Love or Bread

by nuzuli ziadatun ni'mah


we often got difficulties to show our love

Wanita itu berjalan sendirian di antara kerumunan. Pikirannya terbagi dan tercabik menjadi bagian-bagian kecil yang tidak beraturan. Ia tak punya uang, berhutang, dan tidak lagi diterima keluarganya sebagai anak perempuan tertua keluarga kecil itu.

Haaah, ia menghela nafas. Memandang ke birunya langit siang itu.

Terlalu terik sebenarnya, tapi ia tak punya payung atau topi untuk melindungi kulitnya yang putih dan cantik. Bukannya menghindar ke tempat yang lebih teduh, ia malah tetap berada di sana, memandang terus langit siang itu. Langit biru tanpa awan sama sekali.

“Indah…, cerah…. Tapi nggak secerah dan seindah hatiku,” gumamnya pahit.

Sudah hampir 2 minggu ia terjebak di rumah kontrakan kecil itu bersama orang yang sebenarnya tidak ingin ia temui lagi. Padahal seharusnya ia bahagia bersama orang yang ia cintai, tapi di hari pernikahan mereka laki-laki itu menghancurkan impian dan hatinya menjadi kepingan-kepingan kecil. Dan setelah begitu banyak yang ia korbankan untuknya, rasanya itu bukan hal yang adil dan manusiawi baginya.

Air matanya menggenang.

“Ah, jangan menangis!” ucapnya pelan pada dirinya sendiri.

Hidupnya terlalu sulit untuk seorang perempuan yang bahkan belum menginjak umur 20 tahun. Tanpa keluarga yang mendampingi, ibu tiri yang kejam, ayah yang tak bisa membelanya, tunangan yang berselingkuh, dan akhirnya terjebak bersama laki-laki yang tidak dikenal.

Ia berjalan kembali, mengingat awal pertemuannya dengan teman sekontrakannya yang entah jahat atau sebenarnya baik itu.

BRAKK!!

Tiba-tiba pintu toilet yang sedang ia bersihkan terbuka, memperlihatkan seorang laki-laki yang sepertinya sedang terburu-buru. Dan sebelum sempat mengatakan sesuatu laki-laki itu menariknya masuk ke salah satu toilet, dan menahannya agar tetap diam.

Kini ia tersenyum. Itu pertemuan yang menarik baginya. Ia masih ingat dengan jelas wajah kelelahan orang itu setelah dikejar-kejar oleh orang-orang yang tidak ia kenal juga. Membuatnya mengira bahwa orang itu adalah seorang maniak yang menakutkan. Tapi ternyata ia hanya orang yang lari dari rentenir yang selalu mengejarnya, yang akhirnya membuatnya memandang dengan pandangan yang berbeda pada laki-laki itu.

“Ia tetap nggak berubah,” gumamnya kini sambil tersenyum.

Baginya laki-laki itu tidaklah jahat—atau setidaknya tidak sejahat tunangannya. Ia hanya tidak pernah tahu bagaimana caranya menunjukkan sikap baiknya itu.

Ia kembali mengingat lebih banyak.

Hari dimana hatinya hancur berkeping-keping laki-laki itu muncul kembali di hadapannya, membuatnya lupa kejadian buruk itu dan sibuk berurusan dengannya. Mungkin saat itu sikapnya juga bukan sikap yang bersahabat, malahan mereka saling tuduh, dan akhirnya membuatnya lupa akan tunangannya. Tapi justru karena itulah harinya menjadi tidak seburuk yang ia bayangkan. Rasa sakit hati yang dalam itu tergantikan dengan rasa kesal karena berdebat dengan laki-laki yang tidak jelas asalnya itu.

“Kue beras, kue beras!!” terdengar seseorang menawarkan barang dagangannya.

Wanita itu menoleh. Memandang ke tumpukan kue beras yang menggiurkan yang sedang digembar-gemborkan oleh si penjual. Tapi ia tak punya uang. Bahkan satu sen pun ia tak punya.

Pikirannya kembali melayang ke rumah kontrakannya.

