Blood for Life

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ah, akhirnya saya berhasil mendonorkan darah saya kepada seseorang…🙂

Dan tahukah? Itu adalah percobaan ke 7 saya untuk mendonorkan darah, dimana hanya sekali itu yang berhasil, sedangkan 6 percobaan lainnya remains failed.

That’s okay actually.

Nah, yang ingin saya ceritakan di sini adalah tentang donor darah itu sendiri.

Saya dulu mungkin berpikir jika donor darah itu sesuatu yang biasa saja, dan ternyata saya salah. Untunglah petugas yang mengambil darah saya orang yang sangat baik sekali. Seandainya saya lelaki mungkin saya akan jatuh cinta.

Ah, sebernarnya bukan itu yang ingin saya bahas, jadi mari ganti topik ke donor darah dan rumah sakit.

Sudahkah saya bilang saya suka rumah sakit? Ya, saya menyukainya.

Rasanya hanya di rumah sakit saya bisa melihat kehidupan nyata. Kehidupan tanpa kepura-puraan. Bagaimana orang dengan bersemangat mencoba untuk bertahan hidup, dan memaknai kehidupannya selama ini. Bagaimana orang-orang terkasih menjadi jujur pada diri mereka sendiri.

Ya, rumah sakit adalah tempat yang indah, kecuali rasa sakit itu sendiri.

Pun demikian dengan konsep donor darah.

Ketika seseorang memutuskan untuk mendonorkan darahnya, berarti ia juga hidup di dalam diri orang lain.

Kadang saya berpikiran tentang itu. Sebenarnya nyawa itu apa? Seandainya nyawa itu ada di setiap sel tubuh kita, bukannya nantinya darah saya bisa mempunyai pemikiran sendiri? Apakah itu mempengaruhi orang yang saya beri darah?

Ah, saya tidak mengerti. Mungkin saya memang seharusnya memikirkan itu saja.