Sebuah Cerpen

by nuzuli ziadatun ni'mah


NATA

Novel. Film. Dongeng. Cerpen. Semua cerita itu bulshit! Nggak ada yang benar-benar menggambarkan kenyataan. Itu hanya imajinasi orang belaka yang mengharapkan agar ekspektasinya menjadi nyata. Semua orang sama saja, masih selalu percaya dongeng, padahal mereka tidak pernah ada. Masih pula percaya mimpi, padahal mereka ilusi.

***

WINNA

Bukan cerita kepahlawanan yang selalu diingat olehnya sejak kecil. Bukan pula cerita tentang putri dan pangeran. Atau bahkan cerita tentang naga dan kurcaci. Tapi justru cerita pertengkaran kedua orangtuanya yang selalu ia dengar. Cerita tentang keinginan mereka untuk bercerai. Cerita tentang ketidakinginan mereka untuk mengambil alih hak asuh atas dirinya. Ya, baginya semua cerita yang berakhir bahagia itu tidak pernah ada. Yang ada hanyalah rasa tidak peduli dan acuh untuk terhindar dari masalah, entah seberapa menyakitkannya itu untuk orang lain.

Baginya, bahagia itu tergantung dari mana kita melihat. Karena tidak akan pernah ada orang yang bisa merasakan perasaan serupa dengannya. Dan ia selalu percaya, itu tidak akan pernah terjadi.

“Astaga, Nata. Lo ngapain di sana? Syutingnya udah mulai dari tadi!” seseorang berteriak dari bawah. Nata hanya menoleh sedikit, tidak berselera untuk menanggapi.

Gue nggak pernah minta buat jadi artis. Nggak pernah nyuruh lo buat milih gue sebagai lawan main. Nggak pernah berminat buat ngerelain diri gue lo anggap sebagai mainan. Gue cuma nggak mau lo nganggep gue sebagai pecundang.

Hanya itu makian yang selalu diteriakkan Nata dalam hati. Ia tidak pernah mau menjadi objek tontonan seperti itu. Tidak pernah pula berkeinginan untuk berpura-pura di hadapan entah berapa ribu orang. Tidak pernah mau merasa dikenal dan dihafal oleh orang yang tidak ia tahu. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan hanya duduk diam. Seakan itu hal terakhir yang bisa dilakukan oleh manusia di dunia ini. Di pikirannya hanya ada satu pertanyaan: entah apa tujuan hidupnya.

“Nat! Lo denger nggah sih gue panggil?!” teriakan itu bergema sekali lagi di telinga Nata. Lebih keras, lebih melengking.

Dalam sekejap saja Nata sudah berdiri di depannya diiringi suara berdebam pelan. Mereka hanya berjarak sejengkal. “Gue selalu tau kapan gue harus turun dari atas sana,” ucap Nata hambar, dingin, dan tegas, lalu melangkah meninggalkan tempat itu tanpa berusaha menunggu jawaban. Wajah berrias itu terpaku di tempatnya. Matanya membulat karena kaget akan kejadian tiba-tiba itu dan wajahnya berubah pucat. Namun hanya dalam sekejap saja wajah itu merah padam. Gabungan antara marah dan malu.

“Dari mana kamu Win? Tuh pujaan kamu udah dateng,” seorang wanita berkuncir satu menegurnya.

“Gue yang nyari dia kok tadi, gue udah tau,” jawabnya sambil menghela napas.

Dengan wajah kebingungan Laila hanya membiarkannya lewat. Ia tidak mengerti akan wanita itu. Ia tahu Winna mengagumi Nata sejak dulu, atau mungkin lebih tepatnya mencintai dia. Tapi laki-laki itu tidak berperasaan, semua orang tahu itu. Tidak pula pernah berusaha menghargai orang lain. Jika boleh, Laila lebih suka menyebutnya brengsek dan kurang ajar.

***

LAILA

Dia bukan gadis yang penuh cita-cita. Hanya gadis biasa dengan impian sederhana, melakukan hal yang ia sukai, apapun itu.

Ia tidak pernah benar-benar berusaha untuk mencari satu mimpi. Baginya segalanya sah-sah saja. Ia tidak pernah mau dianggap tidak berpendirian karena mimpinya sering berganti. Tapi ia lebih suka menyebutnya pelangi. Tidak ada mimpi yang benar-benar harus pasti. Karena sejujurnya, ia menyukai saat-saat menemukan mimpi-mimpi baru.

Pada akhirnya ia pun menjadi mirip dengan Nata, tidak benar-benar tahu apa tujuan hidupnya, walau ia bahagia.

“Nat, skrip kamu. Tadi jatuh di deket kursiku, pas kubuka ternyata ada tulisanmu,” Laila menyerahkan seberkas skrip lecek ke arah Nata.

