Peri Hujan dan Kentang part 5

by nuzuli ziadatun ni'mah


Jurang Tak Berbatas. Tempat itu benar-benar bukan tempat seperti yang pernah kuduga sebelumnya. Mungkin memang gelap dan suram, tapi di satu sudut ini, dan benar-benar hanya ini, aku menemukan kedamaian dalam keheningan. Sesuatu yang aneh di tengah kegelapan pekat jurang yang mengerikan.

“Kau makhluk apa?” suara kecil Peri Hujan itu menegurku yang melamun.

Aneh, Peri Hujan ini seperti tidak pernah melihat kentang sepertiku. “Kentang. Namaku Ota, diambil dari bahasa laut kentang, Potato.”

“Nama yang bagus, dan tidak biasa. Aku Almond, diambil dari buah Pohon Besar paling agung di Bukit Hujan,” ucapnya menawarkan sebelah tangan untuk berjabat. Aku menerimanya lambat-lambat.

Aku bicara pada Peri Hujan?! Akhirnya!

“Itu tidak akan menjadi semenarik itu jika kau tahu yang sebenarnya.” Seakan bisa membaca pikiranku, Almond berkomentar demikian.

Aku melepas tangannya. Sentuhan itu, membuat kami—atau lebih tepat dia—bisa membaca pikiran.

“Tenanglah, aku tidak berbahaya. Kami sudah melemah. Satu-satunya yang bisa kami lakukan hanya bertahan hidup. Entah sampai kapan,” ia angkat bicara.

“Apa kau, lari dari Bukit Hujan?” was-was, aku bertanya padanya.

“Ha, lari katamu?” ia tertawa hambar, lalu terdiam sedih. “Benar. Aku lari.” Hanya itu yang ia katakan hingga membuatku tidak mengerti.

Agak lama aku terdiam, hingga aku akhirnya angkat bicara. “Aku harus ke Bukit Hujan, secepatnya!” Dan seperti yang bisa kuduga, ia hanya diam sambil terus berusaha menciptakan tetesan hujan kecil untuk memenuhi persediaan air.

“Kerajaan kami kekeringan, dan kami semua akan tertidur jika lusa hujan belum turun juga. Kemarau ini terlalu panjang, dan kurasa memang sudah saatnya turun hujan. Segalanya kacau di Kerajaan kami. Jika aku tidak secepatnya bertemu Peri Hujan dan memintanya menurunkan hujan, kami akan tertidur, dan diserang Pasukan Ulat dari Lembah Dalam. Dan segalanya akan binasa,” aku tetap mengoceh, meski ia tak menanggapi. Dengan putus asa karena tidak ada perhatian, akhirnya aku hanya bisa mengatakan, “Sungai Besar mengering, di seluruh Negeri. Dan hanya kalian yang bisa menolong kami semua.”

Kali ini aku yakin aku berhasil. Almond menghentikan kegiatannya berbalik padaku dengan tatapan tidak percaya. “Kau bilang Sungai Besar mengering? Tidak mungkin!” wajahnya berubah ngeri.

“Sudah sejak seminggu lalu. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali mengambil air di sana. Saat melewatinya kemarin pagi, aku bahkan sudah melihat dasarnya yangpecah-pecah karena terlalu kering,” jelasku.

“Tidak mungkin! Sungai Besar tidak pernah kering. Kapan pun itu, sekian lama tidak pernah kering. Kau pasti berbohong.”

“Kau bisa melihatnya sendiri. Sungai Besar melewati semua Kerajaan di Negeri ini.”

Dengan cepat Almond melesat pergi. Ia terbang! Dedaunan di sekitar tubuhnya yang membuatnya bisa melayang. Mereka yang dengan sendirinya mengepak-ngepak pelan dan membuat Almond melayang. Dalam sekejap mata aku melihatnya menghilang ditelan gelap. Lama berselang, hingga akhirnya aku merasakan kembali kehadirannya yang menyeruak dari kegelapan. Wajahnya kini menunduk, lebih tampak frustasi daripada hanya sekedar sedih.

“Kau benar. Sungai Besar memang mengering. Dan bukan itu saja, ia benar-benar mati.” Kalimat itu terdengar bergetar saat ia ucapkan.