Ia ingat, sebelum ia keluar rumah, mereka berdua bertengkar. Hanya karena laki-laki itu tidak mau dibawa ke rumah sakit padahal ia sedang demam tinggi. Dan hasilnya adalah pertengkaran yang menjengkelkan yang akhirnya membuat wanita itu memilih untuk keluar rumah.

Memang benar, ia berpikir, mereka tak punya uang. Tak bisa membeli obat, apalagi ke rumah sakit.

Haaah, ia menghela nafas sekali lagi, dan berjalan kembali sambil berusaha keras mengacuhkan si penjual kue beras yang tidak bosan-bosannya menawarkan dagangannya.

Matahari masih tetap terik, dan semakin lama perutnya makin minta diisi dengan segera.

Shit. Kenapa nggak ada orang baik yang mau ngasih banyak uang tanpa butuh alasan?!” ia bergumam untuk dirinya sendiri, dan pada detik berikutnya sadar bahwa itu hanyalah kalimat bodoh dan putus asa yang tidak mungkin terjadi.

Maka sekali lagi ia menundukkan kepala dan berjalan kembali sambil mengingat lebih banyak tentang laki-laki yang sedang terbaring demam itu.

Setelah pertemuan ke sekian mereka, wanita itu baru sadar ternyata memang cincin laki-laki aneh itu ada padanya, yang akhirnya memaksanya menggunakan cincin itu untuk menyewa sebuah rumah kontrakan yang sama. Dan ternyata, di saat yang sama laki-laki itu juga menggunakan handphone wanita itu untuk menyewa kontrakan yang sama. Yang akhirnya membuat mereka berdua terjebak di tempat yang sama, yang ternyata juga itu hanyalah tipu daya seorang penyewa gadungan.

Dan demikian mulailah mereka menjalani hidup bersama yang dipaksakan.

Memang ia bukan orang yang baik. Tapi untuk wanita itu, setelah apa yang dilakukan laki-laki itu untuknya, rasanya ia memang orang yang baik. Orang yang mau menggendongnya pulang saat ia pingsan karena berdiri terlalu lama di tengah hujan di depan rumah keluarganya. Orang yang mau dicaci maki untuk menolong wanita itu. Orang yang walaupun tidak pernah mau mengalah tetapi sebenarnya mampu memberikan segalanya untuk wanita itu.

“Permisi Nona,” seseorang menegurnya dari samping; seorang wanita yang sebaya dengannya.

“Ya? Ada apa ya?” tanyanya menoleh.

“Apa Nona ingin mendonor darah?” tanya wanita itu menawarkan. Ia menunjuk mobil ambulans di belakangnya yang sedang dikerumuni beberapa pendonor.

Wanita itu terdiam.

Saat kita mendonor darah, biasanya pihak penyelenggara memberikan timbal balik makanan, pikirnya.

Dan ia pun terpikir akan teman sekontrakannya yang sedang demam itu. Maka dengan perlahan ia mendatangi bagian pendaftaran dan mulai mengisi formulir.

“Golongan darahnya apa?” tanya seorang petugas.

“O,” jawabnya singkat dan langsung mengikuti arahan wanita yang menegurnya tadi.

Ia berjalan sambil tersenyum. Senang karena akhirnya bisa melakukan sesuatu untuk orang itu, walaupun ia harus mengorbankan miliknya.

“Mungkin kita sering bertengkar, tapi saat kita tidak bertengkar sebenarnya saat-saat yang paling indah dalam kehidupan sekontrakan kita,” gumamnya sambil tetap tersenyum.

Sebenarnya ia sendiri tidak mengerti, mengapa ia mau melakukannya. Tetapi satu hal yang ia pikirkan saat itu; ia ingin melihat wajah senang laki-laki itu karena makanan yang ia bawa.

Dan ia pun berpikir ulang, sebenarnya aku ingin membuatnya menyukai ini, atau justru menyukaiku?

—————

Inspired from:

love or bread

yang kalau menurut saya cerpen di atas adalah scene paling sweet di film itu… ^^