Perspektif

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya melihat. Saya memperhatikan. Saya berpikir. Dan akhirnya mencapai pemahaman.

Setiap manusia punya sudut pandang masing-masing tentang hidup mereka sendiri. Dan saya tentunya juga tidak terkecuali.

Saya telah membaca bagaimana orang-orang di sekitar saya membicarakan tentang dirinya di banyak sosial media. Banyak yang mengumbar setiap detil kegiatan, bahkan sekedar keinginan untuk ke toilet pun diceritakan. Tapi ada juga yang hanya membicarakan tentang pemikiran dan segala bentuk kegiatan di dunia konseptual mereka. Ada pula yang memilih terus bercerita dengan jujur setiap pengalaman hidup. Bahkan tak jarang ada yang memiliki akun sosial media hanya untuk berkeluh kesah semata.

Semua ada jatahnya masing-masing untuk mereka sendiri.

Sedangkan saya? Apa yang saya lakukan?

Saya mungkin juga melakukan salah satu kegiatan itu, atau bahkan semua kegiatan itu dengan intensitas yang entah. Namun bagian yang paling saya suka dari sosial media adalah ‘membaca hidup’ orang lain.

Tidak mudah bukan, menyingkirkan rasa iri di dalam hati, yang meski ingin ditepis jauh tetapi selalu bisa berhasil kembali. Seakan-akan dia adalah bola basket yang daya untuk kembalinya justru lebih besar dari yang diduga. Dan saya begitu kesulitan untuk mengendalikannya agar tidak menampar muka.

Maka dengan belajar dari banyak orang tentang hidup mereka, saya pun mulai menghargai hidup saya sendiri, sedikit demi sedikit. Benar yang dikatakan teman saya, hidup kami cukup sempurna dengan apa yang kami miliki. Karena toh hidup tidak akan pernah sama untuk siapapun. Sesuatu bernama ‘takdir’ memiliki kadar yang sama untuk masing-masing orang.

Jika orang bisa berbahagia dengan hidupnya di kota dengan segala kemudahan dan jaringan, di seberang daratan ada orang yang lebih bahagia hanya dengan melihat terumbu karang tumbuh dan berkembang. Atau di ketinggian bumi yang lain ada orang yang begitu bahagia hanya dengan melihat cahaya pertama di hari itu dalam keadaan dingin yang menyengat. Ya, mereka memiliki kebahagiaan yang tidak bisa dirasakan orang lain.

Tapi manusia memiliki cara berbagi yang indah, yaitu dengan bercerita, baik dengan tulisan maupun ucapan, dengan surat maupun email, dengan buku ataupun blog seperti ini. Dan yang perlu dilakukan manusia lain hanya menghargai setiap kisah hidup itu.

Tidak perlu merasa iri berlebih, karena siklus hidup itu seperti lingkaran. Rasa iri itu bisa ditepis dengan kelapangdadaan. Sederhana. Begitulah seharusnya hidup manusia.

Dengan mengatakan ini, bukan berarti saya tidak pernah merasa iri. Saya pun merasakannya sekarang, karena mungkin belum menemukan apa yang membuat saya seorang saya. Tapi saya merasa tidak perlu terburu-buru. Hidup cukup untuk bisa menunggu dan ditemukan. Karena hidup hanya bisa dirasakan sempurna setelah melalui ketidaksempurnaan.

nuzulizn