Tentang Cinta

by nuzuli ziadatun ni'mah


Well, rasanya tidak pernah sekalipun saya membicarakan itu—atau mungkin saya lupa. Tapi toh sebenarnya saya sering membicarakannya secara tidak langsung, di sini.

Oke, sepertinya ini memang tentang cinta.

love

Sederhana. Aneh. Rumit. Menyenangkan. Inspiring. Ah, apapun itu pendapat orang.

Tapi pertanyaannya; apakah kita benar-benar tahu apa itu cinta?

Maksud saya, apakah kita benar-benar tahu itu cukup untuk disebut cinta?

Well, jika kau bertanya pada saya, jawaban saya adalah tidak. Karena bahkan cinta yang pura-pura pun saya tidak tahu.

Saya sendiri selalu bertanya-tanya apakah orang lain juga sama seperti saya? Ataukah hanya saya yang terlalu memikirkan apa itu dan tidak pernah tahu bagaimana pengalaman itu?

Oke, selama ini saya beranggapan mungkin tidak seharusnya saya memikirkannya sekarang. Mungkin tidak seharusnya itu menyita beberapa menit dari waktu saya untuk memikirkannya. Tapi toh saya akhirnya mengakui jika memikirkan itu cukup—atau mungkin memang—menyenangkan. Memikirkan tentang apa itu, kapan itu, bagaimana, dan siapa akhirnya?

Bukankah itu menyenangkan sebenarnya?

Begitu banyak film tentang cinta, novel tentang cinta, komik tentang cinta, dan mungkin gambaran tentang cinta, di kehidupan nyata. Tapi toh itu juga tidak begitu berguna untuk saya. Tidak terlalu, mengingat itu masih tidak sesuai dengan pendapat saya tentang cinta.

Kata orang-orang yang pernah merasakannya—benarkah?!, mereka sering mengatakan pada saya; dulu aku mencintainya, dulu dia mencintaiku, atau dulu kami saling mencintai.

Oh, wow, jadi semudah itu melupakan cinta dan berpindah ke orang yang kita rasa kita cintai??

Well, saya anggap itu ironic.

Apakah kita bisa benar-benar bermain dengannya? Apakah itu bisa dibenarkan sebagai mencari yang terbaik? Bisakah itu dikatakan sebagai sebuah pengalaman? Atau sebenarnya itu hanya sesuatu penghiburan untuk membesarkan hati kita?

Bisakah tetap seperti itu?

Dan kau tahu? Akhirnya saya mendarat pada sebuah novel yang pada awalnya saya anggap aneh—saya serius—tapi akhirnya saya menganggap novel ini sangat, sangat, sangat, dan sangat cocok dengan saya.

One of Those Hideous Books Where The Mother Dies

Well, itu tidak se-mengerikan judulnya kok. Sangat tidak mengerikan sebenarnya. Bahkan bisa saya katakan novel ini tidak membuat saya bosan barang se-kata pun darinya. Karena saat saya sadar, tatapan saya sudah berhenti pada logo Gramedia di halaman paling belakang.

Ini novel yang menarik. Setiap halamannya berisi puisi prosa yang tidak pernah membuat saya bosan, bahkan setelah berkali-kali tenggelam di dalamnya.

“Aku tidak mencintainya.

Aku hanya mengira aku mencintainya,

karena ia pasti telah menawanku dengan semacam mantra atau apa.

Seolah-olah ia mencintaiku.

Tapi ia tidak mencintaiku.

Ia tidak pernah mencintaiku.”

Itu bait yang akhirnya membuat saya berpikir; Ah, mungkin sebenarnya aku juga tidak tahu apa-apa tentang cinta. Aku hanya merasa tahu tentangnya.

Jadi gimana Nuz??

“Well, cobalah untuk terus berpikir dan temukan jawabanmu sendiri. Saat kau terus bertanya dan bertanya, kau akan dengan sendirinya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Bukan berarti kau harus mendebat orang lain, tapi ambil apa yang kau anggap penting, dan buang yang menurutmu tidak perlu. Tidakkah itu menjawab pertanyaanmu, Nuz?”

Oke, jadi akhirnya saya sampai pada apa yang saya sebut sebagai conclusion.

Kalau kata saya, cintawell, sebenarnya ini masih sulit saya katakan—itu saat kita bahkan tidak menyadari jika itu cinta. Setelah kita tahu bahwa mungkin itu bukan cinta, mungkin itu tidak cukup untuk disebut cinta, tapi apa yang tubuh kita lakukan jauh melebihi interpretasi kita tentang cinta. Atau saat kita bahkan tidak butuh lebih dari sekedar tatapan mata untuk saling tahu. Ngerti kan maksud saya?

Ah, sudahlah….

Toh itu hanya pendapat saya, yang saya yakin kalian pun tidak akan mudahnya setuju dengan itu. Tapi sampai sekarang saya masih selalu percaya jika cinta itu hanya satu. Saya hanya nggak tahu itu di mana.

Ah, mungkin saya lebih suka meng-analogi-kannya seperti hujan. Karena saya selalu merasa hujan tidak berasal dari mana pun juga. Maksud saya, saat kita di gunung dan berada di dalam kabut kita bahkan tidak tahu dimana hujan itu mulai. Tapi hujan bukan kabut, dan kabut pun bukan hujan. Jadi saya selalu menganggapnya tidak datang dari mana pun.

Dan sampai sekarang cinta tetap membuat saya mengaguminya. Membuat saya menganggapnya seindah dan semenarik hujan dan kabut dan awan.

Dan yah, membuat saya suka membicarakannya.🙂