Laki-laki itu mengamatinya, lalu mengulurkan tangan untuk menerima. “Lo terlalu bersusah payah,” katanya, masih dengan nada dingin. Dan ia pun berlalu.

Banyak hal yang selalu membuat Laila bingung tentang laki-laki itu. Ia tidak bertampang biasa saja, bahkan bisa dikatakan ganteng—ah bukan, ia memang ganteng. Orang yang sangat berbakat dalam film, karena walaupun dingin, tapi ia benar-benar bisa berekspresi saat di depan kamera. Bisa melakukan apa saja tanpa perlu bersusah payah. Dan entah ada berapa banyak lagi alasan yang membuat laki-laki itu sempurna.

Tapi Laila selalu merasa dia punya sisi rahasia. Ia orang yang tak tahu apa itu kata ‘maaf’ dan ‘terima kasih’. Tidak pernah tau bagaimana cara tersenyum yang bisa membuat orang lain ikut melakukannya. Ia terlalu penuh dengan kepura-puraan. Terlalu penuh dengan selubung. Dan yang lebih mengherankan lagi, kenyataan bahwa Winna begitu mencintainya sejak mereka bertemu pertama kali di bangku SMA. Padahal jelas sekali Nata tidak pernah berusaha menatapnya barang sekali saja.

Tiba-tiba ia merasa tertarik untuk ingin tahu tentangnya. Bukan karena sesuatu yang khusus, tapi lebih karena Nata yang sebegitu sempurnanya, tidak pernah terlihat bahagia barang beberapa detik saja. Nata yang seperti itu begitu bisa berpura-pura.

***

LAMPION DAN CINDERAMATA

Nata duduk di bangku paling ujung, sedang keramaian seakan enggan mendatanginya di sisi lain pantai.

Malam itu bukan malam biasa seperti hari-hari sebelumnya. Tapi setelah hampir 4 bulan membuat film bersama, akhirnya mereka menyelesaikan segalanya hari itu, dan pesta pun digelar. Bagi Nata, tidak ada pesta yang membuatnya senang, kecuali pesta ulang tahunnya yang ke 7 saat ia masih kecil. Tidak ada hadiah yang terlalu indah, kecuali jalan-jalan ke kebun binatang bersama ayah dan ibunya. Dan tidak ada sesuatu yang terlalu menawan, kecuali lampion kecil di langit-langit kamarnya.

“Bangku kayu dan pasir putih. Apa kamu pernah mendengar dongeng itu?” tanya Laila mengejutkannya. Hanya sekali itu Nata tidak merasakan kedatangan orang lain yang sedang menghampirinya. Tanpa ekspresi, ia hanya menoleh sekilas dan kembali menatap ke kejauhan.

“Haaah,” Laila menghela napas, duduk di sampingnya. “Kamu seakan-akan seperti orang mati. Duduk diam, melihat dengan tidak fokus. Lalu mengalihkan pandangan lagi, lalu diam lagi. Menjawab pertanyaan dengan dingin, menjawab sapaan dengan diam. Kamu tau, rasanya lebih menyenangkan bicara dengan patung sebenarnya, karena mereka memang tidak bernyawa,” ocehnya riang.

Nata benci wanita seperti itu. Tidak bisa membaca raut wajahnya. Tidak mengerti kepada siapa ia sedang berbicara. Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri.

“Aku tidak percaya dongeng dan mimpi. Mereka tidak pernah ada,” Nata menanggapi dengan sinis. Membuat Laila justru tertawa geli.

“Akan kuceritakan kalau begitu,” Laila mulai berbicara lagi, tidak memedulikan Nata yang bertampang jengah. “Tunggu, lupakan tentang bangku kayu dan pasir putih. Kita ganti ke ‘lampion dan cinderamata’. Itu cerita tentang lampion yang jatuh cinta pada cinderamata. Ceritanya dimulai saat lampion kecil tinggal di rumah kayu di pinggir kota. Rumah itu sederhana, tapi ia tetap bahagia. Pemilik rumah yang baik hati menempatkannya di kamar anak laki-laki kecil di rumah itu. Dan walaupun ia hanya bisa berputar-putar dan bersinar redup, tapi ia selalu bahagia mendengar tawa riang anak laki-laki kecil di kamarnya.

“Hingga datanglah suatu hari, saat sang ayah masuk ke kamar itu dan meletakkan sebuah patung anak perempuan kecil. Itu cinderamata dari sang ayah untuk anak laki-lakinya. Dan sejak kedatangannya, lampion pun tau rasanya jatuh cinta. Beberapa hari lamanya ia menahan diri untuk berkenalan setiap malam. Hingga saat akhirnya ia merasa sudah waktunya, ia pun terlambat. Lampion kecil tidak pernah tau bagaimana jawaban patung perempuan kecil itu. Pun demikian, patung perempuan kecil juga tidak tau jika lampion kecil jatuh cinta padanya.

