Peri Hujan dan Kentang part 3

by nuzuli ziadatun ni'mah


Aku berjalan setengah berlari menyusuri jalan setapak yang biasanya dilalui penduduk Kerajaan Kentang untuk melakukan perjalanan jauh seperti yang sedang kulakukan saat ini. Kerajaan kami memang terletak di dataran paling bawah di antara semua kerajaan lain di Negeri Dongeng. Bisa dibilang segalanya berderet ke atas sesuai dengan kastanya, dimana memang kasta Kentang yang ada di urutan terbawah. Tidak jarang di mana pun penduduk Kerajaan kami bertemu dengan yang lain, ejekan dan bisik-bisik menghina kami dengar. Jelas. Karena memang kami terlihat tidak layak dan ‘rendah’. Itu yang mereka katakan.

Sementara itu, Bukit Hujan adalah kasta kependudukan tertinggi di Negeri ini. Segalanya seakan-akan berujung ke sana. Ke sebuah tempat yang seakan bisa disebut sebagai surga. Tidak pernah ada tanaman atau binatang yang berani menginjakkan kaki di Bukit Hujan. Lebih karena perasaan ‘rendah’ dibandingkan rasa takut, walaupun jika memang takut, itu beralasan kuat.

Pesan Rowan benar, sangat berbahaya untuk ke sana, dan semua cerita Harman Si Pendongeng pun selalu kuanggap benar. Apalagi menyadari kenyataan bahwa aku sendirian. Setidaknya hingga sekarang, saat aku sampai di tikungan pertama jalan setapak. Secara otomatis aku menatap ke belakang, ke deretan rumah-rumah tanah yang terlihat kecil di kejauhan.

Inilah terakhir kali aku bisa melihat Kerajaan Kentang, setidaknya untuk 3 hari ke depan,” gumamku pelan.

Sekarang aku lebih bisa memahami bagaimana perasaan kakakku saat meninggalkan Kerajaan kecil kami untuk mengejar kekasihnya ke Kerajaan Umbi. Kerajaan yang masih bersaudara dengan Kerajaan kami namun telah lama berselisih karena masalah sepele. Dan sejak itu pula, Ayah tidak pernah mau lagi menganggapnya anak, walau aku tahu Ibu begitu menginginkan kepulangannya. Dan bagaimana ia sekarang, aku pun tidak pernah tahu.

Tanpa berlama-lama aku pun meneruskan langkah setelah meyakinkan diri untuk tidak menoleh lagi. Segala keperluanku telah lengkap di tas akar yang ku sampirkan di badan. Peta tua yang ku warisi dari kakek juga tidak lupa kubawa. Segalanya keperluanku lengkap sudah. Maka selama sisa hari itu aku terus menerus berjalan tanpa henti mengikuti jalan utama. Tidak ada tanda-tanda jika ada sayur lain yang berjalan di belakangku atau jauh di depan. Yang kurasakan hanya kesendirian.

Lewat tengah hari. Aku lelah. Dan akhirnya memilih menghindar dari jalan dan mencari batu untuk berteduh mengingat semua pohon tinggi di sepanjang jalan telah meranggas karena kemarau terpanjang ini. Saat itu aku sudah hampir sampai di Kerajaan Bawang, kerajaan terdekat dengan Kerajaan kami yang terpencil. Maka dengan cepat aku membuka tas dan mengeluarkan sari tanah, satu-satunya makanan yang bisa ditemukan di seluruh penjuru Kerajaan Kentang.

GRUSAK!!”

Suara keras itu mengagetkanku dan dengan sigap aku langsung berdiri tegap, menghunus pedang dengan mantap. Perlahan namun pasti, aku mendekati sesuatu itu.

Dan aku melihatnya. Seekor binatang putih aneh dengan rambut sangat tipis di seluruh tubuhnya. Dengan kulit yang sangat transparan itu aku bahkan bisa melihat tulang-tulangnya yang kecil namun tampak kuat. Aku belum pernah melihatnya!

Waspada. Aku terus memerhatikannya dengan seksama. Maka dengan rasa gentar yang ditahan, aku pun bertanya dengan suara keras.

Makhluk apa kau, dan apa yang kau lakukan di sini?!” suaraku terdengar lantang, hingga aku bahkan ikut terheran-heran.

