Peri Hujan dan Kentang part 4

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kentang tidak tidur, seperti halnya yang dilakukan binatang-binatang. Yang kami lakukan di malam hari adalah bernapas, yang akhirnya membuat kami melemah di malam hari. Karena itu kami terlatih membuat jebakan untuk mempertahankan diri kami selama ritual bernapas kami. Hanya itu yang bisa kami lakukan selain bergantung pada binatang, dan belum pernah ada yang melakukan itu. Dan sekarang, saat aku ada di samping Kelelawar Putih itu, untuk pertama kali selama melewati malam seumur hidupku, aku merasa aman.

Hingga akhirnya aku melihat semburat merah dikejauhan, tidak sejengkal pun posisi kami berubah. Aku terkagum-kagum melihatnya yang menawan dengan tubuh putih indah. Seakan aku yang rendah ini tidak pantas berada di bawah naungan sayapnya yang transparan.

“Kalian makhluk yang aneh, para sayuran. Tidak pernah memejamkan mata kapan pun itu. Sedangkan kami makhluk yang tidak suka matahari, walaupun kami bisa bertahan menghadapinya,” ucapnya pagi itu, membuatku menunduk dan merasa tersanjung atas ucapannya.

“Dan sungguh, aku berterima kasih padamu karena tetap berada di sini selama aku bernapas. Saat kami benar-benar merasa lemah.”

“Itu tidak masalah. Dan aku Erlan, jika kau ingin tahu namaku. Aku akan mengantarmu hingga melewati Kerajaan Sayur terakhir. Tapi aku tidak bisa mengantarmu lebih dari itu. Kami dilarang mengusik Bukit Hujan, begitu juga Peri Hujan dilarang mengusik Kerajaan Atas. Itu perjanjian yang telah lama ada. Jauh sebelum Negeri kalian terbentuk.”

Aku mengangguk. Sungguh sangat berterimakasih. Yah, mungkin sekali lagi aku harus percaya, jika memang dongeng kakek tentang Peri Hujan dan Kentang itu benar. Tanpa sadar, aku tersenyum.

Maka begitu semburat merah gelap itu menjadi lebih terang, kami bersiap. Aku selalu bersyukur punya tubuh kecil dari kebanyakan kentang di Kerajaan Kentang. Dan benar saja, itu membuat Erlan tidak kesulitan memberikan tumpangan untukku.

Bukan tumpangan di pundak yang ia berikan padaku. Tapi aku lebih merasa benar dengan ‘hanya’ memintanya mengangkatku dengan jubah daun yang diikat membentuk ayunan. Itu saja sudah membuatku merasa sangat terhormat. Sebuah prajurit Kerajaan Kentang yang tidak berharga sepertiku, memang seharusnya begitu.

“Maafkan aku sebelumnya Ota, tapi kita tidak bisa melewati jalan utama. Aku akan membawamu melintasi pinggiran Bukit Sejajar hingga Kerajaan Sayur terakhir sebelum Bukit Hujan, yaitu Kerajaan Tomat. Sejujurnya, aku tidak boleh menampakkan diri,” jelasnya. Aku paham. Amat sangat paham.

Tidak ada obrolan lebih lanjut tentang alasan Erlan terdampar di Negeri Sayur Mayur. Yang kami lakukan sepanjang malam memang hanya berdiam diri. Aku pun tidak ingin mencoba mencaritahu, karena itu bukan hal yang benar. Mungkin akan ada saatnya, atau mungkin juga segalanya memang hanya akan menjadi rahasia dan pertanyaan saja.

Di bawah sana di kejauhan aku melihat Kerajaan Bawang yang indah. Atau mungkin lebih sesuai jika kukatakan jika Kerajaan itu aneh. Dulu Harman Si Pendongeng pernah mendongeng jika di Dunia Manusia yang sangat jauh jaraknya, diceritakan jika bawang merah dan putih adalah musuh. Mereka saling bertengkar karena perbedaan warna padahal mereka satu marga.

Namun di Kerajaan Bawang semua terlihat berbeda. Ratu Bawang Merah adalah wanita yang mencintai rakyatnya. Pun demikian dengan Ratu Bawang Putih. Mereka adalah pasangan Ratu yang paling bijaksana. Bahkan tidak pernah ada rakyatnya yang menyangkal akan hal itu. Aneh mungkin, tapi Kerajaan Bawang benar-benar tidak pernah bertengkar.

“Kerajaan yang menarik,” komentar Erlan tiba-tiba. Membuatku tercengang. Jelas ia mengetahui semua hal.

“Memang. Aku belum pernah ke sana seumur hidupku. Entah kapan. Mungkin saat pulang nanti.”

Dan ketika itulah aku mendengar Erlan tertawa. Tawa yang berwibawa. Sejenak aku bersumpah, pernah merasa ingat bahwa aku pernah mendengar suaranya. Merasa pernah ingat bahwa dulu kala kami pernah berjumpa. Tapi detik berikutnya aku tersadar, itu tidak mungkin terjadi, karena seumur hidup aku belum pernah meninggalkan Kerajaan Kentang.

Dengan cepat kami meninggalkan warna merah dan putih yang semarak di Kerajaan Bawang jauh di bawah sebelah kiri kami. Yang lalu digantikan pemandangan gersang daun-daun pohon besar yang meranggas karena kemarau. Sepanjang perjalanan itu pun aku tidak melihat tanda-tanda sungai yang mengalir indah, membuatku putus asa jika aku pun tidak akan menemukan air. Tanpa sadar tanganku menyentuh kantong air, ini hanya akan cukup hingga siang nanti.