“Ada apa dengan itu?” tanyaku bingung. Aku mungkin lebih tahu sedikit lebih banyak dibanding Rowan tentang Bukit Hujan, tapi aku tidak benar-benar tahu tentangnya.

Ia duduk menghadap kunang-kunang yang setia bertengger di sana tanpa paksaan. Menjadikannya satu-satunya penerangan dan sahabat di kegelapan itu.

“Sungai Besar tidak seharusnya mengering, tidak boleh mengering! Sungai itu mengalir dari Istana Peri di Bukit Hujan. Setiap saat tidak pernah ada hentinya para Peri datang memberi air untuknya. Tidak sekalipun ada yang melupakan kegiatan itu barang sehari selama hidup kami. Pun begitu denganku sebelum aku pergi dari sana.”

“Lalu… jika Sungai Besar mengering…?” itu lebih seperti pernyataan dibanding pertanyaan, karena aku tahu kelanjutan kalimat itu.

“Berarti, sudah tidak ada lagi Peri Hujan di Bukit Hujan. Sama sekali tidak ada lagi.”

Segala perasaan itu bertumpah ruah di sana, tanpa kusadari. Saat segalanya masih begitu aneh dan masih kabur di pikiranku, aku bahkan telah menemukan diriku berlari sekencang yang kubisa menyusuri jalan setapak menuju ke Bukit Hujan. Bukan karena itu kemauanku sendiri, tapi dalam ke-tidak-mengerti-an, Almond langsung mengambil senjatanya dan terbang pergi. Dan karena itulah sekarang pun aku merasa bertanggungjawab untuk ikut pergi. Ke Bukit Hujan.

Akar Rambat, Danau Pasir, Daun Besar. Semua hal yang pernah kutanyakan pada Harman Si Pendongeng itu ternyata memang ada, semuanya nyata. Sayangnya, bukan perasaan berdebar yang kurasakan, tapi perasaan sedih yang mendalam. Makhluk-makhluk yang menakjubkan di dalam dongeng itu kini tengah terkapar kekeringan. Segalanya gersang. Mungkin benar, segalanya telah selesai, Negeri Sayur Mayur sudah tamat.

Tidak berhenti, aku melanjutkan perjalananku mengikuti jejak Almond, jejak hujan. Entah bagaimana aku merasa tahu tentang jejak hujan, jejak yang sepertinya pernah kuikuti suatu hari. Peri Hujan tidak bersayap, ataupun meninggalkan jejak mengkilat saat ia terbang. Mereka berbeda dari Peri Bunga, yang meninggalkan serbuk bunga bercahaya saat mereka terbang. Yang ditinggalkan Peri Hujan adalah bibit. Bibit yang lahir dari tetesan air yang mereka tinggalkan. Aku tahu itu sejak dulu, walau aku lupa kapan itu tepatnya.

Akhirnya setelah sekian lama aku berlari, aku bisa melihat Pohon Besar yang sangat indah di kejauhan. Kulihat pula Almond yang terbang kecil di kejauhan. Maka dengan segera aku menyeberangi padang besar menuju ke Pohon Besar menawan itu.

Itulah Istana Peri Hujan. Begitu indah dan besar. Dan aku ada di sini!! Kalimat itu terdengar luar biasa bagiku.

Namun aku tercengang begitu sampai di bawah Pohon Besar. Meski pohon itu masih tumbuh subur, tapi tidak ada jejak hujan sedikit pun. Bahkan tanahnya kering, tidak berumput sama sekali. Di kejauhan aku bisa mendengar Almond memanggil sejumlah nama.

“Edel! Ayah! Ibu!” kata-kata itu yang terus menerus ia kumandangkan sambil mengelilingi Pohon besar dengan sangat cepat. Terus berulang-ulang hingga yakin jika memang yang ia cari sudah tidak ada di sana.

“Salahku, ini semua salahku.” Aku mendengarnya menyalahkan dirinya sendiri. Tubuhnya terduduk lemas di ranting Pohon Besar yang paling tinggi.

“Almond!! Apa yang terjadi?!” teriakku sekeras mungkin. Terlalu jauh jarak di antara kami.

