Dunia Lain

by nuzuli ziadatun ni'mah


Akhir-akhir ini saya sedang menikmati bercengkerama dengan makhluk-makhluk di dunia konseptual saya, dimana larangan dan aturan hanyalah omong kosong.

Semenjak kegiatan ke-bumi-an saya terhenti sebulanan yang lalu, kegiatan di dunia konseptual saya semakin berkembang pesat setiap harinya. Meski tentunya selalu berpindah-pindah antar dataran-lautan-awan-ketiadaan dengan kecepatan yang tidak konstan dan tidak tentu, tetapi setiap tripnya selalu menyenangkan untuk saya.

Tau kan kalau melamun itu hal paling menyenangkan?

Jadi begitulah yang saya lakukan. Membahagiakan diri sendiri dengan bercerita kepada diri sendiri, tertawa sendiri, bahkan merasa sedih sendiri. Bukannya saya sedang melarikan diri dari aktivitas kebumian yang merepotkan ini, tetapi dunia konseptual tidak pernah berbatas. Tidak perlu tatanan tertentu untuk membuatnya tetap hidup. Tidak perlu berpikir akan cacian dan batasan akan ide dan konsep. Bahkan tidak perlu memikirkan makanan.

Saya memang sedang memuja dunia konseptual saya. Terkadang saya bahkan menganggap itu lebih penting dibanding apa yang saya lihat di depan saya. Tapi juga di suatu waktu semua itu terasa tidak berguna.

Ah, mari tinggalkan itu sejenak….

Sebenarnya saya ingin kembali bercerita tentang sesuatu. Kali ini berkaitan dengan ilmu, profesi, dan lagi-lagi obsesi.

Oke, dimulai dengan ilmu. Apa itu ilmu?

Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.[1] Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.[2]

— wikipedia

Itu menurut Profesor Wikipedia yang terhormat. Sedangkan yang dipahami sebagian besar orang sekarang ya ilmu itu yang kita pelajari di bangku sekolah, beberapa di luar kelas, dan beberapa lain ditemukan di perpustakaan.

Ilmu tak ubahnya sesuatu yang bisa diberikan dan diterima dengan mudahnya. Padahal mungkin benar seperti yang dikatakan kakak angkatan saya dalam blognya (here) jika ilmu harus memenuhi 3 aspek:

  1. Pengetahuan
  2. Pemahaman
  3. Perubahan

Seringnya, dalam menerima ilmu banyak yang hanya sekedar melalui tahap pertama, yaitu pengetahuan. Sekedar menerima dan bisa menceritakan ulang kepada orang lain.

Sedangkan pemahaman?

Seharusnya ketika sudah melalui tahap pengetahuan, sampailah pada tahap yang kemudian menjadi begitu sulit. Memahami ilmu. Memahami bukan hanya sekedar bisa menjelaskan, tapi tahu 5W1H, dan bahkan banyak dari ilmu yang saya pelajari belum lepas dari poin kedua ini.

Terus perubahan itu apa?

Perubahan itu datang bersamaan dengan bergantinya hari, berganti pemikiran, berpindah ke dunia konseptual. Kemudian gagasan-gagasan brilian bermunculan dan diekspor dari dunia konseptual yang menyenangkan. Mungkin ditolak, mungkin juga diterima, sehingga ia menjadi bagian dari ilmu. Menjadi bagian dari sejarah keilmuan, dan menjadi pengetahuan baru.

Lalu siklus itu akan dimulai kembali. Tentunya saya tidak akan membahas terlalu jauh tentang pandangan saya pada ilmu. Karena toh saya bukan orang yang bisa menjelaskan sebaik orang lain. Cukup demikian dari saya.

Nah, berangkat dari paragraf-paragraf di atas, mari kita membahas ke bahasan selanjutnya, yaitu profesi.

Mungkin saya terlalu muluk atau gimana, tapi saya adalah pemuja ilmu. Yang seperti saya bilang di awal, akhirnya berakhir menjadi obsesi. Perlahan, saya berusaha dengan keras merangkum ilmu dunia untuk dikaitkan dengan teratur atau justru dibiarkan berantakan di dunia konseptual saya. Untuk kemudian saya nikmati sebagai sesuatu yang tidak terbatas.

Saya dulu begitu memuja tokoh Sherlock Holmes dengan kemampuannya di berbagai bidang ilmu dengan kadar yang mendukung hidupnya sepenuhnya. Tapi kemudian saya menyadari suatu kesalahan kecil. Bukankah harusnya saya memuja pengarangnya? Jadi akhirnya saya memuja keduanya. Pengarangnya dengan cara ia bercerita dan mengungkapkan gagasan, dan tokoh Holmes dengan kehidupannya.

Begitu saya masuk ke dunia kuliah yang sedikit lebih serius, amat sangat banyak hal yang akhirnya harus terpaksa ikut saya pikirkan. Saya jelas tidak bisa hanya selalu bersenang-senang dengan dunia saya sendiri. Karena itulah saya membaca, berdebat, dan akhirnya menulis.

Entah memang seharusnya atau tidak, akhirnya pemikiran tentang profesi menggelayuti saya menjelang tahun ketiga saya di kampus. Mungkinkah saya benar-benar jadi arsitek? Terkadang bahkan saya bermaksud tidak akan berhenti pada satu jenis pekerjaan saja meski saya kuliah di Arsitektur. Coba pikir, bukankah menjadi barista, tukang bunga, penulis, pelukis, arsitek, guru, apapun, atau bahkan sopir truk Fuso akan sangat menyenangkan untuk dicoba? Saya begitu terobsesi pada hal-hal yang dianggap aneh dan tidak biasa. Saya begitu mengagumi orang yang bekerja menjadi koki, tukang kue, tukang pos, atau apapun yang dianggap remeh. Padahal bahkan seorang supir taksi pun memiliki kebahagiaan sendiri.

Yah, walaupun tidak dipungkiri jika kebutuhan manusia berbeda. Ada yang merasa sangat butuh uang, ada pula yang mau melakukan apapun hanya demi menjalani kesenangannya tanpa diganggu.

Lalu, mana yang akhirnya saya pilih? Saya akan tetap memilih semuanya. Bukankah ilmu sama tidak terbatasnya dengan dunia konseptual? Jadi berbahagialah karena memiliki ilmu dan mimpi.

nuzulizn