Friendship

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya kembali menulis. Tepat sejam semenjak ada kejadian luar biasa dalam hidup saya.

Oke, mari mulai dengan sebuah nostalgia.

Suatu ketika dalam hidup saya, saya mempunyai seorang teman yang begitu penting pada masa kehidupan saya kala itu. Kami begitu sering bersama, duduk sebangku, dan bahkan sering berkunjung meski jarak rumah kami 3 km dan hanya ada sepeda waktu itu. Tapi itulah kami, pada masanya.

Sedangkan sekarang? Well, kata ‘teman’ ternyata bukan jaminan.

Dimulai sejak kami akhirnya menempuh pendidikan yang berbeda, dia di mana dan saya di mana yang lain, hingga kami pun jarang bertemu. Tidak ada alat komunikasi memadai kecuali internet (dan jujur saja saya merasa berterima kasih pada teknologi itu). Hingga kami pun memutuskan untuk saling bertemu, saling menikmati kembali masa lalu.

Waktu yang ditunggu tiba, dan tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain itu. Lagi-lagi di kala itu.

Tapi mungkin takdir memiliki cara lain untuk membentuk ‘persahabatan’ kami, dan kecelakaan pun menimpa. Itu bukan hal yang terlalu buruk memang. Tapi hal-hal yang terjadi setelahnyalah yang membuat itu buruk. Dan tanpa perlu saya ceritakan detilnya, intinya kami menjadi jarang berkomunikasi, mengunjungi, atau bahkan bertegur sapa.

Nah, cerita ini diakhiri dengan pertemuan saya dengannya hanya satu jam yang lalu. Dan apa yang terjadi?

Saya menyapanya. Dan ia hanya ber-hai tanpa senyum dan berlalu.

Mungkin memang bukan itu yang juga ia inginkan. Tapi radar friendship traumatic saya mengatakan ‘pertemanan’ kami telah berakhir sejak dulu. Dan saya baru sadar barusan. Ironi bukan?

Saya memang bukan teman yang sempurna, sebagaimana semua ‘teman’ di seluruh dunia. Tapi yang bisa saya lakukan hanya berlapang dada, menerima, memahami, dan memaafkan meski kadang tidak pernah benar-benar terlupakan. Terkadang rasa sedih yang mendalam itu datang tiba-tiba dan saya harus pergi mencari tempat aman untuk sekedar membuang air mata yang sudah terlanjur keluar. Atau di lain kesempatan harus dengan paksa menarik seseorang untuk menjadi wadah kepedihan dari sebuah pertemanan.

Bagi saya, tidak ada orang yang akan bisa menjadi teman yang sesungguhkan kecuali keluarga kandung dan pendamping hidup.

Sayangnya (atau mungkin untungnya) kehidupan saya yang paling penting adalah yang ada di sekitar saya saat ini. Untuk itu saya juga harus selalu mempercayai mereka. Ketika saya ada di saat ini hal itulah yang harus saya selesaikan sebaik-baik yang saya bisa. Itu juga alasan yang selalu membuat saya menyapa setiap orang yang saya ingat. Meski terkadang hanya untuk meyakinkan saya jika mereka telah lupa.

nuzulizn