“Kau tau kenapa?” tiba-tiba suara Laila terdengar sendu. “Karena patung itu pecah terlempar saat kedua orang tua anak laki-laki kecil bertengkar.”

***

HUJAN DI BULAN AGUSTUS

Nata bermimpi, kembali ke rumahnya yang dulu, masih tersenyum, masih tertawa, dan masih bahagia. Ia berbaring tenang di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamarnya lalu fokus pada lampion kecil. Lampion itu selalu di sana, sejak ia bisa mengingat sesuatu. Ia seperti sahabat baiknya. Maka setelah dicium keningnya oleh ibunya, Nata pun tertidur. Namun tak lama setelah ia memejamkan mata, ia mendengar suara gaduh di depan pintu. Lalu pintu menjeplak terbuka, membuat suara ayah dan ibunya terdengar lebih keras di telinganya. Perlahan mendekati meja belajarnya.

PRANG!!

Dan dengan wajah penuh keringat, Nata terbangun.

Nata merasa tidak waras. Belum pernah ia bermimpi tentang rumah lamanya sejak perceraian orangtuanya selama berhari-hari. Ia selalu berusaha keras melupakan itu, bahkan dulu ia sering tidak tidur saat masih awal tinggal di rumah Bibinya. Tapi kenapa? Hanya karena mendengar dongeng Laila yang bahkan tidak masuk akal, segala kenangan itu kembali. Seakan-akan Laila adalah manusia masa lalu yang dikirim kepadanya. Dalam hati ia mengumpat pada gadis itu. Menyalahkannya yang percaya dongeng dan menjejalinya dengan cerita tak masuk akal.

Kesal, Nata akhirnya berjalan ke kamar mandi apartemennya. Berhenti kuliah dan menjadi aktor, ia seperti semakin kehilangan arah dan tujuan. Ia pun telah lama tidak tinggal dengan Bibinya sejak masuk SMA. Kini segalanya benar-benar tentang dia. Dan hanya dia.

Ting tong!

Tepat saat ia keluar kamar mandi, bel berbunyi, dan ia pun melangkah untuk melihat siapa yang datang. Sejenak ia ragu, tapi akhirnya ia membuka pintu, menerima tamunya.

“Nat…,” Suara Winna terdengar pelan dan memohon. Ia telah lama memendam keinginan untuk datang ke apartemen Nata. Merendahkan dirinya agar ia diterima. Menata hatinya untuk apapun yang akan Nata lakukan dan katakan. Wajahnya tertunduk, tidak bisa dan tidak mampu beradu pandang dengan laki-laki yang begitu lama ia cintai.

“Pulanglah,” Nata mengucapkannya tanpa beban, tanpa perasaan.

Winna tahu, sangat tahu jika kata itu yang akan ia dengar. Ia paham. Tapi ia tetap tidak dapat menahan diri untuk tidak menangis. Dadanya sesak bukan main, menahan agar suara tangisnya tidak terdengar walau tetes-tetes besar air mata sudah jatuh berguguran di sepatunya.

“Tolonglah, untuk sekali ini…,” Winna berbicara lagi. Kali ini dengan suara tercekik, antara menahan tangis dan memohon dengan sangat.

“Pulanglah,” sekali lagi Nata mengucapkannya. Masih tanpa perasaan. Beberapa detik mereka seperti itu, hingga Nata akhirnya melangkah mundur, berniat menutup pintu.

Entah apa yang membuat Winna terdorong untuk melakukannya. Tapi kakinya kini sudah bersentuhan dengan ujung kaki Nata, tangannya melingkar di pinggang Nata, dan wajahnya tenggelam dalam dada Nata. Isakannya kini semakin terdengar.

“Lo tau gue brengsek. Kita sama-sama paham Win. Pulanglah,” dan kata terakhir itu ditekankan pelan namun sedemikian dalamnya hingga membuat pelukan Winna terlepas. Seakan ada mantra pengusir, kaki Winna mundur satu langkah dengan lemah. Dan tak lama pintu di depannya berdebam tertutup.

Winna tahu Nata orang baik, makanya ia memintanya pulang. Ia baik, makanya ia selalu berkata kasar padanya. Ia baik, makanya ia berusaha membuatnya membencinya. Tapi Winna tidak pernah bisa membencinya. Ia menerima segalanya itu dengan lapang dada, walau ia tahu Nata tidak punya perasaan untuknya. Ah, atau lebih tepatnya Nata memang tidak bisa merasakan apa-apa.

Ia benar-benar tahu, sangat tahu. Tapi tetap saja luka itu terasa begitu sakit. Menganga terlalu lebar di hatinya. Membuatnya bahkan tidak bisa bernapas saking sesaknya.

