Love Affair

by nuzuli ziadatun ni'mah


Pernah tahu rasanya jatuh cinta?

Sepertinya saya belum pernah mengalami hal itu, saya rasa.

Jadi yang selama ini saya ceritakan bukanlah sesuatu yang bisa disebut sebagai ‘jatuh cinta’. Kenapa? Karena saya toh sebenarnya belum tahu apa itu ‘cinta’.

Suasana hati saya sedang buruk sekarang. Tapi bahkan saya tidak tahu penyebabnya sama sekali. Bisa menduga pun tidak.

Aneh bukan, merasa sedih dan tidak tahu penyebabnya. Mungkin hanya perempuan yang akan bisa merasakan hal seperti itu. Sedangkan para lelaki? Fine, mereka akan selalu merasa baik-baik saja, meski terkadang jika terlampau stress banyak yang bisa mereka lakukan–jelas sesuatu yang tidak terduga.

Oke, kembali ke topik pembicaraan awal. Jatuh cinta.

Apa itu sebenarnya? Bisakah kita sendiri yakin jika itu yang sedang kita alami? Bukannya hanya terpesona sesaat dan kemudian tidak tahu apa yang sedang dilakukan?

Dunia ini begitu abstrak. Tidak jelas, bahkan terkadang yang ada di kepala pun sering membohongi kita. Bagi saya sendiri, satu-satunya hal yang bisa saya percayai adalah yang sedang saya kerjakan sekarang. Entah kata hati saya mengatakan apa. Tapi ketika yakin mau melakukannya, hal itulah yang akan tercatat dalam sejarah hidup kita. Sesuatu yang tidak bisa diputar ulang dan akan berdampak di sesuatu yang disebut sebagai ‘masa depan’.

Jadi tentang jatuh cinta sendiri, saya bahkan tidak berani terlalu memikirkannya. Saya takut, mengalaminya. Jadi jika saya sedang suka pada seseorang, itulah yang saya percaya. Karena itu yang akan tercatat di sejarah hidup saya sendiri. Sedangkan yang akan datang nanti? Take it easy. Toh tidak ada yang akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.

Saya sering merasa munafik, membohongi diri sendiri dengan sesuatu hal yang tidak berguna. Bertindak yang tidak pernah terpikirkan dampaknya. Merasa bahwa akan ada pembenaran tentang apa yang saya lakukan.

Saya bahkan sering merasa mampu untuk hidup sendiri. Tidak perlu merasa sedih karena orang lain.

Friendship traumatic.

Entah bagaimana saya sering merasa takut berteman, bersahabat, dan yang paling penting takut jatuh cinta. Alasannya sederhana, dan mungkin banyak juga yang beralasan sama: saya takut kecewa. Tidakkah itu wajar untuk manusia? Takut akan sesuatu yang buruk akan terjadi di kehidupan kita?

Tapi trauma terhadap sesuatu yang disebut ‘pertemanan’? Tidak banyak orang pernah mengalaminya, dan saya salah satu yang pernah mengalami. Karena itu saya begitu takut jika ada yang memperlakukan saya dengan buruk. Saya takut kejadian-kejadian itu akan terulang kembali.

Saya takut kembali mendendam.

Karena itu saya tidak pernah terlalu ingin mencoba, meskipun dengan demikian tidak akan pernah tahu bakal berhasil atau tidak.

nuzulizn