Tanpa menjawab ia melayang turun tanpa tenaga, tanpa berusaha menahan badannya saat akhirnya jatuh berdebam pelan di tanah yang mengeras. “Semua hilang. Tidak berbekas, seperti yang telah kukatakan padamu. Edel. Ayah. Ibu. Semua Peri. Tidak ada sama sekali.” Kali ini wajahnya benar-benar frustasi.

Tidak ada.

Kata itu terus menerus terngiang di kepalaku. Tidak ada Peri Hujan. Tidak ada hujan. Seluruh kentang tertidur. Dan Pasukan Ulat akan menyerang dengan mudahnya.

Jadi, apakah setelah 2 hari perjalanan ini segalanya menjadi sia-sia?

Harman Si Pendongeng pernah bilang, “Tidak ada impian yang mudah. Tidak pula ada impian yang terlalu sulit untuk diraih. Semuanya sama. Yang membedakan hanya satu. Siapapun yang dapat menggapai impian mereka, itu adalah mereka yang terus berusaha bahkan saat hati kecilnya berkata tidak. Tidak ada jalan masuk yang tanpa jalan keluar.”

Tanpa sadar pandanganku teralih pada kalung pemberian Erlan, berharap ia ada untuk memberi saran. Lama aku menunduk hingga fokusku kacau dan jatuh ke tanah. Amat dalam dan lama aku menatapnya hingga tersadar dengan sesuatu yang menjadi fokusku.

“Jejak hujan,” aku bergumam. Seketika merasa masih ada harapan.

“Itu semanggi berdaun 4, jejak Edel,” tiba-tiba saja Almond sudah melayang di sampingku.

Maka tanpa buang waktu kami mengikuti jejak itu hingga jauh meninggalkan Pohon Besar. Jauh ke belakang hingga ke deretan tanah tinggi yang aneh.

Tiba-tiba, angin besar datang pada kami dari arah depan, membuat kami berhenti dan membeku. Apa yang kami lihat di sana bukan lagi hanya sekedar mengerikan, namun yang jauh melebihi itu. Kematian.

Mereka semua berwarna hitam. Berkulit transparan, kelihatan licik dan kejam. Dan mata mereka terlihat kelaparan.

“Apa itu?” tanya Almond.

“Aku pernah melihat yang serupa, tapi Erlan berwarna putih. Tidak kah kau juga pernah melihat Kelelawar Hitam?” tanyaku heran. Almond Peri Hujan, dan tidak pernah tau makhluk di penjuru negeri-nya sendiri.

“Aku tidak pernah meninggalkan jurang sejak kabur dari sekolah Peri,” ungkapnya tidak nyaman. Itu bukan pengakuan yang mudah, kuakui.

Hati-hati, kami melangkah mundur menjauhi kerumunan mereka. Terlambat, mereka melihat kami. Hanya dalam hitungan detik suara melengking tinggi terdengar dan kepakan kasar mengikuti. Tidak ada jalan lain selain lari, walau jika itu hanya bisa membuat kami hidup beberapa detik lebih lama.

Tapi justru aku lagi yang kali ini kaget. Saat berbalik untuk kabur, di belakangku berdiri Erlan, entah sejak kapan.

“Bagaimana bisa?”

“Kau membawa kalungku. Itulah mengapa,” jawabnya singkat.

Tidak pernah terpikir olehku jika aku akan terlibat di perang sungguhan seperti sekarang. Dengan makhluk-makhluk hebat yang bukan hanya melawan Pasukan Ulat yang masih sebesar diriku. Tetapi ini berbeda.

Maka sambil berusaha mengindari cakar-cakar besar Kelelawar Hitam aku terus maju ke depan bersama Almond di sebelahku. Aku memang tidak tahu apa yang ada di depan sana, tapi jejak hujan itu masih ada, dan hanya itu yang bisa kuikuti. Pada akhirnya saat kami terengah-engah, yang kami temukan adalah ruang besar dengan semua Peri Hujan terpenjara di tengah, dan lemah.

Ragu, kami tetap berdiri di tempat kami. Seluruh ruangan itu gelap, besar, dan sepertinya penuh jebakan. Satu-satunya cahaya yang ada hanya kunang-kunang kecil yang tersembunyi di tengah para Peri. Jelas sekali mereka memang sengaja menyembunyikannya di sana.