Sejak awal segalanya memang tidak mungkin. Memang sudah selesai sebelum dimulai. Gue tahu. Tapi mengapa rasa sakit itu masih ada? Bahkan justru terasa amat sangat sakit hingga gue nggak ngerti lagi harus berbuat apa. Tolong hentikan ini semua Nat, bisiknya dalam hati. Dan sambil terus bersandar pada dinding, Winna menangis tanpa berusaha tahu berapa lama ia di sana.

Saat itu, tanpa berpikir apa-apa Nata menuju ke beranda. Tangan kanannya memegang dadanya, seakan bertanya mengapa ia tidak bisa merasakan apapun, tidak berperasaan. Lalu langit yang sedari tadi gelap, akhirnya menjatuhkan tetes pertamanya.

Dan hujan pun turun di bulan Agustus.

***

PATUNG PEREMPUAN KECIL DI RUMAH TUA

Tidak ada hal apapun yang membuat Nata terus terpikir tentangnya. Tidak pula ada wanita yang pernah membuatnya berusaha berpaling padanya. Tapi itu terjadi, sejak dongeng itu ia dengar dari Laila. Gadis itu telah membuatnya mengingat masa lalu, membuatnya bahkan memimpikan itu. Dan bahkan, ia merasa ada sesuatu dari gadis itu yang membuatnya merasa—tertarik? Apakah itu kata yang tepat? Entahlah.

Tanpa memikirkan apapun, Nata mengendarai mobilnya menyusuri jalan tempatnya dulu sering bermain. Berbelok di tikungan terakhir di gang itu, dan berhenti di depan sebuah rumah kayu kecil. Rumah itu masih terawat, pikirnya dalam hati. Ia belum pernah mencoba kembali, atau hanya sekedar bertanya tentang rumahnya. Ia justru membuang jauh-jauh semua kenangan akannya. Dan tanpa tahu apa sebabnya, kini Nata berjalan mendekati pintu depan. Bahkan dengan perasaan tenang.

Tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu, pintu itu terbuka ke arah dalam. Membuatnya terkejut saat di depannya muncul gadis berkuncir satu, Laila.

“Nata…,” gumamnya pelan. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut, senang, dan segurat senyum terlihat di sana.

“Sedang apa lo di rumah gue?” Nata bertanya dingin, berusaha tanpa ekspresi.

“Aku menyewanya. Rumah ini disewakan sejak sebulan yang lalu, beberapa hari sebelum kita selesai syuting,” jawab Laila polos.

Tanpa bicara lagi, Nata berbalik dan berjalan ke arah mobilnya. Ia merasa bodoh ada di sana. Mendatangi sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan. Tapi sebuah tangan kecil menahannya.

“Aku tahu segalanya. Aku membacanya, aku melihatnya,” ucap Laila dengan wajah berarti.

Hanya dua kalimat singkat. Tapi itu mengubah keputusan Nata untuk kembali ke apartemen. Saat berikutnya, Nata sudah duduk di atas tempat tidurnya saat masih kecil. Lampion itu masih di langit-langit kamarnya. Tidak ada yang berubah, kecuali pecahan patung perempuan kecil yang telah hilang. Sementara Nata mengingat masa lalunya, Laila hanya bisa berdiri di ambang pintu. Lalu ia memutuskan untuk melangkah masuk. Yakin dan pasti.

“Belum hilang, aku hanya mencoba memperbaikinya,” ucapnya, menyerahkan patung perempuan kecil ke dalam tangannya. Membuat Nata terkejut.

Ia mendongak menatap gadis itu, dan untuk pertama kalinya menatap langsung ke matanya. Dongeng ‘lampion dan cinderamata’ ternyata memang pernah ada. Gadis itu lah yang membuatnya nyata. Nata masih terus menatap Laila, hingga gadis itu tersenyum.

Dan saat itu lah Nata tahu jika ia sedang jatuh cinta, untuk pertama kali dalam hidupnya.

***

DONGENG KETIGA

“Dan begitulah, bangku kayu lebih memilih untuk menemani pasir putih, meski ia tau kayu tidak pernah bisa menang dari pasir dan air laut,” Laila mengakhiri ceritanya.

Tidak ada cerita yang berakhir bahagia. Dulu Nata mengira demikian. Tapi saat mendengar Laila bercerita, ia hanya tersenyum kecil.

“Sekarang giliranku,” Nata mengambil alih pembicaraan. “Ini cerita tentang bunga kecil dan pagar kayu. Ceritanya dimulai ketika…,” Nata terus bercerita. Tapi Laila sudah tahu akhir cerita itu, Nata sudah menceritakannya setiap hari. Laila hanya terus tersenyum padanya, sementara Nata menatap kesal karena dongengnya tidak didengar.

***

Yogyakarta, 28 Agustus 2011. 01:09