Name

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sekarang saya punya nama yang aneh, Gepeng.

Dan tahukah dari mana saya mendapatkannya? Ehehehe…. Begini ceritanya….

satu bumi mapala

Jadi suatu hari setelah insiden hampir salah daftar itu (lihat di sini) akhirnya saya resmi menjadi calon anggota. Tentu saja yang namanya masuk ke pecinta alam nggak semudah itu. Ada yang namanya DIKSAR (pendidikan dasar) yang kalo di SATU BUMI adalah syarat wajib menjadi anggota mula. Di sana kami yang merupakan calon anggota dilatih dan diperkenalkan dengan alam, bagaimana cara mengenal hutan, survival, atau mencari jalur. Begitulah. Dan akhirnya kami pun memulai petualangan 5 hari di hutan bersama begitu banyak kejutan yang bahkan tidak terbayang oleh kami sebelumnya.

DIKSAR kami dilaksanakan tepat saat kampus saya mengadakan acara JamSession, sebuah acara pentas musik tahunan yang diadakan mahasiswa arsi dan pwk di tahun pertama. Jadilah saya harus mengorbankan acara itu dan memilih untuk mengikuti pendidikan kami yang akan menjadi penentu masuknya kami ke SATU BUMI atau tidak. Bahkan saya harus rela membolos satu kelas studio dan beresiko belum dapat ide untuk asistensi hari Rabu setelah selesai DIKSAR.

Dan ya, setelah begitu beratnya kami menjalani DIKSAR, yang sampai sekarang ceritanya masih sering kami ulang-ulang bahkan saling kami tertawakan, akhirnya itu pun selesai. Tentu saja setelah itu saya mendapat nama lapangan, yang seperti yang sudah saya katakan di atas, nama lapangan saya GEPENG.

Tahukah dari mana asalnya?

Ahahahaha…. Jadi tepat sebelum berangkat DIKSAR, saya mengantar teman saya membeli peralatan yang dibutuhkan, yang sebenarnya juga membuat kelompok kami telat begitu lama. Untuk mempersingkat waktu kami pun belanja di Mirota Kampus.

Dalam waktu singkat semuanya selesai kami beli dan kami pun keluar dari area parkir menuju jalan raya. Dan hal yang luar biasa terjadi.

Saat saya berhenti untuk menunggu lampu merah kembali menjadi hijau, sebuah mobil INOVA perlahan berjalan di sebelah kiri saya. Agak lama, dan tepat saat ban belakangnya sejajar dengan saya, ban itu juga dengan suksesnya melindas jari manis dan jari kelingking kaki kiri saya yang tadinya baik-baik saja.

And as you can guess, it was how I got my name.🙂