Itu Kamu kah?

by nuzuli ziadatun ni'mah


Cinta.

Well, apakah aku yakin aku tahu tentang itu? Yah, walau itu mengganggu pikiranku belakangan ini. Dan itu cukup membuatku merasa jika aku terlalu tolol untuk terus memikirkannya, bahkan jika seandainya itu denganmu, jika seandainya itu benar-benar terjadi, saat ini, bersamamu.

Tapi pada kenyataannya, itu bahkan tidak membuat jarak kita lebih dekat walau hanya satu centimeter, atau satu millimeter, atau bahkan hanya selebar sel kuman yang menempel di pergelangan tanganku.

Masalahnya, aku masih tetap mengharapkan itu terjadi padaku. Walaupun aku tahu kau bahkan tidak pernah memalingkan mukamu ke arahkku, menatapku lebih dalam dari biasanya, membiarkan tatapan kita beradu, atau bahkan membuatnya jadi semacam cinta. Itu tidak kau lakukan, dan bahkan mungkin tidak berencana untuk kau lakukan. Apa aku benar kali ini?

Kumohon, katakan tidak.

Sayangnya, perbuatanmu seakan menjawab ‘iya’ padaku.

“Ngapain melototin orang? Nggak punya kerjaan lo?” ucapmu judes padaku.

Oke, tidak bisakah kau santai mengucapkannya padaku?, pikirku sewot.

Tidakkah kau mengerti aku terlalu lama memerhatikanmu hingga tak tahu apakah aku suka padamu atau justru membencimu? Itu bahkan tidak bisa kubedakan setelah sekian lama perasaan itu menggantung tidak jelas. Dan ya, cukup membuat hariku gila setiap aku mengingatmu, walau itu sebenarnya baru berlangsung tak lebih dari seminggu.

“Gue nggak kok. GE-ER!” kulontarkan kata-kata itu dengan kasar padamu, dan berharap kau cukup sakit hati dengan memandangku sedih. Tapi itu tidak kau lakukan.

Tidak bisakah kau lakukan??

Aku memalingkan muka, merasa jika alisku mungkin terlihat hampir membentuk gunung dan mataku hampir mirip kolam ikan keruh. Kurasa kini semua menjadi lebih buruk dari yang kubayangkan.

Padahal sepertinya dulu kita begitu dekat. Selalu ada waktu bagi kita untuk berbagi cerita. Selalu ada waktu bagimu untuk menyentuh helai-helai rambutku yang katamu begitu lembut dan indah. Selalu ada waktu bagiku untuk menertawakan rambutmu yang kelewat keriting hingga terlalu besar untuk bisa masuk ke topi hadiah ulangtahunku untukmu. Selalu ada waktu untuk saling mengisi ruang-ruang kosong di antara jemari kita dengan jemari yang lain.

Lalu kemana waktu-waktu itu menghilang?

“Awas!!”

Aku mendengar teriakan itu masuk ke telingaku, tapi tidak begitu tahu siapa itu, karena detik berikutnya sesuatu menghantamku, dan semuanya terlihat gelap, lebih gelap dari kamarku saat mati lampu tempo hari.

***

Kurasakan kepalaku seakan mau pecah sekarang.

Apa yang terjadi? Atau yang sudah terjadi?

Aku bahkan tidak bisa membiarkan kelopak mataku berpisah dan membiarkan cahaya masuk ke retina mataku, membuat syaraf penglihatanku menyampaikannya ke otak, dan akhirnya aku bisa melihat. Rasanya ada magnet super besar di antara keduanya yang tidak mengizinkanku untuk mengintip barang sejenak saja.

“Apa dia baik-baik saja?”

Apa ia membicarakanku? Itu siapa?

Tak ada jawaban atas pertanyaanku, karena memang aku tidak sedang bertanya. Itu apa, siapa, ini dimana. Rasanya pertanyaan itu berputar-putar di sana, hanya saja aku tidak bisa melakukan apapun untuk melontarkan pertanyaan itu pada siapapun yang ada di hadapanku. Tidak tanpa aku membuka kedua mataku lebar-lebar dan meyakinkan jika aku sudah bangun.

Dan tiba-tiba aku seperti naik jet coaster dengan kecepatan tinggi. Semua objek di sekitarku berputar dengan cepat dan seakan menyeretku ke tengah pusaran raksasa yang sepertinya aku tahu itu apa. Itu mirip yang ada di film-film yang pernah kutonton denganmu.

Senyummu seperti lukisan di dinding, kebersamaan kita seperti adegan-adegan di film-film terkenal yang kita sukai, tawamu seperti tawa aktor paling keren yang harganya jutaan dolar. Kau begitu menjagaku kelihatannya, dan sepertinya pun aku sangat senang bersamamu. Itu tidak seperti dirimu yang sekarang.

