juga. Memang sih, kalo dilogika emang jadi cantik itu nggak mungkin. Yang ada hanyalah tambah bersih dan terawat. Cuma itu.

Tapi itu juga bukan berarti harus dengan berdandan. Menurut kedua kakak angkatan saya itu, dengan atau tanpa dandan kita (baca:cewek) bisa tetep kelihatan cantik kok. Saat kita sadar untuk merawat diri dan terlihat lebih cewek, rasanya itu yang akan membuat kita lebih cantik dari yang kita kira.

Dan, kalau menurut pendapat saya sendiri sebagai cewek, kadang kita tanpa sadar mencoba menjadi cantik, merawat diri, dan merubah etitude kita menjadi cewek.

Saat kita jatuh cinta kita akan terlihat lebih cantik.

Itu yang dikatakan oleh banyak orang. Dan mungkin ya, memang kebanyakan cewek begitu. Karena seperti kata Mas Gery, kita akan terlihat lebih cantik saat mau melakukannya. Yang bukankah itu sering dilakukan cewek saat mereka suka pada seseorang?

Dan sebenarnya masih sering saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dilihat cowok di diri kami? Karena kadang saya masih tidak percaya bahwa cinta itu ada. Karena setiap orang sebenarnya adalah sebuah teka teki hidup, yang kita nggak akan pernah tahu.

Satu lagi keinginan saya, have an honest conversation with a boy about ‘girl’. Karena seperti yang saya katakan, relativity beauty in ugly itu memang ada. Hanya saja yang jadi pertanyaannya,

apakah semua orang punya relativitas yang sama?