Peri Hujan dan Kentang part 2

by nuzuli ziadatun ni'mah


Aku bisa melihat raut wajah tidak percaya darinya. Sudah begitu lama kami berteman, dan itu membuat kami lebih bisa memahami satu sama lain. Aku pun paham jika aku terlalu mengambil resiko untuk pergi ke bukit hujan. Tapi jelas aku tidak punya pilihan lain.

“Tapi Ota, itu bunuh diri namanya. Tidak kah kau mendengar cerita Harman Si Pendongeng? Ada banyak bahaya di luar benteng Kerajaan Kentang. Dan semua kentang yang pernah ke sana tidak pernah kembali pulang,” jelasnya panjang lebar.

“Aku tahu. Aku sangat tahu, melebihi apa yang kau pikirkan.” Selama bertahun-tahun aku selalu mencari alasan untuk ke Bukit Hujan, dan inilah saat yang paling tepat. “Perjalanan ke sana memang berbahaya, tapi aku tahu bahaya itu. Aku bahkan sudah mempelajari detail setiap bahaya itu tanpa kau ketahui.”

“Oke, oke. Tapi tidak kah kau butuh teman??” ucapnya menekankan kata terakhirnya.

“Aku butuh. Tapi Kerajaan ini lebih membutuhkanmu dibanding untuk menemaniku. Kau panglima paling kuat yang pernah kutahu. Sedangkan aku hanya prajurit rendahan yang sok tahu. Kemampuan perangmu akan sangat dibutuhkan untuk melawan Pasukan Ulat, yang kuyakin pasti akan menyerang.”

“Ota…,”

Aku manaikkan tanganku, memintanya diam. “Aku bisa menjaga diri. Satu-satunya yang kuminta darimu, jangan katakan pada siapapun aku pergi. Apalagi pada Karen, dia akan sangat khawatir. Dan, lakukanlah yang terbaik untuk Kerajaan kita hingga hujan turun, 2 hari lagi.”

Wajah Rowan menegang. Aku bisa melihat kekhawatirannya yang luar biasa. Apalagi dia tahu jika aku sudah lama terobsesi pada Peri Hujan. Tapi, lama aku membalas tatapannya itu, dan akhirnya ia paham. Lalu mengangguk dan memelukku selayaknya sahabat baik.

“Aku paham, aku akan melakukan apa yang kau minta, teman. Hanya saja, aku masih tak bisa membiarkanmu sendirian.”

“Jangan khawatir, aku akan menemukan teman seperjalanan nantinya. Pasti!”

Maka dengan buru-buru aku bergegas kembali ke rumah gua-ku dan mengemas barang-barang seperlunya. Sejak aku menjadi prajurit kerajaan, tidak pernah sekalipun aku pulang ke Desa Atas, tempatku tumbuh saat masih kecil. Dan untuk misi kali ini, aku pun tidak akan berpamitan pada ayah ibu, karena kuyakin, mereka akan melarangku.

Saat aku keluar rumah dan mengunci pintu, Rowan sudah berdiri di belakangku membawa sebuah bungkusan daun kering. Sambil menatapnya aku menerka-nerka.

“Ini senjata terbaik di kerajaan. Guru pernah menitipkan ini padaku untuk diberikan kepadamu pada saatnya nanti, dan aku yakin sekaranglah saatnya. Sebelum kita lulus menjadi prajurit dulu, Beliau selalu kagum padamu. Karenanya Beliau menitipkan ini untukmu.”

Ragu aku menerimanya. Tapi sesuatu dalam diriku membuatku yakin, dan akhirnya aku mengambil bungkusan itu dari tangan Rowan.

“Aku pasti kembali,” ucapku yakin.

Maka setelah sekali lagi berjabat tangan dan berpelukan, aku bergegas pergi ke pintu gerbang. Sejenak aku menatap penduduk yang sibuk menggali sumur. Yakin jika memang ini satu-satunya keputusan yang tepat, maka aku pun mempercepat langkah sambil menutupkan jubah daun hingga menutupi kepalaku.

to be continued…