Binatang itu terdiam, bahkan tidak bergerak. Maka aku pun mengulangi pertanyaan itu dengan nada sama dan pedang terhunus ke depan. Lambat namun pasti, perlahan binatang itu membuka matanya. Aku terpaku. Mata itu merah menyala tertimpa sinar matahari. Nyala yang mengerikan hingga aku merasa akan diterkam hanya dalam sepersekian detik saja. Aku bergidik.

Aku berusaha terlihat menantang. Itulah yang kusadari sedang kulakukan saat ini. Jelas hanya inilah satu-satunya hal yang bisa kulakukan selain kenyataan bahwa aku lemah. Ya, aku sangat lemah.

Untuk apa kau menghunus pedang. Itu tidak berarti untukku,” ucap binatang itu tiba-tiba. Tajam, serak, berat, namun bersahaja dan tanpa nada merdeka. Aku pun terkesiap. Antara heran dan kagum yang bercampur menjadi satu.

Namun mulutku terkunci, dan aku hanya bisa diam, dengan posisi yang sama, dan mata yang meneliti lebih seksama.

Kau kentang yang kuat,dan berkemauan kuat pula. Aku bisa melihat itu di matamu, dan di tanganmu itu,” katanya menunjuk lemah pada pedang yang kuhunus.

Lama aku memandangnya, meneliti, mencoba mencari lirikan licik di sana. Namun aku segera sadar, ia bukan binatang buas yang mau dengan susah payah meremukkanku. Ia hanya butuh ketenangan, dan sepertinya pertolongan.

Aku Ota, prajurit Kerajaan Kentang yang sedang melakukan perjalanan ke Bukit Hujan. Maaf karena perlakuan tidak sopanku padamu. Aku merasa bersalah telah melakukannya,” ucapku jujur sembari menurunkan pedangku.

Aku ingat, Harman Si Pendongeng pernah mengatakan, ada dongeng tentang Binatang Mulia, dengan kebaikan dan kebijakannya yang selalu disegani baik di Negeri Angin ataupun di negeri-negeri terdekatnya. Dan Bangsa Sayur Mayur kami adalah salah satunya. Namun dengan kemampuan yang mereka miliki, Binatang Mulia itu sering diincar dan dipergunakan untuk mencari kekuatan. Hingga tidak pernah lagi ada satu di antara mereka yang pernah terlihat lagi. Dan aku tiba-tiba merasa takut, jika yang kuhadapi sekarang mungkin salah satu dari mereka. Binatang Mulia yang selama ini tidak pernah terlihat dimana-mana.

Aku dari Negeri Angin, jika kau ingin tahu. Dari Kerajaan Atas. Kami adalah satu-satunya bangsa Kelelawar Putih yang masih hidup dan yang ada di depanmu sekarang ini adalah salah satu dari sedikit sekali yang masih bisa selamat,” terangnya lemah.

Negeri Angin katanya?! Mungkinkah Kelelawar Putih adalah Binatang Mulia itu?

Kini ia telah terduduk, menjulang begitu tinggi di atas badanku yang sangat kecil, dan terlihat rapuh dan lemah. Wajahnya nampak tua, dengan tubuh penuh luka di sana-sini. Tiba-tiba aku merasa sedih. Ia terlihat begitu kuat, namun melemah. Dan sesuatu di sekitar sayapnya (atau bisa jadi itu tangan) membuatku terpaku. Itu akar besi yang digantungkan di sana, yang juga dipakai untuk memenjarakan para kentang yang memberontak. Sekarang aku paham, itulah yang membuatnya tidak bisa terbang.

Pada akhirnya aku menemukan diriku berkutat dengan akar besi itu selama sekian lama. Sejenak aku pun melupakan apa yang menjadi tujuanku dan beralih kepadanya. Dan entah bagaimana, hatiku juga tidak memberontak dan justru aku merasa sedang melakukan hal yang benar.

Dan saat akhirnya akar besi itu terlepas seluruhnya, aku baru sadar matahari sudah hampir menghilang. Tersadar pula, jika aku sudah membuang setengah hari perjalanan, dan itu pun belum sampai ke Kerajaan Bawang. Aku merasa bodoh, menganggap perjalanan ini main-main hingga terlalu sok pahlawan dengan menolong Kelelawar Putih yang bahkan aku belum tahu namanya itu.

Dan akhirnya aku juga menyadari, mungkin Rowan sangat benar, jika aku terlalu percaya diri pergi sendirian. Terlalu percaya diri untuk menyelamatkan kerajaan. Dan bahkan mungkin terlalu percaya diri hanya untuk bisa menatap Bukit Hujan.

to be continued….