Aku mengamati kembali peta di tanganku. Meyakinkanku jika sekarang aku sedang berdiri tak jauh dari gerbang Kerajaan Tomat, tempat yang tidak pernah dianggap Harman Si Pendongeng sebagai tempat yang baik untuk kentang. Bukan saja karena jaraknya yang maha jauh dari Kerajaan Kentang, tapi karena apa yang dilakukan penduduk Kerajaan Tomat pada kami. Rasa superior mereka yang tidak pernah ingin kalah dan selalu menganggap derajat mereka paling tinggi.

“Yah, setidaknya aku aman ada di luar sini,” gumamku bersyukur, tidak perlu repot-repot masuk ke Kerajaan Tomat hanya untuk sekedar mampir.

Beberapa saat lalu Erlan berpamitan pergi. Ia memberiku sesuatu yang mirip kalung, walau memang itu tidak sesuai dengan bentuk tubuhku yang aneh.

“Itu mungkin tidak seberapa, tapi itu berarti untukku, dan karenanya kau pantas memilikinya,” ucap Erlan kala itu.

Kini saat menoleh ke atas, aku masih bisa melihat sebentuk kecil makhluk putih yang sedang terbang senang. Walau pertanyaan tentang siapa sebenarnya dan alasannya sampai ke Negeri Sayur Mayur belum terjawab, tapi aku senang. Penghargaannya terhadap pertolongan kecilku terlalu besar. Diam-diam aku merasa rendah diri, Erlan sungguh makhluk yang ‘besar’.

Suara gemerisik angin menyadarkanku dari lamunan. Sekarang angin berhembus terlalu kencang, mungkin di Negeri Angin pun lebih mengerikan. Menurut peta yang kubawa, aku harus terus menelusuri jalan setapak itu sampai ujung Jurang Tak Berbatas. Hanya itu satu-satunya jalan menuju Bukit Hujan mengingat ujung lain jurang itu juga aku tak tahu.

Aku menoleh ke belakang, terlihat Gunung Besar tinggi menjulang berwibawa. Baru sejenak lalu aku terbang di atasnya bersama Erlan, merasa kagum bisa melihatnya dari atas. Lalu tanpa pikir panjang kakiku melangkah menjauhi benteng Kerajaan Tomat yang tinggi menjulang. Terlalu lama di sana hanya membuang waktu, dan aku pun tidak ingin dicurigai sebagai mata-mata hanya karena berdiri di sana tanpa melakukan apa-apa.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di ujung jurang yang menjadi akses satu-satunya ke Bukit Hujan. Dari sana, peta tua kakek hanya menunjukkan tanda panah ke Bukit Hujan. Lalu setelahnya tidak ada apa-apa. Halaman itu habis. Dan aku tidak tahu kelanjutannya.

“Berhenti di sana!” sebuah suara membentakku. Membuatku langsung menjatuhkan peta dan meski terlambat tangan kananku langsung menggenggam gagang pedang.

“Siapa itu?” aku balik menggertak.

Sosok kecil muncul tiba-tiba tanpa suara, seakan dirinya bisa menyatu dengan tanah. Aku memperhatikannya lebih seksama.

“Apa maumu datang ke sini?” tanyanya lantang padaku.

“Aku tidak datang padamu. Aku hanya ingin melalui tempat ini untuk ke Bukit Hujan.”

“Ahahaha…. Bukit Hujan katamu? Bukin Hujan?” ia tertawa begitu geli, seakan perkataanku hanya gurauan anak kecil. “Kau kira tempat seperti itu ada? Itu hanya khayalan, anak muda. Dan bukan kau saja orang yang pernah tertipu untuk mau jauh-jauh mencari di mana sebenarnya Bukit Hujan itu,” katanya membuatku tidak mengerti.

“Tidak mungkin. Kau pasti hanya menipuku. Semua buku menulis—,”

“Ha! Hanya tertulis begitu bukan? Tidak pernah ada yang benar-benar menuliskan mereka pernah bertemu Peri Hujan.”

“Aku pernah!” gertakku. Ya, aku pernah. Dan aku selalu mengingat hari itu, saat dimana hujan pertama setelah musim kemarau. Saat umurku masih sangat kecil, karena aku belum memiliki daun kala itu.

“Tidak mungkin! Pulanglah!”

“Biarkan aku lewat. Aku yakin Bukit Hujan itu ada. Tidak mungkin peta ini berbohong.”

“Peta itu tidak dibuat oleh Dewa. Ia bisa saja salah. Pulanglah!” ucapnya lagi. Kali ini lebih keras dan tegas.

“Ijinkan aku lewat. Aku hanya ingin pergi menemui Peri Hujan,” aku bersikeras.

Mereka sudah tidak ada. Pulanglah!” ucapnya lalu berbalik hendak pergi.

“Tunggu! Kau barusan menyebutkan ‘mereka sudah tidak ada’. Berarti kau tahu mereka pernah ada.

Tubuh itu berhenti. Membuatku memiliki kesempatan untuk memerhatikannya lebih lanjut. Tubuh itu kecil, dan aneh. Seluruh tubuhnya dibalut sulur daun hijau. Tidak biasanya ada yang berpakaian seperti itu. Seperti halnya penduduk Kerajaan Kentang, semua sayur selalu memakai baju dari daun kering. Kami menghormati dedaunan yang tumbuh di Pohon Besar, dan tidak ingin mengusiknya. Hanya mereka yang ditumbuhi daun lah yang lalu memakainya untuk menjadi baju.

“Ah, kau tidak seperti kami. Kau bukan bangsa sayur,” ucapku lambat-lambat. Dengan mata semakin membulat aku segera tersadar. “Kau…, kau  juga… Peri Hujan.”

to be continued….