Peri Hujan dan Kentang part 1

by nuzuli ziadatun ni'mah


Aku suka hujan. Aku suka merasakan dinginnya air mengaliriku. Aku suka mendengar senandung dari rintikannya. Dan aku menyukai sosok peri hujan yang menawan itu. Ya, aku sangat menyukai hujan, hingga aku tak tahu seberapa besarkah itu….

Kata orang-orang tua di kerajaan kentang, tak ada seorang pun yang berani mencintai peri hujan, atau hanya berharap untuk bisa bicara dengannya. Mereka mengatakan jika aku aneh. Meraka bilang tidak akan pernah ada sejarah tentang peri hujan dan sebuah kentang jelek sepertiku. Mereka juga bilang peri hujan terlalu cantik untuk sebuah kentang yang bahkan bentuknya pun tidak jelas.

Tapi aku tak pernah peduli.

Aku percaya kalau Tuhan itu adil. Aku percaya jika di setiap kemauan yang tulus itu selalu ada balasan yang setimpal. Aku percaya bahwa aku pun bisa membuat ceritaku sendiri jika aku mau. Dan aku percaya jika peri hujan pun dikaruniai cinta seperti halnya semua benda di negeri dongeng ini.

Lalu di sela segala lamunan itu,

“Ota, gawat, desa kita kekeringan. Air sumur yang di sana sudah habis, dan sekarang semua penduduk desa sedang menggali lebih dalam.”

“Benarkah? Lalu, bagaimana dengan sungai?”

“Sudah seminggu terakhir ini sungai kering. Bahkan tidak setetes air pun mengalir di sana.”

Kaget, aku hanya bisa terduduk diam. Entah apa yang bisa aku lakukan sekarang untuk desa. Setahuku, sumber air paling dekat selain di sungai adalah di bukit hujan. Jauhnya sekitar 3 hari perjalanan pulang pergi dengan jalan kaki. Dan sepertinya kami tidak punya waktu sebanyak itu. Penduduk desa akan segera mengering dan akhirnya tertidur hingga musim hujan depan. Siapa yang akan menjaga desa jika nantinya Pasukan Ulat datang??

“Aku akan mencari peri hujan,” ucapku memutuskan.

“Apa? Tapi perjalanan ke sana butuh 2 hari, dan sehari lagi untuk pulang.”

“Aku tahu, dan karena itu aku ingin meminta bantuanmu.”

to be continued…