3 Little Kids

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ini kisah tentang 3 anak kecil yang sangat berbeda satu sama lain. Amat sangat berbeda hingga tidak ada yang mengira jika sebenarnya mereka bersaudara. Berasal dari orangtua yang sama, dan bahkan kembar 3.

Anak pertama adalah anak yang selalu bahagia. Tidak peduli apapun yang terjadi padanya, ia tidak pernah kehilangan senyum di wajahnya. Segalanya selalu berjalan baik menurutnya, dan tidak pernah ada hal yang terlalu menyulitkan untuknya.

Anak kedua adalah anak yang cengeng. Ketika ia ditimpa masalah, selalu saja diluapkan dengan tangis. Meskipun demikian, ia tetap sama bahagianya dengan anak pertama. Tidak pernah memikirkan hal yang terlalu berat. Hidupnya penuh dengan mimpi yang meskipun menurut orang lain tidak masuk akal, terus menerus ia genggam mimpi-mimpinya itu. Tidak peduli sesulit apapun, mimpi-mimpi selalu menghiasi harinya setiap hari.

Anak ketiga adalah anak yang rasional. Menurutnya, segala yang tidak sesuai logika akan selalu ia lupakan, meski itu dongeng yang selalu dicintai anak pertama, atau mimpi-mimpi indah yang selalu diidamkan anak kedua. Baginya segalanya hanya tentang apa yang ia lihat dan ia dengar. Walau demikian, sama seperti anak pertama dan kedua, ia pun bahagia dengan apa yang ia punya sekarang.

Maka, dengan perbedaan seperti itu ketiganya pun punya teman yang saling berbeda. Kadang mereka tetap main bersama walaupun tidak saling cocok. Terkadang mereka membahas salah satu saudara mereka, walau akhirnya hanya diakhiri dengan pertengkaran.

Dan seperti yang saya katakan di awal, tidak pernah ada yang mengira mereka saudara kembar. Apa kalian berpikir demikian juga?

Nah, hanya itu saja ceritanya. Tapi maksud cerita yang sebenarnya baru akan saya jelaskan.

Anak pertama adalah kita saat kecil, yang tidak pernah memikirkan masalah, hanya terus bermain dan merasa bahagia. Dunia kita penuh dengan rasa percaya pada dongeng dan cerita peri. Penuh dengan cita-cita bahagia anak kecil. Terus seperti itu untuk setiap anak.

Anak kedua adalah saat kita remaja, yang kalau kata orang ada di ‘kegalauan’ menghadapi masa dewasa. Kadang saat kita ditimpa masalah kita hanya bisa menangis, tapi lalu melupakannya dan mencoba mencari kesenangan. Cita-cita kita dan rasa cinta pada dongeng mulai terganti dengan mimpi-mimpi mencari kerja dan berumah tangga. Kadang malah mimpi-mimpi besar terus menerus tumbuh di pikiran. Itulah kita saat itu.

Anak ketiga adalah saat kita dewasa. Saat akhirnya kita tahu apa arti hidup yang sebenarnya. Saat kita tahu ternyata dongeng dan cerita peri itu hanya khayalan. Saat kita tahu tidak semua cerita di buku itu bisa terjadi di dunia nyata. Saat akhirnya kita punya tanggungjawab yang akan selalu mengikat kita. Hingga akhirnya kita lupa apa itu mimpi dan cita-cita.

Ironis kalau menurut saya. Manusia adalah orang yang seperti itu. Berkembang memang, tapi hanya secara pemikiran dan pengetahuan tentang realita. Kebanyakan dari kita akhirnya hanya berpikir tentang realita, tetapi melupakan cita-cita. Padahal cita-cita adalah hal yang membangun kita saat kecil, dan tidak seharusnya kita lupa.

Saya pun kadang menyadari, mungkin inilah yang membuat orangtua tidak pernah cocok dengan kita, atau kadang kita tidak bisa percaya pada mereka. Karena apa yang ada di pikiran kita berbeda. Apa yang kita pikirkan tidak dipikirkan kita di masa kecil atau saat dewasa.

Maka, sejak menyadari itu saya telah belajar banyak tentang diri kita sendiri. Sama seperti cerita itu. Bagaimana cara kita yang berbeda untuk saling menghargai, menyayangi, dan memaklumi. Tidak pernah ada orang yang selalu benar di dunia ini. Kita boleh saja menolak, memprotes, atau mengatakan hal yang kita inginkan, hanya jika kita bisa memberikan penjelasan. Percayalah, jika kita bisa memberikan pengertian, segalanya akan berjalan lancar.

Jadi ingatlah selalu masa lalu kita, dan pikirkan juga tentang masa depan….🙂 keep dreaming friends!