Well, aku sebenarnya bingung kenapa aku masih saja berusaha bicara padamu. Padahal kau tak pernah berusaha mendengar.

“Astaga An, kamu ngapain duduk di situ?” tanyamu padaku dengan wajah tak percaya.

Oh wait, ini masa lalu? Oh ya, aku lupa aku tadi masuk ke pusaran raksasa.

“Pengen tau rasanya mati,” ucapku tanpa nada jenaka padamu.

Aku yakin kau menganggapku gila waktu itu. Tapi aku tidak mengerti karena kau bahkan tidak mencoba memarahiku, kau hanya menatap sedih padaku.

Aku kembali berputar.

“Apa lukanya sakit?” tanyamu di scene itu. Aku sepertinya lupa kapan itu terjadi. Pernahkah?

“Sakit. Tapi toh itu akan sembuh, tidak masalah untukku,” jawabku tanpa memandangmu.

Apa hatimu terluka saat itu? Aku tidak pernah tahu aku pernah mengatakan itu padamu dengan begitu ketus. Aku tidak pernah sadar bahkan aku tidak mencoba untuk senyum—walau dipaksakan—padamu, meski hanya untuk meyakinkanmu jika aku baik-baik saja.

Aku seperti tidak pernah menganggapmu ada untukku. Apa yang kupikirkan saat itu?

“Luka itu… maaf,” katamu dengan begitu sedih. Aku bisa melihat kerutan sedih di alismu, di tatapanmu, dan di kata-katamu yang begitu tulus itu.

Tapi aku terlihat lebih seperti batu, bukannya orang yang sedang duduk di kursi roda, dan kepala terbalut perban putih bersih dengan satu titik merah agak besar di bagian belakang kepala.

Sepertinya akhirnya aku menyadari satu hal. Aku pernah hilang ingatan! Dan itu kapan dan siapa dan kenapa dan, dan, dan…. Terlalu banyak yang ingin aku lihat di dalam pusaran itu. Tapi kini pusaran itu malah menghilang, digantikan kegelapan yang tadi. Aku kini terhuyung-huyung mencari pijakan. Tapi tidak ada apapun di sana. Hanya ada kegelapan yang pekat.

“Apa dia benar-benar tidak terluka?”

Ah, itu suaramu!

Aku yakin itu kau. Kau mengkhawatirkanku? Benarkah? Setelah sekian lama aku berpikir bahwa kau akan memandangku tidak dengan wajah ketus. Oh, rasanya aku ingin berteriak sangat keras sekarang, saking senangnya karena kau akhirnya menanyakan kabarku. Dan aku barusan menyadari jika sebenarnya ada titik putih di ujung sana.

Ayo buka matamu!, kataku pada diriku sendiri. Aku seakan berusaha mengubah magnet di kelopak mataku menjadi kutub yang sama dengan mantra ‘abrakadabra’. Tapi ternyata itu tidak semudah yang kubayangkan. Rasanya seperti dipaksa mengintip dari lubang yang pinggirannya tertancap jarum-jarum jahit. Membuat kepalaku benar-benar pusing tidak tertahankan.

Tapi kurasa usaha itu tidak sia-sia. Karena akhirnya aku melihatmu di depan mataku, dengan wajah lega luar biasa, dan senyum menawan yang seharusnya sudah kau berikan untukku dari dulu.

Tapi tunggu, aku sudah ingat. Apa kau lupa, An?

Kau tidak seharusnya seperti itu. Kau bukan orang yang terus memberikan senyumnya untukku. Kau bukan orang yang suka membelai rambutku yang katanya halus dan indah. Kau juga bukan orang yang mengisi ruang-ruang kosong di jemariku dengan meletakkan jarinya di sana. Kau pun bukan orang yang sedang kutunggu. Tapi itu kau.

“Siapa kau?” aku bertanya padamu, mencoba meyakinkan jika pikiranku memang tidak sedang membohongiku.

“Apa kau sudah ingat?” tanyamu sekarang dengan wajah berkerut sedih.

Dan wajahmu pun berputar-putar di ingatanku. Mengembalikan memoriku yang hilang. Rasanya seperti memutar ulang film lama yang menyedihkan. Dan aku akhirnya sadar, itu bukan kau. Bukan kita. Itu hanya kami. Lalu siapa kau?

Kau hanya bagian dari kami yang tersisih. Kau seperti dirimu yang sebenarnya. Mirip. Sangat mirip. Tapi kemana kau yang sebenarnya?

Kurasa aku ingat jika barusan aku merasa melihatmu berbaring berlumuran semacam zat merah dan diam di sampingku, menggenggam tanganku, dan sepertinya dingin.