Tidak butuh waktu lama bagi Erlan dan teman-temannya untuk menghabisi semua Pasukan Kelelawar itu. Kemudian dengan sekali sentakan menghancurkan atap ruangan sehingga cahaya sore bisa masuk. Kaget, ternyata masih ada satu Kelelawar di sana. Bertengger di tahtanya yang terbalik.

“Akhirnya kau datang juga Erlan. Tak kusangka kau bisa melepaskan diri dari penjaraku tempo hari. Tapi aku lebih tak menyangka kau mau bersusah payah menyerahkan diri hanya sehari berselang. Kau melemah rupanya,” ucapnya. Suaranya serak menyebalkan. Membuatku ingin melemparkan pedang langsung padanya.

“Itu menurutmu. Aku tidak akan pernah sudi menginjakkan kaki di sini hanya untuk kau perbudak. Kau sombong Ron. Mengira jika kau pantas memiliki derajat tertinggi. Kau salah. Tidak akan ada kehidupan jika Peri Hujan menghilang. Tapi kehidupan akan terus ada meskipun jika kita menghilang. Itulah maksud derajat tertinggi sesungguhnya. Kau hanya tidak mau mengakuinya, walaupun kau sesungguhnya percaya.

“Atau mungkin kau lupa. Para Elang yang lebih tinggi dibanding kita pun tidak pernah mendebat. Itu karena mereka tahu tentang Peri Hujan. Karena mereka memahami segala hal dengan baik. Hanya kau yang menyulut api dan mencoba membinasakan diri sendiri,” Erlan berbicara. Suaranya jauh lebih menenangkan dibanding lawannya. Dia sungguh berwibawa, dan mengerti jelas apa yang ia bicarakan. Kini sedikit demi sedikit seluruh kepingan pertanyaan mulai tersambung di kepalaku. Mulai terlihat jelas.

“Omong kosong! Kau sama denganku, sama-sama menginginkan posisi paling tinggi. Itulah mengapa kau ke sini!” ucapnya kasar dan secepat kilat melemparkan batu pipih dan menancap di kulit transparan Erlan, membuatnya terlihat kesakitan.

Kini Ron terkekeh senang melihat lawannya demikian. Ia terbang berkeliling, dan menikmati erang kesakitan Erlan. Kakinya yang terlihat kejam itu menyambar sebuah batu pipih, dan detik itu juga aku merasa harus melakukan sesuatu.

“Almond! Terbangkan aku!” ucapku setengah memerintah setengah memohon. Dan entah didasari oleh perasaan apa, ia tanpa berpikir panjang menyambarku dan kami terbang ke arah Ron.

“Hah, kalian makhluk bodoh. Minggir sebelum kalian mati.”

“Tidak akan!” suaraku tidak lebih dari sekedar bisikan.

Aku ingat, selalu diajari oleh guru tentang melawan binatang yang terbang. “Sayap mereka tidak akan pernah terlipat, membuat mereka menunjukkan bagian paling vital di dada mereka. Saat mereka menyerang pun hanya bisa memakai kaki. Jadi lemparkanlah pedangmu seperti ini ke arah dadanya, dan jika itu tepat sasaran, berarti lawanmu mati seketika.”

Sambil mengingat kata-kata guru, tanganku mengikuti instruksinya. Melemparkan pedang yang diberikan guru padaku melalui Rowan. Dan saat aku tersadar, yang kudengar hanya suara berdebam berat, suara lengkingan tertahan, lalu hening.

Yang kulihat setelahnya lebih membuatku tercengang. Seketika setelah Ron jatuh terkapar, seluruh Peri Hujan melayang-layang ringan, seakan tidak terjadi apa-apa pada mereka. Banyak di antaranya mengelilingi Erlan, yang lain bergerombol bersama sambil menatap Ron, dan ternyata ada pula yang datang ke arahku. Mereka terlampau indah untuk bisa kutatap begitu lama.

Tapi aku lelah. Rasanya aku hanya ingin tidur sekarang. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa badanku seberat batu, dan mataku tidak bisa melihat apapun selain kegelapan.

to be continued….