A Cup of Coffee

by nuzuli ziadatun ni'mah


Aroma kopi itu menguar memenuhi ruangan, membuatmu bergerak-gerak dalam tidurmu.

Kamu suka kopi kan? Selalu membuatku tersenyum senang setiap kali membuatkanmu kopi.

Aku berjalan perlahan mendekati sosokmu yang masih tertidur dengan tenang. Ah, kamu seperti malaikat, selalu bisa membuatku luluh saat menatap wajah lugumu.

Keremangan itu membuat pandangaku tidak fokus, tapi entah bagaimana aku bisa menentukan dimana kamu dengan mudahnya. Ingin rasanya aku membuka tirai kamar, membuat cahaya matahari menyirami wajahmu yang lugu itu. Tapi itu akan membuatmu berkelit dengan tidak nyaman, jadi aku mengurungkan niat itu, dan malah berjongkok di sisimu.

Kamu selalu tampak bahagia saat tidur.

Maka dengan sangat hati-hati aku menyentuh pipimu, mengelusnya menelusuri tulang pipimu yang tegas. Merasa senang karena akhirnya alis matamu bergerak-gerak dan kelopak matamu mulai merespon.

“Sayang…,” gumamku perlahan, membuat suasana itu menjadi sangat menyenangkan.

Dan akhirnya matamu terbuka, dengan perlahan menunjukkan tatapan kosong. Ah, kamu selalu seperti itu setiap bangun tidur.

Lalu kamu berpaling kepadaku, menghirup hawa pagi hari di kamar itu, dan tersenyum saat mendapati aroma kopi yang kamu suka.

Kamu menyentuh tanganku yang masih menempel erat di pipimu. Kembali memejamkan mata lalu mengelus tanganku perlahan. Rasanya aku ingin memelukmu saat itu juga, membuat pagi itu menjadi lebih sempurna.

“Kamu cantik sekali hari ini sayangku…,” ucapnya lembut sambil masih memejamkan mata.

Lalu dengan tangan yang masih bebas, aku menyingkap selimutnya, dan duduk di sudut tempat tidur. Dan detik berikutnya kamu memelukku dengan hangat. Lama, dan hening.

“Kamu masih seperti dulu mas,” ucapku perlahan. Membiarkan jemarimu menggenggam tubuhku erat. Merasakan panas tubuhmu yang perlahan terasa di lapisan kulit, membuatku ikut merasa lebih hangat.

“Jangan katakan itu. Jangan membuatku mengingat masa lalu lebih dalam lagi,” balasnya perlahan. Membuat hatiku bergetar dan mataku mulai mengabur.

“Tak apa, masa lalu kita begitu indah,” jawabku berusaha tenang. Aku bergerak-gerak dalam pelukanmu, membiarkanmu melakukan apapun yang kamu inginkan. “Aku akan baik-baik saja mas, meski operasi itu akan menyakitkanku,” gumamku kemudian.

Dan kamu hanya mendekapku lebih erat, lebih lama dari pagi-pagi sebelumnya. Seakan kamu begitu tidak ingin kehilangan.

“Berjanjilah kamu akan baik-baik saja,” ucapmu sambil mengecup dahiku.

“Iya…,” jawabku perlahan. Semoga…. Aku tidak akan menyalahkan siapapun Mas, meski nantinya kanker ini membunuhku.

Lalu kamu bercerita tentang kita, mendekapku lebih erat setiap kamu merasa khawatir. Membiarkan aroma kopi memenuhi kamar kita, hingga kita terbuai bersama. Hangat dan lama.